Mohon tunggu...
Ikrom Zain
Ikrom Zain Mohon Tunggu... Tutor - Content writer - Teacher

Hanya seorang pribadi yang suka menulis | Tulisan lain bisa dibaca di www.ikromzain.com

Selanjutnya

Tutup

Film Artikel Utama

"Kidung", Wujud Kasih Sayang Tulus Seorang Kakek

8 Maret 2019   09:42 Diperbarui: 9 Maret 2019   02:38 500
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kidung dan sang Kakek. - Dok. TVRI Jogja (Screenshoot pribadi)

Selain memiliki seorang anak, kebahagiaan seseorang juga akan muncul kala memiliki seorang cucu.

Bahkan, kerap muncul adagium kalau seseorang akan lebih sayang kepada cucunya daripada kepada anaknya sendiri. Kehadiran seorang cucu akan disambut dengan begitu spesial. Momen istimewa tersebut akan menjadi momen berharga bagi seseorang yang sedang menghabiskan masa tuanya.  

Sayangnya, tak semua orang bisa menikmati kebahagiaan bersama sang cucu tercinta. Ada kalanya, sang anak belum dikaruniai seorang putra yang menjadi penerus keturunan mereka. Tak hanya itu, kadang hubungan seseorang dengan anak kurang begitu baik sehingga sang anak tak lagi menengok orang tuanya barang sedetik pun.

Ada pula kisah sang anak yang telah melakukan hubungan gelap dengan orang lain. Cucu yang lahir, yang semestinya menjadi sesuatu yang dinanti-nantikan pun akhirnya berubah menjadi aib. Keberadaannya begitu dirahasiakan atau bahkan tidak diharapkan.   

Kisah yang cukup banyak terjadi di masyarakat inilah yang kemudian diangkat dalam film pendek berjudul Kidung, produksi TVRI Stasiun Yogyakarta pada tahun 2012. Film ini seakan menjadi cerminan bagi banyak kisah kehidupan yang ada di seluruh pelosok negeri. Kisah yang sering kali tak mendapat tempat di masyarakat walau seharusnya justru dapat dijadikan pelajaran.

Diperankan oleh seniman Jogja, seperti Bondan Nusantara (maestro ketoprak Jogja) dan Kidung, film ini sangat apik menggambarkan pengajaran itu. Bondan Nusantara telah dikenal sebagai pelakon dan penulis naskah berbagai pertunjukan ketoprak di Yogyakarta. 

Sementara Kidung, yang lebih dikenal dengan Plenthong adalah seniman cilik yang naik daun berkat suaranya yang menggelegar dan ceplas-ceplos dalam acara komedi Angkringan. Acara yang juga ditayangkan di TVRI Jogja. Keduanya bermain peran sebagai kakek dan cucu dalam film Kidung ini.  

Sinopsis

Film dibuka dengan adegan Kidung dimarahi habis-habisan oleh Narsih, ibunya (diperankan Arum Puspitorini) karena bermain gawai di dalam kamar mandi. Ibu Kidung memang mendidik anaknya dengan cara yang cukup kasar. Selain memarahi, tak jarang sang ibu juga mencubit bahkan menjundu (menempeleng di kepala) anaknya.

Perlakuan kasar ini disebabkan Kidung adalah anak yang tak diharapkan. Walau tak diceritakan secara gamblang mengenai sebab musabab "kecelakaan" yang dialami Narsih, penonton pun sudah paham. Kidung sesungguhnya adalah anak yang tak diharapkan.

Narsih semakin tertekan akibat perilaku Kidung yang sudah dianggap "liar", tak tahu tata krama terutama dengan orang dewasa. Kondisi semakin sulit ketika ia hanya hidup berdua dengan sang anak di sebuah rumah petak kecil di Kota Jogja. Utangnya semakin menumpuk dan kerap ditagih para rentenir.  

Ibu Kidung yang kasar dalam mendidik putranya. - Dok. TVRI Jogja (Screenshoot pribadi)
Ibu Kidung yang kasar dalam mendidik putranya. - Dok. TVRI Jogja (Screenshoot pribadi)
Beban hidup yang semakin pelik membuat Narsih memutuskan berangkat ke Jakarta untuk mencari penghidupan lebih baik. Ia pun menitipkan Kidung pada ayahnya (Bondan Nusantara) sebelum berangkat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun