Mohon tunggu...
Ika Septi
Ika Septi Mohon Tunggu... Lainnya - Lainnya

Penyuka musik, buku, kuliner, dan film.

Selanjutnya

Tutup

Music Artikel Utama

The Smiths, Bubar untuk Selalu Dikenang

28 Juli 2019   17:23 Diperbarui: 28 Juli 2019   20:17 2037
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber ilustrasi: Facebook The Smiths @TheSmithsOfficial

Album yang rilis tahun 1984 itu langsung nangkring di nomor dua tangga lagu album musik di negerinya. Sepanjang tahun 1984 itu The Smiths yang telah menggenapkan personilnya dengan merekrut Mike Joyce dan Andy Rourke itu berhasil mencetak dua hits Top 20 untuk nomor 'Heaven Knows I'm Miserable Now' dan 'William, It Was Really Nothing'.

Kepopuleran The Smiths tentu saja membuahkan berbagai tanggapan dari para kritikus musik. Grup kritikus yang baik hati selalu memberi kritikan membangun dan adil. Sedangkan grup kritikus sebelah kiri selalu memojokkan band tersebut karena lirik-lirik Morrissey yang dinilai ambigu dan kecenderungan plagiasi yang dilakukan olehnya. 

Namun, hal tersebut tidak menggoyahkan hati fans militan mereka. Para penggemar menganggap bahwa kritikus plus media yang sinis itu tidak memahami ketulusan bermusik The Smiths dan tidak mengerti akan humor-humor mencela diri sendiri ala band tersebut.

Bukan The Smiths namanya bila tidak penuh dengan kontroversi. Tahun 1983 adalah awal dimana band yang memiliki empat album studio masing-masing The Smiths, Meat is Murder, The Queen is Dead, dan Strangeways, Here We Come ini dikritik habis-habisan oleh beberapa majalah dan tabloid ihwal lirik dari nomor 'Handsome Devil' dan 'Reel Around The Fountain' yang disinyalir berkisah tentang penganiayaan anak-anak. Hal ini terjadi karena banyak media musik yang tidak menyukai The Smiths dan membuat kesimpulan sendiri  atau gagal berimajinasi akan lirik-lirik lagu tersebut. 

Nah, album kedua mereka yang bertajuk "Meat is Murder" sukses secara komersial dan nangkring di nomor satu tangga album musik di negerinya. Hal ini membuktikan bahwa musik mereka dapat menumbangkan lanskap pop mainstream. Namun kegemilangan 'Meat is Murder' agak merosot di single yang rilis setelahnya yaitu 'Shakespeare's Sister' yang gagal menembus tangga lagu Top 20.

Dua single lainnya yaitu 'The Boy With The Thorn In His Side' dan 'Bigmouth Strikes' pun mengalami kegagalan. Namun, semua kegagalan itu dibayar tuntas dengan rilisnya 'The Queen is Dead' yang dapat duduk di peringkat dua tangga album Inggris. Album yang rilis tahun 1985 ini kaya akan lirik yang menggigit ala Morrissey dan menunjukkan perbaikan dalam sisi musikalitas.  'The Queen is Dead' adalah karya The Smiths yang luar biasa.

Tur konser album 'The Queen is Dead' di Amerika dibarengi dengan rilisnya single berjudul 'Panic' yang berhasil menapaki tangga lagu Top 20. Nomor 'Panic' diikuti dengan kesuksesan dua single berikutnya yang berjudul 'Shoplifters Of The World Unite' dan 'Girlfriend In A Coma'.

Nomor 'Panic' ini kembali mengundang kontroversi karena barisnya yang berbunyi "Burn down the disco - Hang the blessed DJ -
Because the music that they constantly play, dianggap sebagai serangan kepada musik dan musisi kulit hitam. Apakah iya? Morrissey sendiri akhirnya menegaskan bahwa baris tersebut ditujukan kepada budaya konservatif radio Inggris terkhusus ditujukan untuk DJ Radio One, Steven Wright.

Namun dalam sesi wawancara dengan majalah Melody Maker, alih-alih mengelak akan tuduhan itu, Morrissey malah berkomentar buruk terhadap modern dance music milik kaum kulit hitam padahal sebelumnya ia menyatakan ketertarikannya akan semua hal tentang Motown. Hal inilah yang membuat para penggemar marah. Ah, Babang Morrissey memang jagonya dalam membuat fans marah-marah, eh.

Setelah melewati lika-liku bermusik selama lima tahun lamanya, akhirnya The Smiths meluncurkan album yang bertajuk 'Strangeways, Here We Come'. Album yang rilis pada tahun 1987 ini memperlihatkan warna musik yang keluar dari ciri khas mereka dan dibumbui dengan hubungan yang mulai memudar antara Morrissey dan Marr.

Album yang diproduseri oleh Stephen Street ini menjadi album terakhir mereka yang ditandai dengan hengkangnya Marr. Pria yang telah ikut serta menyuburkan bebunyian gitar jingle-jangle ini merasa warna musik The Smiths sudah berbeda terlebih ketika Morrissey memaksa untuk menyisipkan cover version dari lagu milik Cilla Black, 'Work is Four Letter Words' yang ia benci setengah mati di album yang dirilis setelah mereka bubar ini. Ya, selain Morrissey, Marr adalah kunci keberadaan The Smiths dan bubar adalah keputusan yang tepat bagi mereka. Ya, bubar untuk selalu dikenang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Music Selengkapnya
Lihat Music Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun