Mohon tunggu...
Ikrom Zain
Ikrom Zain Mohon Tunggu... Content writer - Teacher

Hanya seorang pribadi yang suka menulis | Tulisan lain bisa dibaca di www.ikromzain.com

Selanjutnya

Tutup

Transportasi Artikel Utama

KA Tumapel yang Semakin Sepi Ditinggal oleh Penumpangnya

20 Januari 2020   08:11 Diperbarui: 20 Januari 2020   10:00 2435 13 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
KA Tumapel yang Semakin Sepi Ditinggal oleh Penumpangnya
Para penumpang KA Tumapel turun di Stasiun Malang - Dokumen Pribadi

Sejak perubahan Gapeka per 1 Desember 2019 kemarin, ada perubahan drastis yang terjadi pada beberapa perjalanan kereta api lokal.

Salah satunya adalah KA Tumapel. KA relasi Surabaya Gubeng-Malang PP ini merupakan KA lokal terminasi yang berangkat paling pagi dari Malang dan paling malam dari Surabaya. Biasanya, KA ini menjadi pengapesan -- opsi terakhir --  bagi penglaju Malang-Surabaya yang tidak dapat tiket pada KA Penataran.

Saya menggunakan kereta ini jika berniat akan transit lama di Surabaya. Mampir ke rumah teman dulu, mandi, menonton film di bioskop, atau sekadar jalan-jalan di Mal dalam waktu lama. Dari KA Logawa yang sampai di Surabaya sekitar jam 3 sore, ada waktu sekitar 5 jam untuk bersantai sejenak.

Sebelum Gapeka baru, saya harus bersiap di stasiun paling tidak pukul setengah 8 malam. Kereta akan berangkat pukul 8 kurang 10 menit dan sampai di Malang sekitar pukul setengah 11 malam. Lumayanlah bagi saya masih wajar karena masih ada waktu untuk istirahat lebih panjang di Malang.

Namun, selepas Gapeka baru yang berlaku sejak awal Desember kemarin, KA Tumapel yang menjadi andalan kedua saya harus berangkat lebih malam. Tepatnya, pukul setengah sembilan lebih tujuh menit, kereta baru lepas dari Stasiun Surabaya Gubeng. 

Tak hanya itu, waktu tempuh kereta ini jauh lebih lama. Jika biasanya hanya perlu menempuh waktu sekitar 2 jam setengah, kini menjadi sekitar 3 jam lebih.

Makanya, kalau masih memungkinkan, saya lebih memilih naik bus Surabaya-Malang, entah dengan kelas apapun walau harus siap bertarung sampai titik darah penghabisan dengan penumpang lain di Terminal Purabaya. Maklum, saya hampir selalu pulang pada hari Sabtu saat puncak arus balik para pekerja asal Malang yang mencari nafkah di Surabaya.

Terlebih, tol Pandaan-Malang yang telah tersambung hingga Singosari membuat waktu tempuh lebih cepat jika saya memilih bus Patas. Meski demikian, kalau benar-benar tidak terburu-buru, saya masih setia dengan kereta ini. Alasannya simpel. Harga tiketnya sangat murah hanya 10.000 rupiah saja. Saya juga masih lebih memilih menghindari "keganasan" para calon penumpang bus Surabaya-Malang yang berebut bus  untuk segera pulang. Intinya, saya ingin woles saja.

Uniknya, dengan adanya Gapeka yang baru, saya melihat antusiasme para penumpang KA ini malah semakin menurun. Dulu, saya sering tidak mendapatkan tiket tempat duduk. Saya harus rela duduk di dekat bordess kereta dan baru bisa dapat duduk di Stasiun Bangil. Saat banyak penumpang yang turun.

Kini, saya malah bisa mendapatkan kelonggaran dari tempat duduk yang saya tumpangi lantaran tak ada satu pun penumpang yang ada di dekat saya. Padahal, saya memilih di kereta nomor 3 dan 4 yang sering mendapatkan peron di stasiun dan paling mudah untuk naik turun. 

Kondisi kabin kereta yang sepi. Dokumen Pribadi
Kondisi kabin kereta yang sepi. Dokumen Pribadi
Saat kereta berjalan dari Stasiun Surabaya Gubeng, saya kira akan banyak penumpang yang naik di Stasiun Wonokromo. Ternyata pikiran saya salah. Di stasiun itu juga tak banyak penumpang yang naik. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN