Mohon tunggu...
Rodhiyah Nur I.
Rodhiyah Nur I. Mohon Tunggu... Mahasiswa Pendidikan Islam Anak Usia Dini UIN Malang

Masih belajar mendengar.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Berani Memilih, Berani Menerima Konsekuensi

3 Oktober 2020   00:52 Diperbarui: 3 Oktober 2020   01:16 64 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Berani Memilih, Berani Menerima Konsekuensi
estrilook.com

"Energi yang kita keluarkan sekarang, akan berbuah investasi yang akan terbayar nanti," ujar Amy.

Pilihan menjadi bagian dari kehidupan. Diri kita pada hari ini adalah konsekuensi pilihan kita di masa lalu, maka kita di masa depan adalah konsekuensi pilihan kita pada hari ini.

Banyak dari kita menganggap bahwa telah melakukan kesalahan dalam mengambil sebuah pilihan. Kita merasa bersalah dan terkadang ingin mengulang masa lalu untuk memperbaiki itu semua. 

Contohnya seperti kita salah dalam memilih pemimpin, salah memilih pasangan, salah memilih jurusan, salah memilih baju, atau hal-hal lainnya, dari yang bersifat besar sampai ke hal-hal yang bersifat kecil. 

Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa kita terlalu berharap pilihan yang kita ambil adalah pilihan yang tepat, sehingga tidak menerima segala konsekuensi yang dihadapi setelahnya.

Amy Morin, psikoterapis dewasa dan anak dari Northeastern University menuturkan bahwa seseorang perlu mengenal adanya aturan dan konsekuensi untuk menjadi disiplin

Prinsipnya "mereka akan mendapat konsekuensi jika tidak mengikuti aturan." Akan tetapi banyak orangtua hanya berhenti pada tahap membuat aturan, namun luput dalam menegakkannya. 

Orangtua sering tidak menegakkan konsekuensi saat anak melanggar aturan yang penyebabnya beragam, bisa dikarenakan iba melihat anak tertekan, merasa terlalu keras pada anak kemarin, atau terlalu lelah menghadapi perilaku anak.

Orangtua terkadang merasa iba ketika melihat anak-anak mengalami hal sulit, seperti saat anak merasa lelah bersekolah. Akan tetapi merasa iba dengan alasan tersebut tidak menjadi solusi. Menurut Amy dengan memberikan konsekuensi artinya kita telah menjaganya supaya tetap merasa aman dengan menetapkan batas.

Kesalahan orangtua lainnya karena merasa terlalu keras pada anak, contohnya saat sudah masuk jam makan atau belajar, tetapi masih asik bermain game di gadget, terlebih saat pandemi, anak-anak lebih banyak bermain gadget daripada dengan lingkungan sekitarnya. 

Oleh karena itu, perilaku disiplin menjadi langkah tepat dalam hal ini, sebagai konsekuensinya banyak orangtua yang melakukan tindakan dengan  mengambil hak bermain gadget. 

Tetapi orangtua terkadang merasa terlalu keras terhadap hal tersebut, sehingga mengurungkan hukuman yang akan diberikan. 

Amy berpendapat, "jika Anda menawarkan disiplin keras sebelumnya, itu tidak berarti Anda tidak boleh mendisiplinkan sekarang. Sangat penting bahwa Anda konsisten dengan disiplin."

Ketika kita menunjukkan inkonsistensi, anak akan merasa kebingungan yang berakibat masalah terhadap perilaku. 

"Jadi ketika kita keras kemarin, tunjukkan pada anak bahwa Anda masih akan menegakkan aturan hari ini," pungkas Amy.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x