Ikrom Zain
Ikrom Zain Tutor Bimbel

Hanya seorang pribadi yang suka menulis. Tulisan lain bisa dibaca di www.ikromzain.com

Selanjutnya

Tutup

Karir Artikel Utama

Asa Menjadi PNS di Ibu Kota

27 November 2018   07:18 Diperbarui: 27 November 2018   21:10 1398 9 3
Asa Menjadi PNS di Ibu Kota
Para peserta CPNS sedang menunggu waktu tes.- Dokpri

Para pemudi dan pemuda memenuhi trotoar jalan sambil membaca sebuah buku atau kertas fotokopian.

Mereka menggunakan atasan putih dan bawahan hitam. Perpaduan khas yang menjadi pemandangan jamak di kota-kota di Indonesia. Khusyuk menatap buku dan gawai, mereka seolah tak mau melewatkan waktu barang sebentar untuk tidak membaca. Hingga, ada satu dua orang yang berada di sebelah mereka dan mengajak berbicara. 

Sambil menunggu waktu giliran untuk mengerjakan soal tiba, mereka masih berharap bisa menjadi salah satu pemegang jabatan paling bergengsi di Indonesia, PNS.

Sesekali, beberapa di antara mereka mencoba melihat seksama denah ruangan yang akan mereka gunakan. Memastikan bahwa tak ada hal lain yang perlu dikhawatirkan, para pejuang PNS itu juga kerap menanyakan perihal teknis pelaksanaan CPNS yang akan mereka hadapi. 

Walau sebenarnya segala bentuk jenis informasi telah terpampang dengan jelas, namun rasa was-was tetap ada jika tak menanyakan langsung kepada petugas di tempat ujian berlangsung.

Di suatu pagi yang cukup mendung, saya mencoba menjelajah Jakarta Selatan seorang diri. Jeffry, rekan saya sedang ada janji dengan teman yang tidak bisa ditinggalkan. 

Melihat beberapa tempat wisata yang menarik di sekitar penginapan, saya akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan ke Kantor Wali Kota Administrasi Jakarta Selatan. Pusat pemerintahan salah satu kota di Jakarta yang belakangan terkenal dengan olok-olok bahasa gaulnya.

Maksud hati ingin menjelajah lebih ke dalam sambil memotret susasan Kantor Wali Kota, niat ini harus saya urungkan. Tes CPNS sedang dilakukan di sana. 

Bangku-bangku taman penuh dengan para pemuda yang asyik bersiap dengan tes yang akan diselenggarakan. Berpakaian rapi jali, mereka sungguh kontras dengan apa yang saya pakai. Kaos oblong, celana pendek, dan bersandal jepit.

Jangan ditanya mengapa saya tidak mengenakan baju khas tersebut pada tahun penerimaan PNS secara besar-besaran. Berat, tak akan sanggup menjawab.

Jika boleh mengutip perkataan dari Dilan pada Milea, tentu kalimat itu akan keluar. Ada beberapa alasan yang membuat saya harus menggunakan baju sekedarnya di Kantor Wali kota Administrasi Jakarta Selatan. Alasan-alasan yang bermuara kepada ketidakingingan saya menjadi PNS.

Para peserta tes CPNS menanyakan ruangan ujian ke panitia. - Dokumen Pribadi.
Para peserta tes CPNS menanyakan ruangan ujian ke panitia. - Dokumen Pribadi.
Walau saya tak memiliki niat sedikit pun menjadi abdi negara, bukan lantas saya memandang para pemuda yang sedang berjuang tersebut sebelah mata. Saya sungguh salut. 

Di hari Minggu yang sangat tepat digunakan untuk bermalas-malasan tersebut, mereka malah dengan penuh semangat mencoba peruntungan. Berharap lebih bisa membuat orangtua bangga, mendapatkan pekerjaan yang mapan, hingga sederet alasan lain untuk bisa menyandang status sebagai seorang PNS.

Segudang alasan juga yang membuat jalan yang ingin mereka tempuh berbeda dengan saya. Walau begitu, mereka memiliki tujuan yang sama dengan saya kala itu. 

Apalagi kalau bukan Kantor Wali Kota Administrasi Jakarta Selatan. Kami bertujuan sama ternyata. Beberapa di antaranya bahkan menggunakan kendaraan yang sama dengan apa yang saya gunakan, ojek daring. Lantas, apa yang berbeda?

Kalau kita merenung, sebenarnya di antara ketidaksamaan di antara kita dengan orang lain masih banyak persamaan yang menyertainya. Kadang perbedaan itu membuat apa yang ada di benak kita menjadi perbedaan tajam yang mengarah kepada konflik. 

Di Kantor Wali Kota Administrasi Jakarta Selatan tersebut, saya sejenak mengabadikan momen langka tersebut. Menikmati kehangatan para pemuda yang saling berkenalan, bertanya asal-usul, hingga pembicaraan remeh temeh. Bahkan, di antaranya mereka gunakan sebagai ajang reuni.

Ada beberapa peserta tes yang merupakan teman SMA, SMP, bahkan SD. Mereka bertemu kembali dalam suatu tes meski bukan ulangan harian atau penilaian semester. 

Kadang kala, beberapa di antaranya pernah bertemu dalam tes-tes sebelumnya. Kegagalan-kegagalan untuk menjadi PNS malah membuat jalinan silaturahmi menjadi lebih erat. Sama halnya dengan job fair, tes CPNS juga menjadi ajang mulia tersebut. 

Jadi, apa yang saya saksikan di pagi itu bukan semata bayang-bayang cemas akan kegagalan menjadi PNS. Lebih dari itu, tes CPNS juga sebagai ajang untuk saling mengenal ataupun bernostalgia dengan kawan lama. Walau, persaingan di antara mereka tetaplah terjadi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2