Mohon tunggu...
Syamsurijal Ijhal Thamaona
Syamsurijal Ijhal Thamaona Mohon Tunggu... Penulis - Demikianlah profil saya yg sebenarnya

Subaltern Harus Melawan Meski Lewat Tulisan Entah Esok dengan Gerakan Fb : Syamsurijal Ad'han

Selanjutnya

Tutup

Trip Pilihan

Dayak: Jauh Berjalan Banyak Dilihat, Sering Berpindah Banyak Dirasa

17 Februari 2019   10:25 Diperbarui: 17 Februari 2019   16:13 177
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dayak adalah berjalan dan berpindah. Demikian salah satu ciri khas atau tepatnya keistimewaan dari etnis ini. Jika membaca riwayat asal muasal munculnya  berbagai suku atau sub suku pada etnis Dayak, maka di sana dengan gamblang Anda akan menemukan, sebelum mereka bermukim di satu wilayah,  mereka selalu berpindah dari satu tempat ke daerah yang lain. 

Lihatlah riwayat Dayak Bahau Bate, Dayak Kayan, Kenyah, Ngaju atau pun Klemetan, semua dimulai dari proses berjalan dan berpindah dari satu tempat ke wilayah  yang lain. Seakan orang Dayak ini mengerti betul akan ungkapan; "Jauh berjalan banyak dilihat, sering berpindah banyak dirasa."

Sumber : dokpri
Sumber : dokpri
Karena kebiasaan berpindah dan berjalan itu, maka  orang Dayak saat berhuma, tidak akan pernah berladang secara menetap di satu tempat. Mereka akan berpindah dari huma yang satu ke ladang yang lain. 

Gara-gara kebiasaan berladang yang berpindah-pindah itu, pemerintah orde baru menuding mereka sebagai perambah hutan dan perusak  lingkungan. Tuduhan yang serampangan tentu saja. Sebab bagaimana mungkin orang Dayak akan merusak lingkungan, sementara mereka bergantung dan terikat pada alam.

Mereka membuka huma pada satu tempat, lalu bergeser ke tempat yang lain, bukan tanpa maksud apa-apa. Orang Dayak tidak ingin menguras kesuburan tanah pada satu tempat. Karena itulah tanah yang sudah pernah diolah akan dibiarkan beberapa saat untuk menjadi tanah yang subur. Untuk kepentingan itu mereka dengan senang hati akan meninggalkan tempat ini dan bergeser mencari ladang baru.

Tindakan itu tentu dimaksudkan agar alam dan lingkungan menemukan keseimbangannya kembali. Semua ekosistem kembali membentuk rantai kehidupan yang utuh. Hal ini hanya mungkin dilakukan oleh orang-orang yang tidak punya keinginan mengeruk dan mengeksploetasi alam untuk kepentingan memperkaya diri-sendiri.  

Dayak memang berpindah-pindah tempat, tapi tak pernah merusak hutan dan lingkungan yang didatanginya. 

 "Ibarat kehidupan monyet yang loncat sana dan loncat sini, kehidupan masyarakat Dayak pun demikian adanya. Tapi seperti monyet yang tahu betul batas wilayah yang boleh dirambah, komunitas adat pun amat paham batas wilayah yang boleh digarapnya."  Demikian pitutur bijak Awang Idjau, seorang tokoh suku Benuaq Dayak menggambarkan kehidupan komunitasnya (Bisri Effendy, 2005).

Sumber : dokpri
Sumber : dokpri
Tetapi sepanjang hidupnya, ternyata proses berjalan dan berpindah tempat dari orang-orang Dayak ini, tidak selamanya dilakukan dengan sukarela. Berbagai peristiwa politik saat-saat peralihan dari orde lama ke orde baru, serta kebijakan resettlement yang diterapkan pemerintah orde baru, memaksa mereka untuk berpindah dan menjauh dari alam yang selama ini diakrabinya. 

Tidak seperti sebelumnya, dimana berjalan dan berpindah adalah manasuka dan sukacita, maka di bawah bayang-bayang rezim orde baru perpindahan itu adalah kegetiran. Cerita muram menyertai perjalanan dan perpindahan mereka. Banyak dari kebiasaan orang Dayak saat itu atas nama pembangunan dan modernisme dipangkas lindang.

Ibarat kata "berjalan akan sampai pada ujungnya, berlayar akan sampai pada tepinya" demikianlah akhirnya kisah orang-orang Dayak ini. Kebijakan rezim orde baru memaksa mereka sampai pada ujung dari perjalanannya. Mungkin juga zaman telah memaksa mereka berhenti dari berjalan dan berpindah dan akhirnya mereka pun membentuk pemukiman di beberapa tempat-tempat tertentu.  Babak baru dimulai dalam hidup yang orang sebut sebagai kemodernan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun