Mohon tunggu...
I. F. Donne
I. F. Donne Mohon Tunggu... Writer

Penulis adalah seorang Magister Pendidikan lulusan Universitas Negeri Jakarta, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Penulis pernah aktif di berbagai komunitas sastra di Jakarta. Beberapa diantaranya; Sastra Reboan, Kedailalang, dan KPSI (Komunitas Pecinta Seni dan Sastra Indonesia). Karya-karyanya diantaranya; Novel ‘Danau Bulan’, Serampai Cerpen Vol. I ‘Soejinah’ dan ‘Dunia Luka’ Vol. II. Antologi puisi bersama sastrawan-sastrawati. Diantaranya; antologi puisi Empat Amanat Hujan (Bunga Rampai Puisi Komunitas Sastra DKJ), Kerlip Puisi Gebyar Cerpen Detak Nadi Sastra Reboan, Kitab Radja dan Ratoe Alit, Antologi Fiksi Mini, dan beberapa puisinya juga dimuat di majalah Story. Penulis juga sudah memiliki dua buku antologi cerpen bersama beberapa penulis, yaitu Si Murai dan Orang Gila (Bunga Rampai Cerpen Komunitas Sastra DKJ) dan Kerlip Puisi Gebyar Cerpen Detak Nadi Sastra Reboan. Beberapa cerpennya pernah memenangkan lomba tingkat nasional, diantaranya berjudul, Sepuluh Jam mendapatkan juara 2 di LMCPN (Lomba Menulis Cerpen Pencinta Novel), Randu & Kematian pada tahun 2011 dan Selongsong Waktu pada tahun 2013 mendapatkan juara harapan kategori C di Lomba Menulis Cerpen Rotho - Mentholatum Golden Award. Penulis juga aktif di berberapa organisasi kemasyarakatan, seni dan budaya. Aktifitas yang dijalani penulis saat ini adalah seorang jurnalis di salah satu surat kabar online nasional di Indonesia.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Kematian Seorang Fotografer

12 April 2020   02:10 Diperbarui: 12 April 2020   02:32 51 2 0 Mohon Tunggu...

Aku diam, bersimpuh telak di depan wajah pasinya. Aku tak ingin mengatakan sepatah kata pun. Aku hanya sedang berpikir, dan yang  kupikirkan adalah nasibnya yang begitu tragis. Entah apa yang harus kurangkai untuk mengetahui betapa ia begitu terlihat gusar sebelum jasadnya lebam membiru. Ah, ia benar-benar membuatku penuh tanya.
         Beberapa polisi berusaha membuatku bercerita panjang tentangnya, bahkan seorang polisi bernama Gunadi, sudah beberapa kali menanyaiku tentang dirinya, padahal sudah kujawab, bahwa aku baru saja mengenalnya. Namun ia tak benar-benar mempercayaiku. Pak Gunadi terus mendesakku untuk bercerita tentangnya.
          Aku mengenalnya di sebuah bar yang terletak di tepi jalan raya, di sebuah kota yang begitu jarang mendapati cuaca panas. Kota itu begitu dingin dan sejuk, kota yang membuatku tenang akan kesendirian, dan kesunyian, tepat seperti yang  kuinginkan.
          Seperti saat itu, malam yang semakin sepi, membuatku betah duduk berjam-jam di sebuah bangku depan meja bartender. Setiap akhir pekan, aku memang kerap mendatangi bar itu untuk menuntaskan segala pikiran dan lelahnya bekerja. Sudah hampir dua tahun aku mengenal bar itu, namun malam itu sungguh berbeda dari malam-malam yang sudah ku lewati di bar itu.
          Malam itu adalah malam yang membuat perasaanku heran, sebab bar hanya dikunjungi oleh beberapa orang saja. Dua lelaki, duduk di kiri dekat jendela. Empat lelaki, asyik bermain bola sodok. Dan tiga pasang lelaki-wanita berdiri saling bersandar satu sama lain, sambil bercanda gurau, dengan tangan yang mencekek botol bir.  
          Saat itu waktu menunjukan jam sebelas malam tepat. Seorang wanita cantik, putih dengan rambut ikal sebahu, duduk di sampingku, dan memesan segelas orange jus. Dari rompi berwarna krem yang dipakainya, dan sebuah kamera yang digantung di lehernya, aku mencoba menerka, bahwa jika bukan seorang wartawan, maka ia seorang fotografer.

"Jadi, apa yang sedang kau kerjakan?" tanyaku tanpa basa-basi, karena kurasa ia sedang gusar.

          Sementara ia tak menjawab pertanyaanku. Aku berusaha mengalihkan pikirannya dengan memberikan pertanyaan beruntun.
"Jadi, apa yang sedang kau liput di kota kecil ini?" tanyaku kembali.
"Aku tahu, kau mungkin sedang meliput cuaca di kota ini ya." tanyaku lagi.
"Hmm atau kau sedang meluangkan waktumu untuk menikmati akhir pekanmu?" desakku, kesal.

          Menghadapi kebisuannya, aku pun mulai patah arang, dan membiarkannya menikmati betapa gusar pikirannya. Ah, wanita itu, ia sanggup membuatku bagai seorang lelaki bodoh yang sedang berusaha memikatnya.
"Fotografer. Aku seorang fotografer, bukan seorang wartawan." ujarnya tiba-tiba menjawab semua pertanyaanku.
"Rio." sambutku, menawarkan jabat tangan kepadanya.
"Ani." sahutnya, sambil menjulurkan telapak tangannya yang halus.

          Dan kami pun berbincang panjang, saling bercerita satu sama lain.
                               
                               ***

Ani bercerita padaku, bahwa ia memulai karirnya sejak ia masih kuliah di sebuah perguruan tinggi, di kota New York, Amerika Serikat. Ia menimba ilmu di jurusan fotografi. Baginya menjadi seorang fotografer adalah hal yang sedikit diimpikan oleh seorang wanita.
"Ya, hidup sebagai seorang wanita yang hanya memasak dan membereskan rumah adalah bukan keinginanku, bahkan menjadi wanita karir yang bekerja di kantoran, bagiku itu hanya untuk memenuhi hasrat keinginan seorang perempuan yang tidak dapat hidup susah. Aku adalah jiwa yang bebas, aku ingin keliling dunia dan memotret hal-hal yang tidak pernah dilihat oleh orang-orang. Itu adalah cita-citaku." ujarnya terlihat tegas.
         
          Mendengarnya berkata seperti itu, aku pun menundukan wajah. Sungguh, aku malu dengan apa yang dikatakannya. Menurutku apa yang ia citakan lebih hebat daripada cita-cita seorang pria sepertiku, yang hanya ingin menjadi seorang penulis dengan idealisme tinggi, yang akhirnya membuat kontra dalam hati. Ah, Ani. Ia membuatku memesan seloki tequila untuk sekedar menghilangkan rasa malu.
          Waktu memasuki jam duabelas, sudah hampir sejam kami berbincang. begitu banyak kisah yang saling kami ceritakan. Saat itu aku berharap bahwa apa yang ia gusarkan telah pudar. Namun apa yang kuprediksikan salah, memasuki jam duabelas lewat limabelas menit, ia mulai bercerita tentang sebuah kota yang pernah didatanginya.
"Kau tahu, kota ini bernama Honiara, Ibu kota Kepulauan Solomon. Sebuah Ibu kota, dimana kau tidak akan pernah menemukan gedung pencakar langit." ujarnya serius.
"Nama Honiara itu pun sangat berarti, dimana ini adalah transliterasi dari dialek lokal negara itu, maknanya adalah 'tempat angin barat daya bertiup'." sambungnya penuh semangat.

         Ani bercerita, bahwa nama kota itu sangat cocok dengan kondisi alam setempat, dimana angin barat daya bertiup sepanjang tahun. Dari arah angin itulah, kita dapat melihat banyak orang dengan kehidupan yang sederhana.
"Jadi, Honiara adalah kota yang indah menurutmu? tanyaku.
"Tak hanya indah dengan garis pantai, tapi kau akan merasa berada di kota masa lalu, ketika berkunjung ke kota itu." jawabnya.
"Lalu apa yang membuatmu terkesan dengan kota itu?" tanyaku penasaran.

                                ***

Ani mengatakan, di kota termiskin itu, ia meninggalkan sesak yang membuatnya terus merasa bersalah. Suatu hari memasuki senja, ia menelusuri sebuah gang sempit, yang bahkan cahaya matahari pun tak dapat menyinari gang sempit itu. Sesampainya di ujung jalan, ia berhenti pada sebuah rumah yang terlihat rapuh dan kusam. Dengan langkah patah-patahnya, perlahan ia berusaha mencapai pintu lapuk rumah itu dan membukanya.
          Sungguh tak disangka, Ani mendapati satu keluarga yang sedang terbaring di atas dipan tanpa kasur, sambil saling berpelukan. Keluarga itu seperti tengkorak, namun masih bernafas, Ibu dan Bapaknya memeluk balita mereka erat-erat. Tanpa berpikir panjang, Ani spontan segera memotret pemandangan yang mengenaskan itu. Setelah memotretnya, Ani segera mengambil sebungkus roti dan air dalam tasnya, kemudian berusaha memberikan kepada balita mereka.
           Dua minggu setelah kejadian itu, Ani mengikuti lomba hasil potretannya. Lomba fotografi itu adalah lomba yang diikuti oleh fotografer profesional sedunia. Sungguh, Ani tak menyangka bahwa ternyata ia memenangkan lomba itu sebagai juara pertama.
             Keesokan harinya, Ani segera berangkat kembali ke kota Honiara. Ia berniat mengunjungi keluarga dalam fotonya, dan memberikan hadiah yang didapat, berupa uang yang menurut Ani cukup untuk memperbaiki rumah dan mencukupi kebutuhan keluarga itu. Sungguh, keadaan berbeda sangat tidak diperhitungkan oleh Ani. Sesampainya di sana, ia tak dapat menemukan keluarga itu. Ani berusaha mencari mereka, namun Ani hanya mendapati kabar, bahwa keluarga tersebut telah meninggal sehari setelah Ani memotretnya. Atas kejadian itulah kegusaran Ani terjadi, sebab ia merasa sangat bersalah.

                             ***

"Jadi, kau sudah mendapati objek fotomu di kota ini?" tanyaku kembali.
"Tidak. Aku ke kota ini bukan untuk memotret apapun." jawabnya, sambil melemparkan senyum indah padaku.

          Kemudian ia meminta sebotol air mineral pada bartender, dan pamit ke kamar kecil sambil menitipkan kamera, dan foto keluarga yang ia ceritakan padaku. Setengah jam selanjutnya, kudengar suara teriakan wanita dari arah kamar kecil wanita.
          Mendengar teriakan itu, Boy, seorang bartender yang melayani aku dan Ani, berlari kencang untuk segera melihat apa yang terjadi. Kemudian satu persatu orang yang berada di bar itu pun berlari menuju kamar kecil wanita untuk melihat apa yang terjadi. Sementara aku, masih duduk di bangku depan bartender, dengan menyanggah kedua lenganku di atas meja, sambil kusimak foto keluarga yang diceritakan Ani.
          Tak beberapa lama kemudian, Boy kembali dengan keringat mengucur di kedua pelipisnya. Lalu, ia  berkata terbata-bata kepadaku.
'I-tu, Pak." ujar Boy terbata-bata.
"Itu apa Boy? tanyaku santai.
"I-tu, Pak."
"Itu apa, Boy?" desakku menjadi penasaran.
"Wanita yang tadi berbincang dengan Bapak, meninggal di kamar kecil wanita."

          Mendengar apa yang Boy katakan, aku pun segera berlari menuju kamar kecil wanita dengan membawa kamera dan foto yang dititipkan Ani kepadaku. Tanpa sadar aku berusaha menerobos kerumunan beberapa orang yang sedang melihat jasad Ani. Dan sesampainya di kamar kecil wanita, aku mendapati tubuh Ani terbaring kaku dengan busa keluar dari mulutnya. Beberapa menit kemudian pun polisi berdatangan satu persatu dan segera menyegel pintu masuk kamar kecil wanita dengan police line.[ ]

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x