Mohon tunggu...
I. F. Donne
I. F. Donne Mohon Tunggu... Writer

Penulis adalah seorang Magister Pendidikan lulusan Universitas Negeri Jakarta, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Penulis pernah aktif di berbagai komunitas sastra di Jakarta. Beberapa diantaranya; Sastra Reboan, Kedailalang, dan KPSI (Komunitas Pecinta Seni dan Sastra Indonesia). Karya-karyanya diantaranya; Novel ‘Danau Bulan’, Serampai Cerpen Vol. I ‘Soejinah’ dan ‘Dunia Luka’ Vol. II. Antologi puisi bersama sastrawan-sastrawati. Diantaranya; antologi puisi Empat Amanat Hujan (Bunga Rampai Puisi Komunitas Sastra DKJ), Kerlip Puisi Gebyar Cerpen Detak Nadi Sastra Reboan, Kitab Radja dan Ratoe Alit, Antologi Fiksi Mini, dan beberapa puisinya juga dimuat di majalah Story. Penulis juga sudah memiliki dua buku antologi cerpen bersama beberapa penulis, yaitu Si Murai dan Orang Gila (Bunga Rampai Cerpen Komunitas Sastra DKJ) dan Kerlip Puisi Gebyar Cerpen Detak Nadi Sastra Reboan. Beberapa cerpennya pernah memenangkan lomba tingkat nasional, diantaranya berjudul, Sepuluh Jam mendapatkan juara 2 di LMCPN (Lomba Menulis Cerpen Pencinta Novel), Randu & Kematian pada tahun 2011 dan Selongsong Waktu pada tahun 2013 mendapatkan juara harapan kategori C di Lomba Menulis Cerpen Rotho - Mentholatum Golden Award. Penulis juga aktif di berberapa organisasi kemasyarakatan, seni dan budaya. Aktifitas yang dijalani penulis saat ini adalah seorang jurnalis di salah satu surat kabar online nasional di Indonesia.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Hujan

31 Maret 2020   00:00 Diperbarui: 31 Maret 2020   00:11 15 0 0 Mohon Tunggu...

Kita adalah hujan
segala kehidupan
gelisah diriuh hutan
       kita adalah hujan
       sebuah keabsahan
       di langit beranak awan
dan kita adalah hujan
derasnya bebulir ratapan
berasal muasal Tuhan

Mereka berkata bahwa air tetaplah air, dan pasir adalah pasir. Sementara aku melawan filosofi itu. Bagiku pasir dapat menjadi air, dan air dapat menjadi pasir. Dan itu sama halnya bagaimana aku memahami tentang cinta dan hidup. Bagiku hidup adalah tentang cinta, dan saling mengasihi. Cinta adalah tentang ketenangan dalam hati. Maka begitulah kita akan menemukan keabsahan teori tentang hidup.

Beberapa orang bertanya tentang Tuhan. Sementara aku tak ingin mempertanyakan tentang Tuhan. Bagiku tak sepantasnya kita bertanya tentang Tuhan. Sebab jika kita sadar atas pertanyaan itu, maka kita akan berpikir, bagaimana jika Tuhan tidak ada, lantas siapa yang menghidupkan kita di dunia fana ini.

Bahkan separuh manusia berpikir keras tentang tujuan Tuhan menciptakan dunia beserta isinya. Sementara aku berpikir keras tentang bagaimana keadaanku setelah mati. Sebab yang kutahu, aku hanya harus memecahkan teka-teki hidup yang selalu menjadi rahasia-Nya.

                                   ***

Ia bersandar tepat di bahu kiriku.  Lima jemari lembutnya menguntal-untal rambutku. Beberapa kali ia berusaha merubah sisiran rambutku menjadi belah pinggir ke kanan. Sementara aku masih terus mengoceh sambil berpikir, memecahkan isyarat yang ia ingin sampaikan kepadaku.

Aku berpikir bahwa ia ingin mengarahkan jalan pemikiranku yang sangat berbeda dari sebagian pria. Aku berpikir bahwa ia ingin mematahkan segala perasaan sayangku padanya. Dan aku berpikir, bahwa ia sudah pasrah pada kehidupannya.

Aku sering bermain dengan pikiranku sendiri tentangnya. Apakah ia bahagia dengan pernikahannya. Apakah ia benar-benar telah memiliki cintanya. Dan apakah ia sudah mendapatkan jodohnya dari Tuhan. Sebab yang aku pahami, kita tidak akan pernah dapat menebak takdir.

                                   ***

Aku memanggilnya Tea. Sudah lima tahun aku mengenalnya. Dan tepat sore itu adalah pertemuan kelima kami. Saat itu hujan selebat dedaunan di pohon angsana. Di bawah pohon itu aku menepikan kendaraanku.
"Akhirnya aku harus mengatakan ini, Tea!" seruku.
"Katakankalah jika kau harus mengatakannya." matanya menusukku dalam.
"Jawablah dengan sungguh! Bagaimana perasaanmu padaku?"

Ia kembali menatapku. Dan perlahan mengangkat bibir tipis pecah-pecahnya. Ia tersenyum padaku. Lalu perlahan mencubit pipiku.
"Aku hanya tak ingin sakit hati, Ndri."
"Bukankah sakit hati adalah bagian dari hidup. Bagaimana hidup tanpa sakit hati. Apakah kau tak memahami ilmu ikhlas dan sabar. "balasku.
"Ya, aku paham. Tapi kau harus memahami keadaanku." tegasnya kembali.

Aku sangat memahaminya, bahkan lebih dari ia memahami keadaaanya sendiri. Aku memahami keadaan pernikahananya dengan seorang arsitek asal Korea. Aku memahami itu, bahwa sesungguhnya ia tak menemukan kehidupan bersamanya.

Yang ia jalani saat ini hanyalah memposisikan dirinya sendiri seperti air di wadah sungai, yang mengalir mengikuti kemana arus berlabuh. Bukankah itu sama dengan ia mengorbankan kebahagian, ketenangan hidupnya sendiri. Mungkin pasrah kata yang tepat untuknya.

Mengucapkan kata pasrah, membuatku kembali mengingat pada seorang perempuan cantik di lingkup perumahanku. Perempuan cantik itu mati mengenaskan di kamarnya sendiri. Ia tak sanggup memecahkan teka-teki dalam perjalanan hidupnya. Ia terkurung dalam pemikiran buta. Ia menyayat nadinya dengan sebilah silet. Ya, ia bunuh diri. Perbedaannya dengan Tea hanya satu. Perempuan cantik itu telah membunuh dirinya. Sementara Tea, telah membunuh kebahagiannya sendiri.

                                   ***

Hujan enggan berhenti, sama seperti aku yang tidak berhenti berharap cinta pada Tea. Awan pun membuat langit kian gelap. Namun walaupun gelap, aku tetap menganggap langit selalu cerah. Sebab kegelapan tetaplah kehidupan. Dan sesaat aku meraih kedua telapak tangannya, bebulir air merintik dari matanya. Rasanya ia tak sanggup lagi menahan perasaanya terhadapku.
"Iya, aku menyayangimu, Andri. Aku menyayangimu."

Aku segera meraih, dan memeluk tubuhnya. Dengan penuh dosa, aku mencium lembut bibirnya. Dan itu disaksikan oleh Tuhan dan hujan. Mungkin sebagian orang terlalu takut pada dosa. Tetapi aku tidak. Bagiku cinta bukanlah sebuah dosa. Sebab Tuhanlah yang menaruh cinta pada hati manusia. Bahkan dengan takdir-Nya, Tuhan pula yang mempertemukan seorang wanita dan pria. Maka biarlah Tuhan yang menentukan dosa. Bukan kita, manusia.  

Sekali lagi. Cinta adalah tentang hidup. Seperti juga dosa, adalah tentang hidup. Dan sesungguhnya dibalik definisi kata dosa ada sebuah kebaikan tentang hidup. Dan bagiku memecahkan teka-teki keinginan Tuhan tidaklah mudah. Bahkan mungkin cara berpikirku akan dianggap salah oleh banyak kalangan. Akantetapi pada hujan aku bisa memaknai hidup dan cinta. [ ]

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x