Ika Septi
Ika Septi lainnya

penyuka musik, buku, film dan kerajinan tangan.

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Pilihan

Punya Mobil Demi Prestise

9 Maret 2018   15:07 Diperbarui: 9 Maret 2018   15:30 582 3 4
Punya Mobil Demi Prestise
Ilustrasi : Cermati.com

Seorang teman berkisah bahwa beberapa hari lalu salah satu ruas jalan dimana ia tinggal mengalami longsor dikarenakan ada seseorang yang dengan heroiknya membabati tanaman penyangga. Usut punya usut, oknum warga ini melakukan hal tak elok itu karena dipusingkan dengan cicilan mobil barunya dan melampiaskannya kepada tanaman yang tak berdosa, aih setres.

Ah, mobil. Kendaraan beroda empat satu ini kini memang tengah mengalami masa-masa kejayaan. Dalam setiap lirikan mata dan desahan nafas terlihat model baru yang berkeliaran di jalan.

Perusahaan-perusahaan otomotif dalam berbagai merk itu berlomba-lomba menciptakan varian baru yang lebih canggih dan menggemaskan. Kini untuk menemukan mobil jenis rutungtung susahnya sama dengan mencari jarum dalam tumpukan jerami campur sabut kelapa di rambut gimbal milik musisi regae yang uwel-uwelan kesana kemareeee.

Seperempat abad lalu, membeli mobil baru mungkin hanya monopoli kaum berduit semata, namun kini dengan dana pas-pasan, satu unit mobil baru, gres, kinclong, baru keluar dari pabrik, dengan mudah bisa dibawa pulang. Betapa tidak, sekarang ini perusahaan leasing sudah menjamur bagai panu, kadas, kudis, dan kurap yang tak tersentuh salep kulit lapan-lapan. 

Mereka menancapkan akar-akar kokohnya kepada para konsumen yang membutuhkan kendaraan secara cepat walau dana yang dimiliki terbatas. Uang muka yang ringan, jangka waktu cicilan yang relatif panjang dan proses yang kilat membuat banyak calon konsumen yang telah ngeces satu ember karena mengidamkan mobil baru nangkring di depan rumahnya merasa di ulangtahunkan.

Masih segar dalam ingatan saya, dua setengah dekade silam kakak saya ngebet untuk memiliki satu unit kendaraan roda empat dalam rangka memudahkan perjalanannya menuju ke kantor yang letaknya lumayan jauh dari rumah. Lalu dalam rentang beberapa tahun di antara keringat, darah dan air mata, ia pun mengumpulkan uang gaji dan bonusnya seketip demi seketip agar dapat membeli mobil seken bukan baru.

Mobil seken itu setelah digunakan beberapa tahun ia upgrade dengan yang tahun produksinya lebih muda, baik dijual atau di tukar tambah. Bandingkan dengan yang terjadi di zaman sekarang. Dengan uang muka 15 juta rupiah, cicilan 3 juta perbulan selama 5 tahun, sebuah mobil baru jenis LCGC (Low Cost Green Car ) sudah dapat dimiliki. Maka tak heran, dengan banyaknya kemudahan-kemudahan tersebut, badan jalan dari tahun ke tahun terasa berkurang ukurannya.

Bagi sebagian orang memiliki mobil adalah kebutuhan namun bagi sebagian lagi masih dianggap sebagai prestise.    Adanya anggapan bahwa memiliki mobil dapat menaikan status sosial di mata orang lain dapat menyebabkan seseorang menjadi pendek pikir.

Gak butuh-butuh amat sih tapi yang penting terlihat gaya, keren, berharta, dan merasa lebih tinggi derajatnya dari yang hanya punya sepeda ontel apalagi yang jalan kaki kemana-mana. Anggapan-anggapan inilah yang membuat beberapa orang menyusahkan dirinya sendiri dengan mencicil mobil walaupun secara finansial belum mampu sepenuhnya.

Dan sangat disayangkan, terkadang sang mobil itu hanya dijadikan hiasan di rumahnya alias tidak pernah digunakan. Mau di pakai jalan-jalan, malah sibuk mikirin biaya bensin, jalan tol, dan parkir, akhirnya gak jadi pergi karena kebanyakan mikir. Mau dipakai untuk taksi online atau disewakan, kok ya gengsi cyiin. Akhirnya ya cuma ngejogrok di depan rumah menunggu rusak karena minim perawatan. Kalau begini siapa yang rugi? 

Tak ayal, banyak orang yang malah pusing menjurus ke stress dengan cicilan yang harus dibayarkan setiap bulannya sementara sang mobil jarang dipakai dan tak menghasilkan, persis seperti kisah teman saya diatas. Ya kalau stresnya tidak merugikan orang lain sih, silahkan saja.

Namun kalau sudah menyangkut hajat hidup orang banyak seperti jalan yang longsor sih ya kebangetan heuheu. Memang selalu ada jalan keluar dalam segala hal termasuk ketika pusing dengan cicilan kendaraan seperti restrukturisasi, refinancing atau over kredit, namun prosesnya cukup menyita waktu, pikiran dan tenaga.

Memiliki benda karena butuh itu lebih berarti daripada hanya demi prestise semata. Jangan mempersulit hidup hanya karena ingin terlihat "lebih" dari orang lain, karena ujung-ujungnya siapa yang susah?

Sekian.