Mohon tunggu...
Ikrom Zain
Ikrom Zain Mohon Tunggu... Tutor - Content writer - Teacher

Hanya seorang pribadi yang suka menulis | Tulisan lain bisa dibaca di www.ikromzain.com

Selanjutnya

Tutup

Halo Lokal Pilihan

Tepatkah Kebijakan Mematikan Lampu Jalan di Kota Malang untuk Menekan Mobilitas Warga saat PPKM Darurat?

6 Juli 2021   06:54 Diperbarui: 6 Juli 2021   06:57 537 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tepatkah Kebijakan Mematikan Lampu Jalan di Kota Malang untuk Menekan Mobilitas Warga saat PPKM Darurat?
Kondisi jalan yang gelap di Kota Malang saat PPKM darurat. - Dokumen Pribadi

Sejak pemberlakuan PPKM Darurat pada Sabtu (3/7/2020), Pemerintah Kota Malang mematikan seluruh Penerangan Jalan Umum (PJU) mulai pukul 20.00 WIB.

Menurut Wali Kota Malang, Sutiaji, pemadaman lampu jalan tersebut bertujuan untuk mewajibkan semua penduduk Kota Malang berada di rumah agar PPKM Darurat berjalan dengan baik. Semua warga bisa patuh dengan keputusan yang dijalankan oleh pemerintah sehingga kasus covid-19 tak lagi naik. Tidak hanya itu, pemadaman lampu jalan ini juga merupakan sebagai kearifan lokal dalam menangani wabah penyakit yang tak kunjung selesai ini.

Sebelum kebijakan ini dilakukan, Wali Kota Malang meminta kepada jajarannya agar memastikan keamanan jalan saat pemadaman dilakukan. Semisal, memastikan tak ada jalan berlubang sehingga bisa menyebabkan kecelakaan jika warga kota harus ada yang keluar.

Namun, tanpa menunggu waktu lama, sejak hari Sabtu malam, suasana Kota Malang sudah gelap gulita. Lampu-lampu jalan benar-benar mulai diadamkan tepat pukul 8 malam. Pemadaman ini hampir merata ke seluruh kota. Kebetulan, saya saat itu sedang mencari persediaan tabung oksigen untuk paman saya yang sedang menjalani isolasi mandiri akibat terkena covid-19. Saat itu pula saya juga berpapasan dengan warga yang juga sedang mencari tabung oksigen yang kian hari makin menipis tersebut.

Lantaran saya memiliki cacat mata miopi, tentu pemadaman ini cukup berdampak besar pada saya. Saya tak bisa memacu kendaraan dengan cepat. Jarak pandang sangat pendek. 

Belum lagi, ternyata jalan berlubang masih saya jumpai di beberapa titik, semisal di Jalan Galunggung dan Jalan Raya Langsep. Di tengah kegelapan tersebut, keluarga saya yang cemas karena saturasi oksigen paman saya turun di bawah 90. Sungguh, mencari tabung oksigen dalam kegelapan jalan semacam itu adalah karunia tiada tara yang saya alami di Kota Malang. Untunglah, saya dan beberapa anggota keluarga lain sudah berhasil mendapatkan tabung okisgen dan kini kondisi paman saya sudah stabil.

Pada hari selanjutnya, saya membaca berita bahwa terjadi kecelakaan yang menimpa seorang pengendara motor di Jembatan Suhat Malang. Pengendara tersebut tak menguasai medan jalan karena pemadaman lampu jalan sehingga jatuh ke dasar jembatan sedalam 7 meter tersebut. Meski kecelakaan ini tidak murni akibat pemadaman lampu jalan, tetap saja kebijakan pemadaman PJU ini menimbulkan pro dan kontra di masyarakat Malang.

Instagram Wali Kota Malang pun penuh dengan kritik dan hujatan mengenai kebijakan tersebut. Banyak warga yang merasakebijakan tersebut sangat membahayakan pengguna jalan karena pengelihatan mata akan terbatas. 

Orang yang akan menyeberang jalan pun akan kesulitan dan was-was untuk melakukannya. 

Ditambah lagi, kondisi jalan di Malang masih banyak yang berlubang. Tidak hanya itu, banyak sekali persimpangan jalan yang berada di sekitar tikungan. Jadi, ketika warga akan berbelok ke persimpangan tersebut tentu membutuhkan penerangan yang cukup.

Masih banyaknya warga yang beraktivitas di malam hari juga menjadi alasan penolakan warga. Masih banyak warga yang baru pulang berjualan setelah harus tutup pukul 8 malam. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN