Ikhsanti Choerunnisa Putri
Ikhsanti Choerunnisa Putri

Mahasiswa Sosiologi FISIP UIN Jakarta

Selanjutnya

Tutup

Hiburan Pilihan

Resensi Buku "Muslimah Feminis: Penjelajahan Multi Identitas"

15 April 2018   14:24 Diperbarui: 15 April 2018   14:45 1574 0 0
Resensi Buku "Muslimah Feminis: Penjelajahan Multi Identitas"
http://psikindonesia.org/

   Oleh : Ikhsanti Choerunnisa Putri

Identitas Buku

Judul Buku : Muslimah Feminis

Pengarang Buku : Neng Dara Affiah

Penerbit Buku : Nalar

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2009

Ukuran Dimensi Buku : 13 cm x 20 cm

Tebal Buku : 122 halaman

Membaca buku ini menghantarkan saya kepada perjalanan yang penuh dengan penghayatan yang benar-benar real terjadi di dalam kehidupan nyata seorang insan manusia dengan beragam identitas yang melekat padanya. Renungan yang penuh arti dalam menyelami setiap segi kehidupan yang sarat dengan makna perjuangan dalam menjalani hidup sebagai seorang muslimah yang sekaligus menghayati diri sebagai seorang feminis. 

Dari buku ini dapat kita lihat bagaimana sebuah pengamatan mengenai perjalanan kehidupan dilihat dalam konteks keislaman yang berperspektif gender. Buku ini dapat menjadi jawaban mengenai bagaimana seorang muslimah di lain sisi juga merupakan seorang feminis, mengingat bagi kebanyakan orang awam isu feminis cenderung dipandang sebagai hal yang kebarat-baratan dan cenderung dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Buku ini berisikan mengenai perjalanan hidup Neng Dara Affiah menyelami kehidupan meresapi kesadaran akan multi identitas yang dimiliki setiap manusia, yaitu identitas etnis, gender, agama dan identitas negara yang mana identitas tersebut saling memberikan pengaruh kuat, pada perjalanannya saling melengkapi dan bahkan bisa jadi bertentangan satu sama lain. dengan mengutip Geertz ia mengungkapkan bahwa etnisitas adalah penegasan sosial mengenai keberadaan seseorang dan dari tanah itulah seseorang berasal. Tulisan diawali dari identitasnya sebagai seorang etnisitas Banten. 

Ia melihat Banten sebagai tempat yang religius yang kental akan keislaman. Diceritakan pula pada awal uraian buku ini bagaimana seorang Neng Dara Affiah yang sejak kecil hidup di kalangan keluarga yang agamis yang pada perjalanannya berafiliasi kepada NU. seriring pembentukan dirinya ia kian menyadari bahwa Banten bukan hanya kental akan tradisi keislaman, melainkan juga kental akan kontestasi perpolitikan dan berkembangnya tradisi keilmuan, ditempat inilah seorang Neng Dara tumbuh.

Sedari kecil Neng Dara sudah akrab dengan buku-buku "Berat" yang membuatnya memiliki pemikiran yang jauh lebih dewasa dari usianya. Buku-buku milik pamannya yang kuliah di IAIN Jakarta telah ia baca, seperti tentang Islam Ahmadiyah, Islam Jamaah, dan perdebatan Islam dan Kristen. salah satu publikasi yang mempengaruhiya adalah majalah Islam Panjimas. Wawasannya yang luas dan ketarikannya terhadap dunia Islam membuat dirinya mulai membangun identitas keislamannya, ia yang kala itu masih belia sudah memiliki kecenderungan paham teologi Wahabi.

Setelah lulus dari sekolah dasar Neng Dara melanjutkan sekolahnya ke pesantren Alquran di Serang, di pesantren ini ia mengenal kelompok pengajian "usroh" dan terlibat didalamnya. Metode pengajian yang digunakan bersifat kaku, tidak membuka dialog dan bersifat doktriner. Hal ini membuat Neng Dara merasa terkungkung dan gelisah, Islam yang dipelajari disini seakan sangat sempit, hanya memandang sesuatu dari halal haramnya dan selalu dihantui akan perasaan takut dosa. Karena hal tersebut, tak lama kemudian ia memutuskan untuk berhijrah ke pesantren lain. kemudian, Neng Dara berhijrah ke Tasik Malaya di sebuah sekolah formal berstatus negeri yang berada di lingkungan pesantren. 

Di sekolah ini ia bersentuhan dengan Islam Tradisional dan menemukan ketenangan jiwa mengenai kesederhanaan, kerendahan hati, dan siap dalam menghadapi berbagai situasi yang mana merupakan ajaran yang diajarkan oleh Islam. Ia mulai meresapi bahwa puncak dari penghambaan seorang muslim adalah keikhlasan dalam menghadapi hidup. Selain itu kepekaan rasa merupakan hal yang tumbuh pula selama menjalani pendidikan di pesantren ini.

Lulus dari pesantren, ia melanjutkan kuliah di IAIN Jakarta, prodi yang ia ambil berdasarkan pilihan pamannya yaitu jurusan perbandingan agama. Di kampus ia melihat maraknya persaingan politik kampus. Dikarenakan ia ingin menjaga netralitasnya dari keberpihakan terhadap salah satu organisasi ia lebih memilih untuk mengelola media kampus dan bergabung dalam Forum Mahasiswa Ciputat (FORMACI). 

Di FORMACI ini ia mulai mengenal Feminisme dan terlibat dengan LSM-LSM perempuan. Perjumpaannya dengan Feminisme tersebut membuatnya sadar akan ketidak adilan yang dialami oleh perempuan sehingga ia mencoba untuk menyosialisasikan hal tersebut kepada masyarakat luas, salah satunya adalah melalui media milik organisasi besar Islam, yakni WartaNUPBNU Jakarta pada tahun 1992. 

Dari keterlibatannya ini ia mulai merefleksikan hal yang ia dapatkan ke dalam lingkungan keluarganya. Pada tahap ini Neng Dara mulai memadukan identitas kemuslimahannya dengan feminisme. Selama kuliah di IAIN Jakarta pula ia mulai menguatkan identitas keislamannya. Ia mulai memahami Islam sebagai agama yang mendorong kepada kemajuan dan terbuka terhadap perkembangan zaman.

Sebagai seorang muslimah feminis Neng Dara Affiah sangat terinspirasi oleh neneknya sendiri, H Masyitoh. Neneknya adalah seorang yang ia sebut sebagai "indigenous feminist" yaitu feminis yang tumbuh dari masyarakat lokal berdasarkan dari interaksi sehari-hari tanpa mengenal, menyadari dan menyebut dirinya feminis. Neneknya adalah seorang wanita yang teguh pendirian, berani, seorang yang berdaulat atas dirinya sendiri. Sepanjang hirupnya ia mencerminkan nilai-nilai feminis seperti kemandirian dan kemerdekaan atas dirinya sendiri. Neneknya tidak pernah menundukkan dirinya dan menunjukkan rasa silau terhadap para pemuka agama laki-laki. Kharisma dan pengaruh yang dimilikinya membuat warga disekitarnya hormat kepadanya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2