Mohon tunggu...
Igoendonesia
Igoendonesia Mohon Tunggu... Catatan Seorang Petualang

Lovers, Adventurer. Kini tinggal di Purbalingga, Jawa Tengah.

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Berkelebat ke Perang Bubat

19 Mei 2015   09:40 Diperbarui: 17 Juni 2015   06:50 720 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Berkelebat ke Perang Bubat
14320030391150923507

Tulisan ini dipersempahkan untuk meperingati Hari Buku Nasional yang jatuh pada 17 Mei kemarin. Sebuah resensi buku-buku tentang sebuah perang legendaris yang pernah menghiasi sejarah peradaban kerajaan di Jawadwipa, Perang Bubat.

Perang Bubat yang menjadi salah satu epik paling terkenal yang mewarnai sejarah perjalanan Majapahit, kerajaan terbesar di nusantara. Lapangan atau Tegal Bubat, menjadi saksi peperangan tak seimbang antara prajurit-prajurit Wilwatikta dengan ksatria dari Kerajaan Sunda Galuh. Perang legendaris itu bahkan masih menyisakan ingatan kolektif yang memunculkan ketidaknyamanan hubungan antara Jawa dan Sunda hingga saat ini. Sampai-sampai ada ‘larangan’ tak tertulis, gadis sunda disunting jejaka jawa

Perbincangan dengan seorang sahabat via pesan pendek mengenai kisah perang mengharu biru itu membuat ingatan saya kembali ke Tegal Bubat. Saya pernah menulis kontroversi perang itu di Rubrik Ruang Baca Koran Tempo pada 29 Juni 2009. Ditingkahi rinai hujan sore, saya menulis kembali kisah itu sekaligus memperingati hari buku nasional.

Setidaknya saya sudah membaca empat buku yang berkisah pada palagan itu. Salah satu novelis yang cukup menggebrak menulis Perang Bubat adalah Langit Kresna Hariadi. Penulis favorit saya asal Malang itu mengisahkan perang tersebut dengan apik di seri keempat, Pentalogi Gajah Mada. Sastrawan Sunda Hermawan Aksan juga tak ketinggalan mengggurat cerita Bubat dengan "Dyah Pitaloka: Senja di Langit Majapahit".  Tasaro tak ketinggalan menulis kisah itu dalam ‘Pitaloka’.

Seperti banyak ditulis, perang yang terjadi di zaman keemasan Majapahit itu bermula ketika Prabu Hayam Wuruk hendak mempersunting Putri Kerajaan Sunda Galuh yang sudah cantik jelita pula bernama Dyah Pitaloka Citraresmi. Namun, niat itu tidak mulus karena Mahapatih Gajah Mada yang ingin mewujudkan Sumpah Sakti Amukti Palapa menghendaki Sunda Galuh tunduk terlebih dahulu dan menyerahkan putrinya itu sebagai tanda mengakui kekuasan Majapahit.

Rombongan Raja Sunda Galuh Prabu Maharaja Linggabuana yang datang membawa putrinya dengan niat untuk menikahkannya dengan Raja Majapahit, disambut Gajah Mada yang menginginkan kerajaan sunda itu tunduk. Kontan saja ambisi politik Gajah Mada ini menyakiti harga diri Prabu Maharaja Linggabuana.

Mereka menolak keinginan Sang Mahapatih dan siap bertempur sampai mati demi mempertahankan harga diri dan martabat Sunda Galuh. Dan akhirnya terjadi tragedi itupun terjadi. Lapangan Bubat memerah karena darah prajurit majapahit dan rombongan Sunda galuh tumpah. Gajah Mada dan prajuritnya menumpas habis rombongan kerajaan Sunda Galuh yang tanpa persiapan karena datang bukan untuk berperang. Prabu Maharaja Linggabuana, permaisuri dan putrinya Dyah Pitaloka juga turut gugur.

Kisah agak berbeda tentang perang bubat dikisahkan kembali dalam sebuah novel karya sastrawan sunda peraih penghargaan Sastra Samsudi dari Yayasan Rancage, Aan Merdeka Purnama. Novel Aan yang diterbitkan oleh Qanita tidak setia kepada babon sejarah yang sudah banyak tertanam dalam benak khalayak. Karya pemimpin redaksi Majalah Sunda Ujung Galuh yang diberi judul simple 'Perang Bubat' itu hadir dalam narasi yang lain.

Ia membalikan anggapan bahwa Gajah Mada-lah yang bersalah dalam tragedi itu. Menurutnya, Gajah Mada muda memiliki hubungan khusus dengan Dyah Pitaloka sang putri raja. Hubungan mereka terjalin tatkala Gajah Mada yang digambarkan merupakan keturunan cina dengan nama kecil Ma Hong Foe mengabdi sebagai prajurit di kerajaan sunda Galuh. Hubungan antara Gajah Mada atau dalam novel itu disebut bernama Ramada dengan Pitaloka yang berbeda kasta tentu saja kandas.  Ramada yang merana karena cinta tak kesampaian akhirnya mengembara ke Majapahit dan karir keprajuritannya cemerlang saat menyelamatkan Raja Jayanegara hingga menduduki posisi orang nomor dua di Majapahit, seorang Mahapatih.

Jadi, Aan lebih memilih bahwa intrik-intrik politik dan perebutan kekuasaan di lingkungan Istana Majapahit lah yang membuat, sang Mahapatih menjadi tumbal dalam Perang Bubat. Gajah Mada dipaksa mengambil tanggung jawab itu sebagai panglima angkatan perang tertinggi itu oleh orang-orang yang ingin mengenyahkannya. Apalagi, Prabu Hayam Wuruk juga merasa tersaingi dengan kekuasaan Mahapatihnya yang sangat besar.

Imajinasi Aan juga bergerak liar dan menyebutkan bahwa sesungguhnya Prabu Linggabuana dan Dyah Pitaloka tidaklah gugur di Bubat. Aan seperti disebutkan dalam pengantarnya memang tidak terpaku kepada sumber-sumber sejarah tradisional yang menceritakan tragedi bubat seperti Pararaton, Carita Parahyangan, Kidung Sunda, atau Kidung Sundayana. Ia menyebutkan dalam bukunya bahwa "Perang Bubat" mendasar pada sumber lisan sejumlah orang dalam perjalanannya dari Bandung Selatan, Garut, hingga ke Bubat di Kecamatan Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.

Ia pun menegaskan kalau Perang Bubat versinya hanyalah kisah fiksi semata. "Ini bukan novel sejarah!" tutur Aan Merdeka Permana dalam pengantarnya.

Namun, meski meski mengklaim bukan novel sejarah tetap ada beberapa kejanggalan dalam novel tersebut. Dalam ceritanya, Aan menyebutkan Gajah Mada yang bernama sunda Ramada, seorang prajurit rendahan sangat mudah bertemu dengan Pitaloka sehingga mereka jatuh cinta. Sesuatu yang agak janggal untuk kehidupan di era kerajaan seperti dulu.

Demikian pula ketika ia mengurai latar belakang Gajah Mada yang dalam novel itu yang disebut pernah mengabdi di istana Galuh. Jika benar Ramada adalah Gajah Mada maka seting waktunya tidaklah tepat. Ketika Ramada berada di Sunda Galuh dan menjalin cinta dengan Dyah Pitaloka maka pada saat itu pula Gajah Mada sudah menjadi Mahapatih Majapahit.

Kisah Gajah Mada yang digambarkan memiliki ayah yang berasal dari daratan cina dan ibu dari Banten yang kemudian mengabdi ke Kerajaan Sunda Galuh juga terasa berlebihan.

Namun, lepas dari kritik-kritik itu Aan Merdeka Permana telah menyajikan epik Perang Bubat dengan apik. Dan, Aan juga menyampaikan dalam novel tersebut bahwa intrik-intrik politik dan perebutan kekuasaanlah yang menjadi ujung pangkal setiap tragedi. Sesuatu yang masih terjadi hingga sekarang. Novel tersebut juga berpesan agar sentimen etnis antara Sunda-Jawa akibat perang bubat sudah selayaknya dihentikan.

Selamat Hari Buku, Selamat Membaca

Salam Mendoan

Sumber foto : kaskus

VIDEO PILIHAN