Ikrom Zain
Ikrom Zain Tutor

Hanya seorang pribadi yang suka menulis. Tulisan lain bisa dibaca di www.ikromzain.com

Selanjutnya

Tutup

Atletik Pilihan

Spirit Peradaban Mataram Kuno yang Terbawa dalam Mandiri Jogja Marathon

9 Mei 2019   09:22 Diperbarui: 9 Mei 2019   09:42 69 2 1
Spirit Peradaban Mataram Kuno yang Terbawa dalam Mandiri Jogja Marathon
Peserta Mandiri Jogja Marathon. - Liputan 6

Seakan berlari melintasi zaman, saya masih bersemangat ketika mulai melangkahkan kaki menuju beberapa candi di sekitar Prambanan beberapa tahun silam.

Teriknya panas kala itu membuat saya sempat akan berpaling sejenak dan memutuskan untuk berhenti. Rasa dahaga yang melanda, menjadi teman yang semakin menegaskan tekad bahwa sudah seharusnya saya tak meneruskan perjalanan ini. Kala itu, saya berada pada jalan diantara Candi Prambanan dan Candi Plaosan. Nafas saya sudah tersengal apalagi sebelumnya saya sudah berjalan kaki mengelilingi kompleks Candi Prambanan.

Candi Sewu, Candi Bubrah, dan Candi Lumbun telah berhasil saya selesaikan. Tinggal Candi Plaosan dan Candi Kedulan yang menunggu untuk ditapaki. Di ujung persimpangan Jalan Bugisan Raya dan Jalan Prambanan, saya menghela nafas sejenak. Sebuah tulisan besar terpampang berisi informasi Lomba Mandiri Jogja Marathon 2017.  Tepat di ujung persimpangan jalan tersebut.

Saya melihat dengan saksama. Di sana, tertulis rute lomba lari Marathon dengan beberapa nomor yang dipertandingkan. Saya cermati dan mulai membayangkan betapa asyiknya bisa mengikuti lomba lari tersebut meski hanya yang nomor pendek, yakni 5 K.

Lomba ini pasti seru. Tahun ini, kali ketiga lomba tersebut, yang bertajuk Mandiri Jogja Marathon 2019 masih digelar dengan antusiasme yang cukup tinggi. Antusiasme yang saya rasakan juga setelah melihat pengumuman lomba tersebut di berbagai media. Saya terimbas antusias untuk menjelajahi peninggalan sejarah di sekitar Prambanan.

Inilah yang bisa saya sebut sebagai efek domino dari pergelaran Mandiri Jogja Marathon 2019 ini. Ketika lomba Marathon tak sekadar lomba biasa, namun memberikan dampak yang cukup signifikan bagi saya, yang notabene pengunjung wisata, bagi masyarakat sekitar, daerah yang dilintasi, hingga pada pelari yang melintasi jalur lomba yang telah ditentukan. Dampak tersebut adalah spirit yang bisa diambil dari peradaban Mataram Kuno, wilayah yang kini menjadi gelaran event tersebut.

Jangan lagi menengok ke belakang, teruslah berlari mencari garis finis!

Kalimat penyemangat yang sering diteriakkan oleh para pelari untuk tetap konsisten dalam berlari rasanya menggema di jalur yang saya lalui. Gema yang sama dengan spirit kehidupan yang saya tapaki dari peninggalan peradaban Mataram.

Spirit untuk tetap hidup, bertahan diri dalam berbagai kondisi, dan bisa pulih dari bencana gunung berapi yang mereka alami. Ya, spirit untuk mencapai garis finis dan itulah yang akan dirasakan para pelari sembari mengenang kembali kejayaan Kerajaan Mataram Kuno. Ketika mereka sudah mulai kelelahan, mulai dehidrasi, dan ada pikiran untuk mengakhiri perjuangan mereka, pikiran itu akan bisa terenyahkan.

Dua turis asal Medan yang bersama saya berjalan kaki melintasi batas Prambanan Jogja dan Prambanan Klaten. Meski capek, tidak menoleh ke belakang adalah kunci mencapai tujuan. - Dokpri.
Dua turis asal Medan yang bersama saya berjalan kaki melintasi batas Prambanan Jogja dan Prambanan Klaten. Meski capek, tidak menoleh ke belakang adalah kunci mencapai tujuan. - Dokpri.

Atur stamina dan manajemen diri

Marathon bukan lari sprint. Ia butuh pengaturan diri agar tak semua energi habis sebelum garis finish usai. Ada waktunya saat untuk menghemat tenaga, ada waktunya saat mempercepat langkah untuk mengejar waktu. Spirit inilah yang juga menjadi spirit dari peradaban Mataram Kuno yang tergambar jelas di sekitar lokasi lomba.

Sebuah peradaban yang dengan uniknya bisa melakukan manajemen untuk mundur sejenak dari tempatnya berkembang. Beralih menuju tempat baru yang dirasa aman dan nyaman. Kehidupan yang memiliki fase naik turun menjadi spirit dari perlombaan marathon ini.

Persiapan sebelum menghadapi tantangan

Tak mudah untuk menaklukkan rute Mandiri Jogja Marathon. Terlebih, jika tantangan itu cukup berat semisal mengambil nomor lomba 25K. Namun, tak mudah bukan berarti tak mungkin untuk bisa menaklukkannya. Spirit itu pula yang dicoba untuk diketengahkan dalam gelaran ini. Mengambil spirit masyarakat Mataram Kuno dalam mempersiapkan adanya bencana dan berbagai tantangan kehidupan.

Candi Sewu yang dilintasi peserta Mandiri Jogja Marathon. - Dokpri
Candi Sewu yang dilintasi peserta Mandiri Jogja Marathon. - Dokpri

Sebuah literatur menyatakan, sebuah peripih ditemukan pada proses ekskavasi Candi Kedulan. Candi yang berada tak jauh dari rute para pelari Mandiri Jogja Marathon ini. Peripih berfungsi sebagai "jiwa" dari bangunan suci, termasuk pula candi. Sebelum membangun candi, masyarakat Mataram Kuno akan menanamkan peripih ini di dalam lokasi candi yang akan dibangun. Artinya, persiapan untuk membangun sebuah tempat suci benar-benar dilaksanakan dengan baik. Agar bangunan tersebut memberikan dampak positif terhadap lingkungan di sekitarnya.

Candi Gana, sebuah ceceran candi yang terletak di dekat Candi Prambanan. Pembangunan candi melalui persiapan matang, sama halnya dengan event Mandiri Jogja Marathon yang benar-benar dipersiapkan dengan baik. - Dokpri
Candi Gana, sebuah ceceran candi yang terletak di dekat Candi Prambanan. Pembangunan candi melalui persiapan matang, sama halnya dengan event Mandiri Jogja Marathon yang benar-benar dipersiapkan dengan baik. - Dokpri

Membandingkan spirit tersebut, jauh-jauh hari, panitia sudah memilih lokasi yang tepat agar event ini berlangsung dengan baik. Simpul-simpul ekonomi masyarakat pun terbuka lebar. Aneka perusahaan, baik lokal maupun nasional juga ikut andil. Geliat ekonomi warga, yang memang sudah semarak menjadi lebih semarak lagi. Dan pada akhirnya, tantangan ekonomi yang semakin sulit di era globalisasi ini bisa dihadapi bersama dengan sinergi yang baik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2