Mohon tunggu...
Rodhiyah Nur I.
Rodhiyah Nur I. Mohon Tunggu... Mahasiswa Pendidikan Islam Anak Usia Dini UIN Malang

Menjadi baik

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Bolehkah Aku Bertanya?

15 September 2020   15:34 Diperbarui: 15 September 2020   15:37 111 17 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bolehkah Aku Bertanya?
illustration for Kinedu Blog

Anak-anak bertanya, itu fakta. Terlebih jika usianya menginjak satu digit. Dunia menjadi bahan membingungkan yang harus ditanyakan. Setiap jawaban akan menimbulkan pertanyaan baru, hingga orangtua dan anak akan sekakmat pada satu kata "Mengapa?"

Sains menyimpan kegaguman luar biasa untuk anak-anak. Dalam daftar pertanyaan anak seluruh dunia, sains jelas mendapat hitungan terbanyak. Mulanya seperti tetesan, lalu menjadi aliran deras yang tak ada hentinya. Apakah Tuhan bersekolah? Bagaimana rasanya terbang? Bagaimana caranya bisa ke bulan? Dimana ujung pelangi? Seberapa tinggi balonku bisa terbang di angkasa? Mengapa langit berwarna biru? Mengapa, mengapa, dan mengapa?

Setiap orang tua pasti punya teknik saat berurusan dengan anak yang sering bertanya. Sebagian mencoba menjawab semampunya, sebagian membuka buku, sebagian mencari di internet, sebagian berkata "tanya ayahmu," atau "tanya ibumu." Sebagian akan langsung menepis dengan mengangkat bahu dan berkata, "cari sendiri jawabannya!."

Sebuah tim peneliti dari University of Hawaii dan University of Michigan menemukan penyebab anak sering bertanya "mengapa", dikarenakan anak ingin mendapatkan informasi mengenai keingintahuannya, jika sudah mendapatkan jawaban yang memuaskan, maka anak akan berhenti menghentikan interogasinya.

Leon Hoffman, direktur Pacella Parent Child menyarankan agar orangtua meluangkan waktu untuk menjawab pertanyaan anak. Karena anak hanya ingin mencari tahu hal baru yang ingin dia ketahui dan masa ini pasti akan berlalu dengan sendirinya seiring bertambahnya usia.

Anak yang sering bertanya merupakan potensi yang luar biasa yang harus dikembangkan. Hal ini yang saya tanamkan dalam diri saya ketika melihat anak yang sering bertanya dan tidak tahu jawabannya. Seringkali saya ajan mencoba jujur menjawab tidak tahu atau mengalihkan pada cerita dimana anak dapat menyimpulkan sendiri jawaban dari pertanyaannya.

Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan tidak berhenti bertanya merupakan karakter bahwa anak memiliki bakat terpendam dan orangtua harus jeli untuk memahami hal tersebut. Bakat menurut Utami Munandar adalah kemampuan bawaan, sebagai potensi yang masih perlu dikembangkan dan dilatih, agar dapat terwujud. Hal inilah yang menjadi tantangan para orangtua dan calon pendidik untuk mengerti bakat yang dimiliki anak.

Kalaupun suatu saat mereka merasa jatuh dan gagal, setidaknya mereka tahu ada kisah W. Mitchell, motivator kelas dunia yang mengalami cacat karena kecelakaan. Beliau berkata, "Ketika tubuh saya normal, saya bisa melakukan sepuluh ribu hal. Sekarang saya tidak bisa melakukannya karena kecelakaan yang saya alami. Meski demikian, saya memilih untuk fokus pada seribu hal yang dapat saya kerjakan." Beliau telah menjadikan kekurangan sebagai anugerah, pembeda dari kebanyakan orang.

Sehingga akan tercipta masa depan dimana anak tidak takut untuk bertanya dan merasa gagal. Orangtua juga tidak perlu cemas akan masa depan anak, seperti "dimana ia akan berkuliah" atau "nanti mereka akan bekerja apa". 

Namun sebaliknya, akan tercipta dimana nilai atau gaji menjadi tidak penting dan bukan menjadi alasan utama dalam melakukan aktifitas setiap hari. Anak akan merasa bahagia karena telah menemukan hal yang disukai dan sesuai dengan bakat yang dimilikinya.

VIDEO PILIHAN