Iqbal Iftikar
Iqbal Iftikar Freelancer

Pecinta kartu pos, postcard blogger, penikmat balapan (Formula 1, MotoGP, FormulaE, IndyCar), pengguna kendaraan umum. Opini saya bukan diri saya. Menulis sebagai kebutuhan diri dan jiwa.

Selanjutnya

Tutup

Olahraga Artikel Utama

Asian Games, Perjalanan Panjang Asia, 67 Tahun Pamerkan Kekuatan

15 Mei 2018   11:50 Diperbarui: 17 Mei 2018   00:02 2531 3 1
Asian Games, Perjalanan Panjang Asia, 67 Tahun Pamerkan Kekuatan
Pembukaan Asian Games New Delhi 1951. Foto oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga India

Perhelatan olahraga terbesar se-Asia tinggal menghitung hari. Sampai kurang lebih 90 hari ke depan, Indonesia akan mencatatkan namanya kembali di lembaran panjang sejarah Asian Games semenjak terakhir kali mengadakan eventĀ serupa tahun 1962.

Dari 45 negara yang terdaftar sebagai anggota Dewan Olimpiade Asia (Olympic Council of Asia/OCA), hanya 9 negara yang pernah dan akan (sampai tahun 2026) menjadi tuan rumah Asian Games. Negara tersebut adalah: India, Filipina, Jepang, Indonesia, Thailand, Iran, Korea Selatan, Cina dan Qatar.

Dari 17 edisi yang sudah diselenggarakan, hanya empat yang diadakan di luar Asia Timur dan Tenggara. Di antaranya ialah New Delhi 1951 dan 1982, Teheran 1974 dan Doha 2006).

Edisi terakhir Asian Games, Incheon 2014, diikuti oleh 9.501 atlet dari 45 negara peserta. Berarti, rata-rata setiap negara mengirimkan 211 atlet. Bandingkan dengan Olimpiade Rio 2016 yang setiap negara rata-rata hanya mengirimkan 54 atlet. Jadi, bisa dikatakan Asian Games merupakan acara olahraga multi-events terbesar di dunia, atau setidaknya setingkat dengan Olimpiade.

Di balik kemeriahan Asian Games, tercatat sejarah panjang negara-negara Asia untuk menunjukan kekuatan mereka. Asia yang sering dicap sebagai negara dunia kedua atau ketiga oleh Barat ingin menunjukan bahwa mereka lebih dari itu. Mereka mampu untuk bersaing dan menjadi yang terbaik, setidaknya di bidang olahraga.

Berawal dari London 1948

Semenjak berakhirnya Perang Dunia Kedua tahun 1045, banyak negara-negara Asia, yang sebelumnya merupakan koloni dari negara lain, menyatakan kemerdekaannya.

Para petinggi olahraga dari negara-negara Asia yang bertanding di Olimpiade London 1948 pun melihat ini sebagai momentum kebangkitan Asia di panggung olahraga dunia.

Cina dan Filipina mengusulkan untuk menghidupkan kembali Far Eastern Games, pesta olahraga negara Timur Jauh (Asia Timur dan Asia Tenggara kini), yang sempat berlangsung 11 edisi sebelum Perang.

Namun, perwakilan Komite Olimpiade India, Guru Dutt Sondhi, meragukan hal tersebut. Ia berpendapat bahwa melaksanakan kembali Far Eastern Games tidak akan mampu merepresentasikan kekuatan Asia. Jadi, dia mengusulkan untuk memperluas cakupan pertandingan menjadi seluruh Asia, bukan hanya Timur Jauh.

Ide tersebut direalisasikan dengan dibentuknya Federasi Atletik Asia (Asian Athletic Federation/AAF) di New Delhi tahun 1949 dan Federasi Asian Games (Asian Games Federation/AGF) dibentuk untuk menyelenggarakan Asian Games I di tahun 1950.

Namun, pertandingan Asian Games I di New Delhi belum dapat dilaksanakan sesuai jadwal. Asian Games I baru dapat dilaksanakan tahun 1951. Program Asian Games yang disusun oleh AGF yang menyatakan Asian Games diadakan empat tahun sekali terhitung dari 1950 tidak berubah.

Oleh karena itu, jarak dari Asian Games I di New Delhi 1951 dan Asian Games II di Manila 1954 hanya 3 tahun merujuk pada asumsi Asian Games I diadakan tahun 1950.

Penuh Krisis Sebelum Bertransformasi

Perjalanan sejarah Asian Games bukan tanpa ganjalan. Struktur organisasi AGF yang masih berkonsolidasi menjadi satu alasan. Situasi politik Asia yang belum stabil pasca perang dan masa dekolonisasi menjadi alasan lainnya. Ditambah berbagai alasan lainnya, Asian Games diterpa berbagai masalah di awal perkembangannya.

Masalah yang menyita perhatian dunia internasional muncul di Asian Games IV Jakarta 1962. Indonesia, yang kala itu tidak mengakui negara Israel dan Taiwan, enggan mengeluarkan visa untuk atlet dari dua negara tersebut.

Alhasil, keanggotaan Indonesia di Komite Olimpiade Internasional (International Olympic Committee/IOC) dicabut dan IOC mencabut dukungannya terhadap Asian Games Jakarta 1962.

Berita di Daytona Beach Journal tentang pencabutan dukungan IOC terhadap Asian Games IV (sumber: news.google.com)
Berita di Daytona Beach Journal tentang pencabutan dukungan IOC terhadap Asian Games IV (sumber: news.google.com)
Di tahun 1970, Korea Selatan membatalkan niatnya untuk menjadi tuan rumah Asian Games VI dengan alasan krisis ekonomi dan keamanan nasional. Alhasil, tuan rumah Asian Games V, Bangkok, ditunjuk kembali untuk menjadi tuan rumah dengan pertimbangan fasilitas yang sudah memadai. Jepang sempat ditunjuk menjadi pengganti Korea Selatan, namun menolak karena ingin fokus menjadi tuan rumah Expo '70 di Osaka. Asian Games VI juga menjadi Asian Games pertama yang disiarkan langsung ke seluruh dunia.

Teheran 1974 menandakan resminya China, Mongolia dan Korea Utara bergabung ke dalam AGF. Dengan masuknya China ke AGF, keberadaan Taiwan menjadi terancam.

Alhasil, walau sempat mendapat izin untuk berkompetisi dengan nama Chinese Taipei, AGF memutuskan untuk mengeluarkan Taiwan dari daftar peserta Asian Games VII. Selain Taiwan, keikutsertaan Israel dalam Asian Games ditentang keras oleh negara-negara Arab. Akhirnya, Asian Games VII menjadi Asian Games terakhir untuk Israel.

Berita dari The Montreal Gazette (22/11/78). Sumber: news.google.com
Berita dari The Montreal Gazette (22/11/78). Sumber: news.google.com
Pakistan mengundurkan diri dari tuan rumah Asian Games 1978 dengan alasan krisi ekonomi dan politik yang menimpa negaranya. Bangkok kembali ditunjuk menjadi tuan rumah untuk ketiga kalinya.

Ketidakstabilan politik Timur Tengah dan China membuat AGF memutuskan untuk tidak mengundang Israel dan Taiwan sebagai peserta. Alhasil, beberapa federasi internasional, seperti Federasi Atletik Amatir Internasional (IAAF) mengancam untuk mengecualikan atlet Asia dari Olimpiade Moscow 1980.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2