Mohon tunggu...
I. F. Donne
I. F. Donne Mohon Tunggu... Writer

Penulis adalah seorang Magister Pendidikan lulusan Universitas Negeri Jakarta, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Penulis pernah aktif di berbagai komunitas sastra di Jakarta. Beberapa diantaranya; Sastra Reboan, Kedailalang, dan KPSI (Komunitas Pecinta Seni dan Sastra Indonesia). Karya-karyanya diantaranya; Novel ‘Danau Bulan’, Serampai Cerpen Vol. I ‘Soejinah’ dan ‘Dunia Luka’ Vol. II. Antologi puisi bersama sastrawan-sastrawati. Diantaranya; antologi puisi Empat Amanat Hujan (Bunga Rampai Puisi Komunitas Sastra DKJ), Kerlip Puisi Gebyar Cerpen Detak Nadi Sastra Reboan, Kitab Radja dan Ratoe Alit, Antologi Fiksi Mini, dan beberapa puisinya juga dimuat di majalah Story. Penulis juga sudah memiliki dua buku antologi cerpen bersama beberapa penulis, yaitu Si Murai dan Orang Gila (Bunga Rampai Cerpen Komunitas Sastra DKJ) dan Kerlip Puisi Gebyar Cerpen Detak Nadi Sastra Reboan. Beberapa cerpennya pernah memenangkan lomba tingkat nasional, diantaranya berjudul, Sepuluh Jam mendapatkan juara 2 di LMCPN (Lomba Menulis Cerpen Pencinta Novel), Randu & Kematian pada tahun 2011 dan Selongsong Waktu pada tahun 2013 mendapatkan juara harapan kategori C di Lomba Menulis Cerpen Rotho - Mentholatum Golden Award. Penulis juga aktif di berberapa organisasi kemasyarakatan, seni dan budaya. Aktifitas yang dijalani penulis saat ini adalah seorang jurnalis di salah satu surat kabar online nasional di Indonesia.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Pelacur Bermata Satu

9 April 2020   01:22 Diperbarui: 12 April 2020   02:15 65 1 0 Mohon Tunggu...

Malam itu udara terasa hangat, angin sedikit berhembus, langit seakan ingin membuncahkan air keromantisannya. Aku berjalan perlahan di lorong yang penuh keramaian lelaki hidung belang.  Orang-orang menyebut jalan itu adalah jalan menuju surga, sebab di kanan dan kiri jalan itu telah berdiri lama segala bentuk rumah bordil. Jalan itu adalah jalan tercepat menuju ke rumah Rina, sahabat semasa aku duduk di bangku sekolah menengah atas.

          Aku dan Rina telah lama tak berjumpa, singkatnya sejak aku meneruskan sekolah disalah satu perguruan tinggi negeri diluar kota. Sebenarnya setelah lulus sekolah menengah atas, kami berdua ikut ujian masuk perguruan tinggi negeri bersama. Akan tetapi, karena kami mengambil jurusan dan kampus yang berbeda, maka kami pun mendapat kampus yang berbeda pula.

          Di masa sekolah menengah atas, aku dan Rina kerap dijuluki sahabat tapi suka. Ah, teman-teman sekelas kami memang suka bercanda. Padahal persahabatan kami memang murni sebuah persahabatan, terlebih lagi saat aku mengetahui bahwa Rina menyukai Andi, lelaki yang menurutku sempurna di mata para wanita.

          Rina adalah salah satu wanita tercantik di sekolah kami. Ah, siapalah yang tak menginginkannya menjadi kekasih. Sementara Andi adalah pujaan wanita di sekolah kami. Ibarat analekta langit, dialah bintang paling terang.

          Sebenarnya aku juga tahu, jika Andi sangat menyukai Rina, namun aku  beraksen seakan tidak mengetahuinya.  Entah mengapa aku sangat tidak setuju jika Rina menjadi kekasih Andi. Bahkan tak hanya aku, teman-teman yang telah mengetahui sifat Andi yang sebenarnya pun, sangat tidak setuju jika Rina menjadi kekasihnya.

                                   ***

Malam itu, adalah malam pertemuanku dengan Rina setelah lama tak berjumpa dengannya. Pada masa kuliah, di semester awal kami memang rajin berkirim surat. Akan tetapi pada semester-semester berikutnya, kami pun semakin jauh dari komunikasi, seakan persahabatan kami dihalau oleh kesibukan dari perkuliahan kami. Ah, Rina. Aku sangat merindukannya.

          Malam itu aku benar-benar kurang beruntung, di tengah perjalanan menuju rumah Rina, langkahku tengah diberhentikan oleh seorang mucikari tua berbedak tebal. Tak sempat aku melepaskan tarikannya, ia segera menyeretku masuk ke sebuah rumah bordil,
"Ayuk, Mas. Masuk, dilihat-lihat dulu!" serunya. Sementara aku berdiri tak berkutik.
         
          Aku  benar-benar dibuat seperti lelaki lugu yang ingin mencari tahu pemandangan seperti apa yang berada dalam sebuah rumah bordil. Ah, mucikari tua itu membuat kakiku gemetar dan tak dapat kuangkat melangkah. Aku benar-benar mati kutu, seakan tak dapat menolak rayuan mucikari tua itu.
"Silahkan pilih saja dulu yang menurut Mas cocok."sambungnya sambil menunjuk para wanita yang bertebaran dengan aksennya masing-masing.
         
          Aku benar-benar membeku, tak dapat menolak dan melarikan diri dari mucikari tua itu. Namun sesaat aku mencoba berontak dari keadaan itu, suatu hal terbesit dan membuat aku berpikir untuk sebaiknya menghormati usaha dari mucikari tua itu. Kemudian tanpa berpikir lagi dan menarik nafas panjang, aku pun beraksen layaknya seorang hidung belang yang mencari kepuasan dari wanita-wanita yang menjual harga dirinya demi memperbaiki perekonomian keluarganya.

          Dari tempatku berdiri, aku dapat melihat segala bentuk dan wajah wanita malam. Seperti di sebelah kananku, seorang wanita berdiri manja sedang menunggu lelaki hidung belang untuk menghabiskan malamnya, sambil memelintir rambut ikalnya yang sebahu. Sementara di sudut kanan meja yang di atasnya berdiri botol-botol, yang jika air di dalamnya kita minum dapat memabukkan, tengah duduk tiga wanita dengan pakaian terbuka. Sambil mengobrol, ketiga wanita itu memandang ke arah aku berdiri. Bahkan ketika aku memalingkan pandanganku ke arah depan meja bartender, aku melihat dua wanita yang sedang merayu dua hidung belang yang tengah mabuk.

          Ah, melihat itu semua aku menjadi semakin ingin melarikan diri. Aku berpikir dan mulai menyusun rencana untuk melarikan diri dari mucikari tua itu. Sungguh, segala rencana telah kupikirkan masak-masak. Namun segalanya berantakan tiba-tiba.

          Ketika aku hendak menjalankan rencanaku, aku dihadapkan pada sebuah pemandangan. Seorang wanita berambut lurus panjang, yang terlihat berdiri menghadap jendela, telah membuatku penasaran. Kemudian dengan sedikit keberanian aku pun mendekatinya,
"Permisi." ujarku terbata-bata.

          Mendengar sapaanku, ia pun segera membalikan tubuhnya perlahan. Sungguh, betapa terkejutnya aku, ketika aku mengetahui bahwa wanita tersebut adalah Rina.
"Rina!" ujarku terkejut.
"Bandi." dia pun terkejut.

          Aku pun menariknya dan segera mengajaknya duduk untuk membicarakan apa yang sedang dilakukannya di rumah bordil itu. Ah Rina sangat membuatku khawatir.

                                      ***

"Apa yang sedang kau lakukan, Rina?" tanyaku gusar, sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.
"Aku..." jawabnya tersendat.
"Aku kenapa, Rina?" desakku lagi.
"Aku... Aku terpaksa, Bandi." ia pun mulai menjelaskan.

          Rina bercerita bahwa saat kuliah di perguruan tinggi negeri yang ia pilih, ternyata ia bertemu dan satu kampus dengan Andi. Memasuki semester ketiga mereka mulai pendekatan, dan tiga bulan kemudian, mereka menjalin hubungan. Selanjutnya, memasuki semester ketujuh, mereka pun memutuskan menikah dan berhenti kuliah. Ah, Rina. Segala mimpinya telah pupus.

          Dua tahun setelah menikah, kehidupan keluarga Rina dan rumah tangganya hancur. Setahun setelah menikah, Ibunya meninggal, dan setahun berikutnya, Bapaknya pun meninggal. Selepas kedua orang tuanya meninggal, rumah tangganya pun berantakan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x