Mohon tunggu...
Syamsurijal Ijhal Thamaona
Syamsurijal Ijhal Thamaona Mohon Tunggu... Demikianlah profil saya yg sebenarnya

Subaltern Harus Melawan Meski Lewat Tulisan Entah Esok dengan Gerakan Fb : Syamsurijal Ad'han

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Peluru Tinta: Melawan Tulisan dengan Tulisan (Catatan untuk Para Perazia Buku)

6 Agustus 2019   14:45 Diperbarui: 6 Agustus 2019   14:57 61 4 3 Mohon Tunggu...
Peluru Tinta: Melawan Tulisan dengan Tulisan (Catatan untuk Para Perazia Buku)
Ilustrasi: viana-chuby.blogspot.com

Tangan perempuan bercadar yang memegang surat dan novel itu, bergetar hebat. Emosi yang membelit sanubarinya, akhirnya tak tertanggungkan. Tumpah menjadi air mata. Isi suratnya tak ada yang bermasalah. Semata ajakan hidup bersama. Tetapi, novel itulah sumber masalahnya.

Secara vulgar, novel tersebut menggambarkan hubungan manusia beda kelamin. Jelaslah sudah permintaan hidup bersama, yang disertai novel tersebut, tak lain adalah bentuk pelecehan terhadap dirinya sebagai perempuan. Tidak sampai di situ. Yang makin menusuk perasaannya adalah, novel tersebut terang-terangan melecehkan jalan spiritual yang dipilihnya. Yaitu, mengenakan busana muslim lengkap dengan cadarnya.

Namun yang memesona dari perempuan bercadar ini adalah sikapnya menghadapi pelecehan melalui tulisan tersebut. Alih-alih melaporkan tindakan pria yang mengiriminya sepucuk surat dan novel tersebut. Si perempuan bercadar justru membalasnya dengan surat pendek dan juga sebuah novel karyanya sendiri.

Suratnya hanya berisi kalimat singkat. Kalau tidak salah berbunyi: "Dalam hidupku sekarang ini, hidup bersama bukan lagi menjadi tujuanku."

Sementara novelnya sendiri, yang ditulis dengan letupan perasaan meluap-luap, tidak hanya menggugah si pria yang melecehkannya hingga mesti meminta maaf berkali-kali. Tetapi juga membuat pembaca lain di laman blog yang memuat ceritanya itu, mendukung perempuan bercadar ini sepenuhnya.

Si perempuan bercadar menemukan peluru paling tepat untuk menghadapi orang yang melecehkannya, yaitu peluru tinta. Ketika sang pria menusuk kehormatannya melalui pena, ia membalasnya dengan peluru yang sama. Sang perempuan bercadar ternyata berhasil. Ia menang dalam pertempuran menghadapi peluru tinta tersebut.

Ketika saya membaca cerita ini, tanpa sengaja dari satu blog, pikiran saya langsung bertanya-tanya: Apa yang bakal terjadi andaikata si perempuan bercadar memilih melawan dengan cara lain. Melaporkan kepada yang berwajib, misalnya. Atau, dengan cara meminta ormas tertentu untuk merazia peredaran novel tersebut.

Mungkin si pria usil tersebut akan dihukum, bukunya dilarang beredar, tetapi belum tentu sang pria akan meminta maaf secara tulus kepadanya. Belum tentu pula, buku tersebut tak bisa dibaca lagi oleh orang lain.

Cerita ini menunjukkan kepada kita, bagaimana seharusnya melawan satu tulisan atau buku yang kita tidak sepakati. Jalan yang ditempuh, tidak lain harus menggunakan peluru yang sama. Menggunakan cara lain, misalnya dengan merazia, memberedel atau meminta penulisnya dihukum, sebenarnya hanya kesia-siaan.

Tulisan atau buku adalah salah satu senjata paling ampuh di dunia ini. Ia bagai peluru canggih yang bisa menembus dinding baja sekalipun. Memengaruhi kesadaran orang, yang bahkan berada di negeri paling jauh. Karena itu, sekuat apa pun satu lembaga kekuasaan berusaha menghentikan tulisan atau buku, tetap saja ia akan menemukan jalan untuk sampai kepada pembacanya.

brilio.net
brilio.net
Sampai di sini, saya teringat salah satu tulisan Pramoedya Ananta Toer; "Nyanyi  Sunyi Seorang Bisu; Catatan-Catatan dari Pulau Buru." Tulisan yang merupakan kumpulan surat-surat untuk keluarganya ini, dengan berbagai cara berusaha dimusnahkan oleh rezim orde baru, saat itu. Benar, tulisan tersebut tidak berhasil sampai pada keluarganya. Sebagian dibakar, sebagian lagi ditahan sipir penjara. Tetapi, tetap saja tidak sepenuhnya bisa dimusnahkan.

Beberapa orang yang melihat tulisan tersebut sebagai sesuatu yang penting dalam membaca sejarah politik Indonesia berusaha menyelamatkannya. Di antara orang itu, ada seorang pejabat sipir penjara, yang memberi nasihat kepada Pramoedya dan tawanan politik pulau Buru saat itu dalam menyebarkan gagasannya.

Katanya; "Hadapi semuanya seperti bermain layangan. Angin kencang ulur benangnya. Tak ada angin, tarik benangnya."

Pada 1988-1989, catatan (tulisan) itu akhirnya terbit. Bukan di Indoenesia pada awalnya, melainkan di Negeri Belanda. Tulisan tersebut terbit dengan judul; "Lied Van Een Stomme." Belakangan baru diterbitkan di Indonesia oleh penerbit Hasta Mitra dengan judul Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Jelas sekali, apa pun yang dilakukan rezim orde baru pada masanya, ternyata tidak bisa membendung satu tulisan.

Benarlah Sub Comandante Marcos, Wakil Komandan Perlawanan Zapatista, ketika bertutur begini:

"Bunga dari tulisan (kata) tak akan mati. Wajah bertopeng yang hari ini mempunyai nama mungkin akan terkubur, tetapi tulisan (kata) yang datang dari kedalaman sejarah dan dunia tak dapat lagi dihabisi oleh kesombongan penguasa.


sapawarga.com
sapawarga.com
Dalam sejarah peradaban Islam, para intelektual muslim mengajarkan kepada kita, bagaimana menghadapi tulisan atau buku, yang tidak sesuai pemikiran dan ideologi yang kita anut.  Lihatlah apa yang dilakukan Ibn Rusyd atas ketidak-setujuannya terhadap buku Tahafut al-Falasifah (Kerancuan Filsafat), karya Imam Al-Gazali.

Ibn Ruyd tidak meminta buku tersebut dilarang beredar, tetapi ia menulis buku untuk melawannya. Judulnya, Tahafut at tahufut (Kerancuan atas Kerancuan).

Akan halnya Imam al-Gazali sendiri, ia juga menulis Tahafut al-falasifah, karena ia merasa tak sejalan dengan buku-buku filsafat karya para kaum filosof. Di antaranya mengenai ketidak-setujuannya Al-Gazali terhadap filsafat materialisme (al-dhariyun).

Imam Al-Gazali pun tidak meminta penguasa untuk memberedel buku-buku filsafat tersebut, tetapi ia melawan buku-buku filsafat itu dengan buku dan ketajaman peluru tinta.

Sikap para ulama dan intelektual kita pada masa itu, yang melawan buku dengan buku, menghadapi peluru tinta dengan peluru yang sama, justru mengangkat peradaban pemikiran Islam menjadi gilang-gemilang.

Dalam Al-Qur'an sendiri, Allah telah memberikan satu pelajaran berharga terhadap ketidaksetujuan segolongan orang atas keagungan Al-Qur'an;

"Jika kamu tetap dalam keraguan terhadap Al-Qur'an yang kami wahyukan pada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah saja yang semisal Al-Qur'an dan ajaklah penelongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar (Al-Baqarah; 23).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x