Syamsurijal Ijhal Thamaona
Syamsurijal Ijhal Thamaona belajar menulis dan meneliti

Subaltern Harus Melawan Meski Lewat Tulisan Entah Esok dengan Gerakan Fb : Syamsurijal Ad'han

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Dungu?

12 Februari 2019   16:53 Diperbarui: 23 Februari 2019   21:30 16 1 1

Pernah nonton film Johanna? Itu loh....film lydia Kandaou yang berperan sebagai anak kompeni Belanda. Film itu bercerita tentang seorang gadis bule, anak seorang Belanda yang diculik oleh seorang pejuang. Sang pejuang adalah orang yang terbiasa hidup di alam liar. Kesan yang dimunculkan, pemuda gagah ini adalah seorang pribumi dengan kehidupan sedikit liar untuk tidak menyebutnya primitif.

Bisa diduga, begitu Anna, gadis cantik yang diperankan oleh Lydia, bersua dengan si pemuda, pandangan merendahkan segera muncul dari gadis itu. Tak terhitung berapa kali Anna mendungu-dungukan si pemuda. Tapi sang pemuda tak peduli. Tanpa kata-kata Ia terus menyeret Anna ke dalam hutan.

Saat di tengah hutan itulah situasi berbalik. Dimulai ketika malam dan keduanya mau tidur. Si Pemuda melumuri dirinya dengan semacam lumpur hijau yang terlihat menjijikkan di mata Anna.  

Tatkala sang pemuda ingin melumurinya, si Anna menolak dengan keras dan tentu saja sambil menyebut si pemuda dungu, tolol bin geblek. Tapi apa yang terjadi saat tidur, Anna sama sekali tidak bisa memejamkan matanya, nyamuk-nyamuk datang mengerumuni tubuhnya. Sementara sang pemuda dengan lumuran hijaunya,  tidur tenteram tak jauh darinya.

Rupanya sang pemuda kasian melihat Anna, maka dia kembali mengambil lumpur atau ramuan yang berwarna hijau itu. Lalu setengah memaksa melumuri ke kaki, wajah dan lengan Anna. Tentu saja Anna berteriak-teriak dan seperti biasa mengeluarkan makian dungu. Tapi kali ini sang pemuda tidak tinggal diam. Untuk pertama kalinya, sembari tetap melumuri tubuh Anna, ia mendadak berteriak marah. "Kamu mau dikerumuni terus nyamuk-nyamuk dan mungkin juga binatang lainnya sepanjang malam. Goblok!

Ucapan terakhir si pemuda membuat Anna terperangah. Kata dungu yang sering diucapkannya tiba-tiba membalik kepadanya. Sialnya kata itu justru diucapkan oleh pemuda yang selama ini sering ia dungukan. Untuk sesaat ia termangu dan kediamannya dalam waktu singkat itu membuat si pemuda sukses melumurinya.

Setelah itu Anna bisa tidur dengan nyenyak. Si pemuda diam diam meliriknya dari samping sembari tersenyum. Sejak saat itu banyak hal yang terjadi di hutan yang menunjukkan Anna justru tidak tahu apa-apa dan terlihat dungu, sebaliknya pemuda menjadi terlihat sangat tanggap dan cerdas. Anna tidak pernah lagi berani mendungu-dungukan sang pemuda,  justru yang terjadi  Anda bisa tebaklah,  Anna  jatuh hati pada sang pemuda.

Dokpri
Dokpri
Kebiasaan mendungukan dan  menggoblokkan orang lain adalah khas kolonialisme dalam memandang jajahannya. Bukankah penjajahan muncul salah satunya karena Barat merasa lebih beradab,lebih pintar dari bangsa2 di timur. Mereka lalu datang dengan maksud memperadabkan masyarakat jajahannya. 

Mereka tidak sadar sudut pandang yang digunakan untuk menilai cerdas dan beradabnya jajahannya adalah cara pandang dia, kacamata dunianya. Maka alih-alih memperadabkan, sebaliknya kolonialisme menyengsarakan. Bahkan ketika sudut pandang dibalik, sang terjajah yang memandang pada sang penjajah, maka yang terlihat picik dan dungu adalah penjajahnya. Film Johanna cukup apik memperlihatkan itu.

Jangan terbiasa mendungukan orang dan menganggap diri kitalah yang paling berakal sehat. Selain karena hal itu dengan gamblang memperlihatkan watak kolonial pada diri Anda, juga tak ada orang yang betul betul dungu dan sebaliknya benar-benar cerdas. 

Semua berada dalam batas-batas sejarah, pengetahuan dan situasi yang mengitari dirinya. Orang Cerdas dan bijak bestari malah bilang, "semakin banyak saya tahu, semakin saya paham pula bahwa diri saya ternyata bodoh"