Mohon tunggu...
Ignasius Yudi
Ignasius Yudi Mohon Tunggu... -

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Artikel Utama

Malamnya Jakarta, Tempat Ajang Kebut Anak Orang Kaya

3 Oktober 2016   19:48 Diperbarui: 3 Oktober 2016   21:18 2139
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi: get1car.com

Saat ini, Banyak sekali orang-orang kaya yang sedang naik daun karena hasil usahanya yang sedang maju ataupun misalnya mendapat gaji yang rata-rata 250 juta per bulan. Dengan diperolehnya uang sebanyak itu, sudah pasti seseorang menginginkan mimpinya sejak dulu untuk tercapai, seperti misalnya membeli mobil dengan kecepatan tinggi yang harganya pun boleh dibilang sangat fantastis seperti Ferarri, Lamborghini, ataupun merek terkenal lainnya dan juga motor seperti Ducati, Yamah, Triumph, dll.

Orang-orang hebat tersebut kadang kala membelikan mobil sejenis itu untuk diberikan kepada anaknya sebagai hadiah --sebagai contoh: Hadiah ulang tahun, kenaikan kelas, nilai terbagus. Hal tersebut memang juga tidak bisa disalahkan karena memang itu adalah suatu hal yang perlu dibanggakan oleh orang tua sehingga seorang anak bisa mendapatkan penghargaan. Namun, apabila orang tua memberikan anaknya mobil saat masih di bawah umur, itu adalah kesalahan besar.

Sebagai kasus konkretnya adalah kasus kecelakaan Abdul Qodir Jailani alias Dul --anak dari artis Ahmad Dhani. Dul saat itu menggunakan mobil Lancernya untuk mengebut di jalan tol Jagorawi, Dul mengendarai mobil itu secepat 176 km/jam dan akhirnya hilang kendali dan menabrak pembatas jalan dan masuk jalur yang berlawanan arah. Namun ini hanyalah satu dari sekian kasus anak yang masih di bawah umur untuk mengendarai kendaraan akibat diberikan orangtuanya sebuah mobil.

Di Jakarta dan sekitarnya, banyak sekali anak-anak muda yang nongkrong di daerah elit seperti PIK (Pantai Indah Kapuk), Senayan, Alam Sutera --kecuali ini karena berada di Tangerang Selatan-- untuk mengadakan balapan liar, tidak tanggung tanggung mobil yang mereka gunakan adalah yang mayoritas diatas Rp 2 milliar, saya memiliki teman di Alam Sutera yang masih di bawah umur namun telah menggunakan mobil Porsche 911 turbo S dengan 580 kecepatan kuda dan 0-100 km/jam hanya dengan waktu 2,9 detik saja. Ia dibelikan orangtuanya mobil ini sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke 16, ia bercerita kepada saya bahwa banyak sekali teman-temannya yang memiliki jenis mobil yang sama namun banyak juga yang sudah “hancur” akibat tabrakan.

Mereka melakukan semua ini untuk mendapatkan koneksi baik teman sesama anak orang penting maupun untuk mencari kegiatan saja, mereka jarang sekali muncul pada siang hari karena mereka sudah tahu bahwa jalanan yang kosong adalah di atas jam 10 malam, ketika mereka semua berkumpul, mereka pasti akan langsung menginjak gas penuh. Orang-orang seperti ini adalah orang yang tidak tahu rasa takut akan mati.

Tahun 2015 saya pernah mempunyai teman yang juga adalah salah satu dari sekian banyak anak yang melakukan balapan liar, saat itu saya menanyakan kepada teman saya ini, “lu pernah gak dikejar polisi ia menjawab “jelas pernah, tapi yakin polisi bisa ngejer mobil secepet ini?” sambil tertawa.

Sekarang di daerah PIK (Pantai Indah Kapuk), sudah mulai berkurang balap liarnya karena polisi sudah menerapkan “polisi anti balapan” banyak sekali pembalap liar dengan mobil sportnya dikejar oleh polisi. Mulai sejak itu, jarang sekali ditemukan orang yang balapan, setelah melakukan balapan mereka biasanya akan “ngumpul” di restaurant yang mahal hanya untuk bercerita mengenai modifikasi mobil atau bahkan hanya bercanda ria.

Saya pernah diajak untuk ikut naik mobil bersama teman saya dan balapan bersama temannya, mobil ini ketika diinjak gasnya langsung mendorong saya sampai tidak bisa mengangkat tubuh untuk membungkuk, hanya bisa bersandar di kursi, ia menceritakan bahwa, ia pernah mempunyai teman, saat itu dia tengah balapan di tol dalam kota, temannya ini menabrak truk sampai setengah dari mobilnya hilang, untungnya ia selamat dari kecelakaan itu. Ia berkata kepada saya.

“Yud, do you think money can buy happiness?, if yes it means you already bought sports car, if no it means you should bought one someday, because happiness is not in the money but the things you wasted with your money”.

Setelah dia mengajak saya jalan-jalan, ia menunjukan saya mobil-mobil koleksinya yang harganya miliaran tersebut, memang tidak bisa dipungkiri lagi, mobil tersebut memiliki nilai estetika yang sangat tinggi dan dengan kecepatan yang mampu dicapainya bukan hal yang tidak wajar harga tersebut menjadi mahal.

Sebagai generasi muda sudah sepatutnya kita membangun masa depan yang lebih baik, jangan memperparah kesalahan yang telah dilakukan oleh generasi sebelumnya, dengan melakukan kebut-kebutan seperti itu, akan membahayakan bagi diri kita sendiri maupun orang lain yang sama-sama menggunakan jalan umum.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Gaya Hidup Selengkapnya
Lihat Gaya Hidup Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun