Mohon tunggu...
kholil rokhman
kholil rokhman Mohon Tunggu... IG di kholil.kutipan

Melupakan akun lama yang bermasalah

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Ketika Krisna Membangun Kecurangan yang Logis untuk Kemenangan

26 Maret 2020   08:51 Diperbarui: 26 Maret 2020   08:59 35 2 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ketika Krisna Membangun Kecurangan yang Logis untuk Kemenangan
Tokoh Krisna versi India dalam miniseri Mahabharata. www.india-forums.com dipublikasikan bangsaonline.com

Krisna adalah tokoh sentral dari epos Mahabharata. Dia berada di pihak yang benar, yakni Pandawa. Maka, sudah barang tentu bahwa Krisna yang penjelmaan Dewa Wisnu itu adalah tokoh yang benar. Saat perang Baratayuda, Krisna hanya jadi sais kereta bagi Arjuna.

Layaknya orang atau pihak yang benar Krisna wajarnya juga melakukan semuanya dalam peperangan dengan cara-cara benar, apalagi dia jelmaan Dewa Wisnu. Namun, Krisna yang berada di balik layar itu menyarankan siasat dan kecurangan agar Pandawa mendapatkan kemenangan atas Kurawa di Padang Kurusetra.

Salah satu siasat adalah untuk membunuh Durna. Caranya dengan "berbohong" bahwa Aswatama telah meninggal. Ya, Aswatama adalah anak tercinta Durna. Tapi, sebenarnya yang dibunuh adalah gajah yang bernama Aswatama. Durna tertipu dan dia rela mati karena mendengar kabar bahwa Aswatama telah tewas di tangan Bima. Padahal, sekali lagi, yang dibunuh Bima adalah gajah yang bernama Aswatana. Itu adalah skenario yang dibuat Krisna.

Satu kecurangan yang dilakukan Krisna adalah kala pertempuran terakhir antara Bima dengan Duryudana. Saat itu, ada aturan bahwa tak boleh memukul atau menghantam paha dalam laga antarpemain gada tersebut. Namun, atas saran Krisna, Bima pun memukul paha Duryudana yang sudah sempoyongan. Duryudana tewas dan kalah. Bima menang dengan noda kecurangan.

Lalu, karena kecurangan itu, Baladewa (kakak dari Krisna) marah besar pada Bima. Bima pun sudah siap menerima sanksi dari Baladewa. Hanya saja, Krisna membela dengan dalih bahwa ketika Duryudana selama ini melakukan pelanggaran, tak pernah mendapatkan sanksinya. Sementara, ketika Bima melakukan satu pelanggaran dalam peperangan, malah diancam dengan sanksi yang berat.

Begitulah salah satu cerita Krisna dalam Mahabharata. Saya tentu tak akan mengatakan bahwa kemenangan boleh dengan kecurangan. Kemenangan ya kemenangan yang dilakukan dengan fair. Namun, saya hanya ingin memotret bahwa di masa lalu pun ada usaha usaha pihak benar untuk curang agar mendapatkan kemenangan. Curang itu dijadikan usaha untuk menyelamatkan kemanusiaan.

Sekali lagi, saya tak ingin mengatakan bahwa kecurangan boleh dilakukan. Tidak, sama sekali tidak. Saya hanya ingin memberi gambaran pribadi bahwa cara cara curang itu ternyata  bisa dilandasi argumentasi yang rasional seperti yang diargumentasikan Krisna ketika meminta Bima curang. Logika, rasio dan sejenisnya, ternyata memang bisa jadi senjata untuk melogikakan kecurangan.

Lalu, sekarang bayangkan saja, jika orang orang yang jahat itu juga membuat argumentasi rasional setiap salah tindakan. Bayangkan, jika orang-orang pandai lebih berhimpun ke arah mereka mereka yang jahat, yang membangun argumentasi kokoh dan kuat, bahkan untuk merealisasikan kejahatan.

Maka kenapa kemudian pendidikan itu penting. Baik pendidikan formal atau bukan. Karena pendidikan itu akan ikut membangun logika, rasio. Perilaku yang dilandasi logika dan rasio, akan lebih diterima di dunia yang modern ini. Nah, akan sangat mengerikan sekali jika orang-orang baik tersingkirkan karena kurang pendidikan. Mengerikan sekali ketika orang baik tak bisa ikut bertarung karena tak memiliki pendidikan yang memadai.

Ketika orang orang baik itu tersingkir, maka logika hanya dimiliki oleh mereka yang curang atau mereka yang bisa dibeli. Logika dan rasio itu, kemudian dijadikan alat untuk mengokohkan kuasa modal, kuasa politik, dan bahkan kuasa budayam Jika itu terjadi, maka binasalah kemanusiaan. Binasalah....

Saya hanya membayangkan, anak anak yang dididik secara baik sedari kecil itu, kemudian mendapatkan pendidikan yang layak. Mereka bisa mengenyam banyak pengetahuan dan ilmu yang akan bermanfaat bagi kemanusiaan. Mereka membangun logika untuk memperbaiki lingkungan, untuk membuat sungai bisa relatif bersih. Anak anak kita itu kemudian membangun logika untuk melandasi kenapa sebagian lahan harus tetap hijau. Anak anak kita itu membangun argumentasi bahwa segala macam pelicin negatif itu harus dipunahkan.

Logika itu penting untuk melandasi nilai nilai kemanusiaan. Jangan sampai kemudian anak anak yang baik itu tersingkirkan karena kuasa modal dan politik. Kemudian gurita logika itu hanya dimiliki oleh mereka mereka kaum Kurawa.

Apakah argumentasi tulisan ini terlalu bermimpi untuk dipasangkan pada realitas negeri ini? Tak tahulah. (*)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x