Mohon tunggu...
Ikrom Zain
Ikrom Zain Mohon Tunggu... Content writer - Teacher

Hanya seorang pribadi yang suka menulis. Tulisan lain bisa dibaca di www.ikromzain.com

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Museum Keris Nusantara Solo yang Oke Punya

9 November 2019   08:06 Diperbarui: 9 November 2019   18:48 0 7 0 Mohon Tunggu...
Museum Keris Nusantara Solo yang Oke Punya
Bagian depan Museum Keris Nusantara Solo. - Dokumen Pribadi

Gerakan untuk sadar akan kunjungan ke museum sejatinya telah berlangsung cukup lama.

Upaya pemerintah untuk menjadikan museum sebagai destinasi wisata yang layak dikunjungi semakin gencar. Beberapa rekan blogger dan buzzer tak henti-hentinya memberikan tulisan dan tagar agar masyarakat luas mau meluangkan waktu liburan ke museum. Sayang, upaya ini belum membuahkan hasil yang maksimal. Jumlah kunjungan ke museum masih cukup rendah dan itupun didominasi oleh para pelajar dan mahasiswa untuk kegiatan tugas mereka. Jika ada wisatawan yang memang berniat ke museum, rasanya hal itu masih jarang.

Padahal, banyak museum di Indonesia sudah mulai berbenah dan beberapa diantaranya bahkan baru dibangun. Seperti Museum Keris Nusantara di Surakarta yang baru saya ketahui keberadannya saat saya berencana menuju penginapan dari arah Stadion Sriwedari. Uniknya, museum ini berada tepat di persimpangan jalan menuju sebuah toko buku bekas. Jika dari seberang jalan, bangunannya tak terlalu kelihatan.

Menjawab rasa penasaran, saya pun memutuskan mencoba untuk masuk walau barang bawaan saya sangat banyak. Apa yang digencarkan oleh para buzzer ternyata benar. Museum ini ternyata bagus dan sesuai dengan tagar yang mereka kampanyekan. Ruangan yang ber-AC langsung menyambut saya. Menuju loket tiket masuk, tiga orang menyapa saya dan meminta saya membayar karcis sebesar 7.500 rupiah. Harga ini bagi saya cukup sedang dibandingan museum lain. Sebandinglah dengan segarnya udara yang saya rasakan.

Saya harus menitipkan tas dulu di loker yang dijaga siswa-siswi SMK yang sedang magang. Selepas beban yang memenuhi pundak saya sementara terenyahkan, langkah kaki saya pun siap menjelajah museum ini jengkal demi jengkal.

Sebenarnya, museum ini menempati lahan yang tak terlalu luas. Persepsi ini bisa saya ambil karena tak ada halaman yang lapang seperti museum lain. Walau sempit, museum ini memiliki empat buah lantai yang terhubung dengan anak tangga dan lift. Nah inilah yang menjadikannya  spesial karena baru kali ini saya menemukan museum dengan lift yang masih baru. Sebelum naik, saya melihat sebentar koleksi di lantai 1. Bagian yang disebut sebagai Wedharing Wacana ini tak memuat banyak koleksi karena dijadikan sebagai ruang administrasi. Hanya sebuah informasi mengenai perkembangan ilmu seni keris modern yang menarik perhatian saya.

Ilmu ini menjadi penting lantaran keris adalah salah satu warisan luhur bangsa ini yang sangat sayang jika tak lagi diminati oleh penerus bangsa dan tak lagi dikembangkan. Salah satu tokoh yang cukup berjasa dalam perkembangan ilmu seni keris modern ini adalah KGPH Hadiwidjojo atau lebih dikenal dengan Panembahan Hadiwidjojo. Beliau yang merupakan putra Pakubuwana X sangat menaruh perhatian pada ilmu ini. Melalui kiprahnya, keris banyak diseminarkan di berbagai event internasional sejak tahuan 1960an. Aneka pameran keris pun banyak diinisiasi oleh beliau yang juga menjadi inisiator kerisologi -- ilmu yang mempelajari tentang keris.

Beberapa koleksi keris - Dokumen Pribadi
Beberapa koleksi keris - Dokumen Pribadi
Salah satu ilmu kerisologi yang saya dapat di lantai 1 ini adalah mengenai pamor atau pendar keris. Pendar ini menjadi salah satu hal yang menjadi perhatian para pecinta keris. Nah yang unik, adanya pamor ini sebenarnya berasal dari sebuah cacat campuran logam saat pembuatan keris berlangsung. Di dalam ilmu kimia, ada istilah yang disebut sebagai cacat kristal. Cacat ini timbul akibat proses pembuatan keris dari baja yang belum sempurna pada masa lampau. Akibatnya, beberapa logam lain -- terutama logam transisi dalam -- seperti krom, tembaga, vanadium, dan lainnya ikut di dalam campuran kristal. Keris pun akan berpendar sesuai logam pengotor di dalamnya. Inilah yang menjadi khazanah  budaya keris yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.

Ada lit yang memudahkan pengunjung. - Dokumen Pribadi
Ada lit yang memudahkan pengunjung. - Dokumen Pribadi
Tak banyak yang saya dapat lagi di lantai ini sehingga saya memutuskan naik ke lantai 2 atau disebut Purwaning Wacana. Lantai ini berisi ruang bermain anak, ruang pameran, restorasi, dan perpustakaan. Selepas keluar dari lift, saya disambut dengan replka gim pertarungan dua ksatria yang memegang keris. Bisa jadi, replika ini menjadi salah satu cara agar generasi muda bisa kembali tertarik kepada keris daripada senjata modern yang kini merajalela dalam permainan online. Untuk itu, pengembangan lebih lanjut mengenai aplikasi ini sangat dibutuhkan.

Replika gim tentang keris - Dokumen Pribadi
Replika gim tentang keris - Dokumen Pribadi
Tak jauh dari replika tadi, sebuah perpusatakaan mini pun berdiri. Hanya ada satu orang yang sedang berada di perpusatakaan tersebut. Padahal, aneka koleksi buku -- baik seputar keris maupun bukan -- tertata rapi di rak yang disediakan. Saya bahkan suka dengan konsep penataan tempat duduk bagi pembaca yang terlihat minimalis tetapi terlihat lega. Jadi, saya hanya melihat-lihat sekilas koleksi buku yang ternyata banyak yang baru saya temukan di sana. Salah satu koleksi yang menarik perhatian saya adalah buku-buku mengenai ekskavasi benda-benda purbakala -- dengan keris di dalamnya -- yang memuat prosedur dan hasil penelitian mengenai situs masa lalu.

Perpustakaan mini yang sepi. - Dokumen Pribadi
Perpustakaan mini yang sepi. - Dokumen Pribadi
Beranjak ke lantai tiga atau yang disebut dengan Cipta Adiluhung, hidung saya membaui bauan yang tidak asing. Seperti bau kemenyan yang digunakan saat pertunjukan jaran kepang atau bantengan. Dalam hati saya menyangsikan apakah di museum yang terbilang baru ini ada bau-bau semacam itu. Baru melangkah beberapa meter, saya menemukan jawabannya. Bau itu memang berasal dari kemenyan yang dibakar di dekat patung diorama para pembuat keris.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x