Ikrom Zain
Ikrom Zain Tutor Bimbel

Hanya seorang pribadi yang suka menulis. Tulisan lain bisa dibaca di www.ikromzain.com

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Mengurai Kegagalan Program Makanan Bebas Plastik di Kantin Sekolah

3 Oktober 2018   12:26 Diperbarui: 3 Oktober 2018   14:02 1987 4 3
Mengurai Kegagalan Program Makanan Bebas Plastik di Kantin Sekolah
Ilustrasi. - Dokumen pribadi

Selain pembelajaran di kelas, salah satu kegiatan yang cukup menjadi perhatian di sekolah adalah kegiatan siswa di kantin.

Kantin tak hanya menjadi tempat kegiatan siswa kala jam istirahat berlangsung. Interaksi antar siswa maupun pengelola kantin juga menjadi hal yang tak bisa dipisahkan.

Dengan demikian, kantin juga berfungsi sebagai salah satu pembentuk kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang tolak ukurnya bisa dilihat dari derajat kesehatan di dalam kantin tersebut.

Kantin pun berperan sebagai sentral dalam pembentukan karakter siswa. Bagaimana mereka membelanjakan uang dan memilih apa yang akan mereka konsumsi bisa dimulai dari kantin sekolah.

Pengelolaan kantin biasanya dilakukan secara otonom oleh sekolah. Pengelola kantin bisa berasal dari wali murid atau masyarakat sekitar sekolah yang menyediakan aneka makanan dan minuman siswa.

Pada beberapa sekolah, pengelolaan kantin diatur dalam sebuah Standar Operasional (SOP) dan perjanjian kontrak. Perjanjian kontrak ini biasanya berlaku dalam waktu satu tahun yang diperbaharui sesuai kebutuhan masing-masing.

Standar operasional kantin sendiri mengatur beberapa hal penting terkait kantin sehat. Kesepakatan yang tertuang dalam SOP ini seharusnya dapat dipenuhi oleh pengelola kantin.

Di samping kriteria umum seperti ventilasi yang cukup, penerangan, IPAL, dan tempat cuci tangan. Namun, hal yang tak kalah penting dalam pengelolaan kantin adalah mengenai makanan dan minuman yang dijual di dalam kantin.

Menurut Badan Pengawasn Obat dan Makanan (BPOM), setidaknya ada beberapa syarat umum makanan dan minuman yang dijual di kantin sekolah. Syarat tersebut antara lain tidak mengandung cemaran mikroba, pewarna, dan tekstur makanan yang dijual masih layak.

Untuk sekolah yang mengikuti kegiatan Adiwiyata (Pengertian; Adiwiyata merupakan nama program untuk pendidikan lingkungan hidup), ada beberapa syarat tambahan.

Pengelola kantin secara bertahap mengurangi penggunaan plastik. - Dokumen Pribadi.
Pengelola kantin secara bertahap mengurangi penggunaan plastik. - Dokumen Pribadi.
Syarat tersebut adalah tidak menjual makanan yang dikemas dalam plastik, styrofoam, dan aluminium foil. Syarat terkahir ini seringkali menjadi ganjalan bagi sebagian sekolah yang menuju Adiwiyata Propinsi, Nasional, maupun Mandiri.

Tidak hanya dalam kegiatan Adiwiyata, dalam kegiatan Green School Festival acapkali masalah penggunaan plastik dan sejenisnya menjadi masalah yang cukup serius diperhatikan oleh dewan juri.

Lantas, apa yang menyebabkan penggunaan plastik menjadi hal yang tak bisa dilepaskan dari kantin sekolah?

Tentunya, semua bermula dari kebiasaan. Sedari kecil, siswa memang lebih mengenal jajanan dari plastik dan sejensinya dibandingkan jajanan nonplastik semisal jajanan pasar.

Kebiasaan ini terbawa hingga ke sekolah dan terus berlanjut ketika kantin sekolah juga menjual jajanan tersebut. Saat ada upaya dari sekolah dan pengelola kantin untuk mengganti jajanan tersebut dengan jajanan lain yang lebih sehat, maka tidak serta merta upaya itu bisa berhasil.

Beberapa pedagang kantin seringkali mengeluh dengan tidak lakunya jajanan yang mereka jual. Sebagian siswa memilih untuk membeli jajanan di luar yang bagi mereka lebih menarik dibandingkan makanan di kantin.

Apalagi, dengan menjamurnya penjaja makanan di luar sekolah, maka upaya sporadis dengan melarang jajanan dari plastik ini tidak bisa berhasil.

Memang, bagi beberapa sekolah terutama sekolah menengah, upaya bebas sampah dalam kantin bisa dilakukan. Beberapa sekolah yang telah lolos seleksi Adiwiyata Nasional maupun Mandiri bisa menggunakan bahan lain untuk wadah makanan dan minuman yang dijual, semisal daun pisang atau siswa diharuskan membawa wadah sendiri.

Namun, hal ini cukup sulit dilakukan bagi siswa Sekolah Dasar yang secara pemikiran belum matang. Bagi mereka, jajanan berbungkus plastik adalah makanan favorit yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Apalagi, jajanan renyah yang mengandung banyak MSG adalah jajanan favorit bagi siswa-siswi. Melarang mereka secara langsung membeli makanan tersebut di dalam kantin sekolah dengan tergesa sama artinya membuat mereka mencari cara lain.

Membeli jajanan tersebut di sekitar sekolah kala pulang atau membawa sendiri dari rumah untuk dikonsumsi ketika istirahat adalah beberapa cara agar masih bisa mengonsmsi jajanan "enak" tersebut. Itu bukan rahasia umum.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3