Mohon tunggu...
Ika Ramadayanti
Ika Ramadayanti Mohon Tunggu... Kepingan Recehan

Pencari Ilmu sebagai bekal hidup di Dunia dan Akhirat, Berkerja keras untuk berjuang hidup

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan

Save Healty Save Climate: Menjaga Pola Hidup Sehat Pasca Pandemi sebagai Upaya Pengurangan Emisi Carbon

23 Oktober 2020   13:30 Diperbarui: 23 Oktober 2020   13:38 84 2 0 Mohon Tunggu...

Pasca pandemi Covid-19 saat ini, tidak bisa dipungkiri bahwa gaya hidup masyarakat juga berubah. Menjaga jarak dan membatasi interaksi sosial wajib diterapkan, hal tersebut membuat masyarakat melakukan aktivitas dan pekerjaanya di rumah masing-masing. Kondisi tersebut didukung dengan kemudahan teknologi virtual membuat banyak aktivitas dapat dikerjakan secara online. Banyak yang mengatakan bahwa tinggal di rumah selama pandemi Covid-19 adalah momen baik bagi tubuh untuk memperoleh gizi seimbang. Namun, perlu kita ketahui dibalik kenikmatan sepiring makanan kita, tentunya ada proses penanaman, produksi, pengolahan, distribusi, konsumsi dan pada akhirnya berujung pada pengolahan sisa organik. 

Keseluruhan proses dari mulai produksi hingga makanan sampai ke piring kita berkontribusi dalam pemanasan global. Emisi karbon bisa dihasilkan dari makanan yang berasal dari pertanian, perkebunan, pabrik pengolahan makanan, transportasi distribusi, dan peternakan. Pertanian yang berasal dari penggunaan pupuk, pestisida, dan bibit merupakan sumbangsi terbesar dari emisi karbon. Environmental Working Group (EWG),2017 melakukan penelitian jumlah emisi gas karbon dioksida yang dihasilkan oleh setiap 1 kg bahan makanan yang kita konsumsi. Hasil emisi gas karbon dioksida yang dihasilkan kemudian dibandingkan dengan jumlah gas emisi karbon yang dihasilkan saat mengendarai kendaraan pribadi, seperti mobil, yang dituangkan dalam satuan kilometer (km). Hasilnya mengungkapkan bahwa bahan makanan penghasil emisi karbon terbesar adalah daging domba dan daging sapi. 

Penelitian terbaru yang dipublikasikan oleh Journal of Cleaner Production mereka menyusun peringkat makanan berdasarkan tingkat gas rumah kaca yang dihasilkan sejak pertanian sampai dengan ke piring saji setiap orang, termasuk piringpiring makanan yang menyajikan daging sapi yang lezat untuk disantap (Lacriox, at al, 2020). Peternakan yang dibuat untuk produksi daging sapi memproduksi emisi gas rumah kaca lebih tinggi daripada pertanian tradisional. Misalnya untuk memproduksi 50 kilogram bawang akan menghasilkan satu kilogram gas rumah kaca, namun untuk memproduksi 44 gram daging sapi dapat menghasilakn satu kilogram gas kaca. Industri agrikultur, kehutanan dan pemanfaatan lahan tanam menyumbang pemanasan global 24 persen dari total emisi dunia .

Stephen Clune, dosen senior jurusan Sustainable Design dari Lancaster University dan Karli Verghese peneliti dari RMIT University melakukan eksperimen dan penelitian tentang jejak karbon dalam makanan (Bowles, et al, 2020). Mereka mengkumpulkan 369 riset tentang siklus produksi dari 168 varietas makanan segar, termasuk sayuran, buah, kacang-kacangan, padi-padian, produk peternakan, dan daging. Dari 168 varietas itu lantas disusun yang paling banyak menghasilkan gas rumah kaca dalam proses produksinya adalah aktivitas produksi seperti pra penanaman, perawatan tanaman, proses panen, hingga distribusi produk. Misalnya untuk daging sapi dan domba, sumber emisi utama mereka adalah metan, gas ini lahir dari fermentasi bakteria yang mengubah makanan menjadi energi dalam perut hewan mereka. Metan berkontribusi sangat tinggi dalam emisi gas rumah kaca. Saat masa konsumsi, hewanhewan tersebut dijagal, proses penjagalan tersebut menghasilkan emisi karbon dari konsumsi energi yang digunakan. Dua peneliti itu juga mengembangkan penelitian hingga pengolahan produk pertanian/peternakan, pengalengan produk makanan, pendinginan, dan proses masak. 

Dalam penulisan Elsevire tahun 2020 mengungkapkan limbah konsumsi manusia juga turut menyumbang emisi gas rumah kaca. Selain itu sisa makanan yang ada dalam limbah konsumsi merupakan pemborosan. Data dari FAO menunjukkan bahwa sepertiga makanan yang diproduksi manusia terbuang sia-sia, senilai 940 miliar dolar AS. Salah satu target Sustainable Development Goals yang telah disahkan 25 September 2015 bertempat di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) adalah mereduksi sisa makanan yang terungkap pada point ke-13 Climate Action. Perlu ada kesadaran bahwa makanan yang kita konsumsi berkontribusi dalam produksi gas rumah kaca yang akan memengaruhi pemanasan global . Hal ini harus berlaku di Indonesia, sebagai negara yang kaya akan ragam kuliner, Indonesia tentu menyumbang jejak karbon. Semuanya dapat dimulai dari proses mengatur pola makan yang seimbang. 

Upaya mitigasi perubahan iklim dapat kita lakukan dengan alternatif mengatur pola komsumsi yang diperlukan dengan memanfaatkan segala yang disediakan alam dan mengurangi semaksimal mungkin produk sintesis sehingga membuat lingkungan lebih bersih dan sehat. Misalnya menanam produk tanaman organik yang berasal dari produk non Genetic Modified Organism (GMO) serta memaksimalkan limbah makanan untuk pupuk sehingga bisa digunakan kembali untuk alam. Masyarakat Indonesia perlu menyadari bahwa proses produksi makanan merupakan satu tantangan besar karena setiap hari sisa makanan selalu dibuang kemudian menjadi limbah berakhir sebagai masalah lingkungan yang berdamak pada pemanasan global. 

Salah satu usaha untuk menekan sampah makanan dan sampah non organik dikalangan masyarakat ialah membuat jadwal pola makan dan mengatur menu serta jumlah makan yang kita perlukan setiap harinya. Hal ini dapat menjadikan langkah kecil untuk merealisasikan point 13 SDG’s yang bisa berkontribusi menekan produksi karbon di udara. Bagi konsumen, bisa memulainya dengan mengurangi konsumsi daging, memilih sayur-buah lokal, memasak dengan benar, sehingga mengurangi sampah makanan. Ini dilakukan karena persoalan lingkungan bisa dimulai dari sepiring makanan yang kita konsumsi setiap hari. Save Healty Save Climate menjadi langkah awal sebagai pengutan mitigasi serta adaptasi terhadap perubahan iklim dimasa mendatang.

VIDEO PILIHAN