Mohon tunggu...
I. F. Donne
I. F. Donne Mohon Tunggu... Writer

Penulis adalah seorang Magister Pendidikan lulusan Universitas Negeri Jakarta, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Penulis pernah aktif di berbagai komunitas sastra di Jakarta. Beberapa diantaranya; Sastra Reboan, Kedailalang, dan KPSI (Komunitas Pecinta Seni dan Sastra Indonesia). Karya-karyanya diantaranya; Novel ‘Danau Bulan’, Serampai Cerpen Vol. I ‘Soejinah’ dan ‘Dunia Luka’ Vol. II. Antologi puisi bersama sastrawan-sastrawati. Diantaranya; antologi puisi Empat Amanat Hujan (Bunga Rampai Puisi Komunitas Sastra DKJ), Kerlip Puisi Gebyar Cerpen Detak Nadi Sastra Reboan, Kitab Radja dan Ratoe Alit, Antologi Fiksi Mini, dan beberapa puisinya juga dimuat di majalah Story. Penulis juga sudah memiliki dua buku antologi cerpen bersama beberapa penulis, yaitu Si Murai dan Orang Gila (Bunga Rampai Cerpen Komunitas Sastra DKJ) dan Kerlip Puisi Gebyar Cerpen Detak Nadi Sastra Reboan. Beberapa cerpennya pernah memenangkan lomba tingkat nasional, diantaranya berjudul, Sepuluh Jam mendapatkan juara 2 di LMCPN (Lomba Menulis Cerpen Pencinta Novel), Randu & Kematian pada tahun 2011 dan Selongsong Waktu pada tahun 2013 mendapatkan juara harapan kategori C di Lomba Menulis Cerpen Rotho - Mentholatum Golden Award. Penulis juga aktif di berberapa organisasi kemasyarakatan, seni dan budaya. Aktifitas yang dijalani penulis saat ini adalah seorang jurnalis di salah satu surat kabar online nasional di Indonesia.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Penyiram Bunga

19 Maret 2020   00:00 Diperbarui: 19 Maret 2020   01:44 101 0 0 Mohon Tunggu...

(Dimuat dalam buku kumpulan cerpen "Soejinah"

Embun belum lagi beranjak menyiram pagi di belantara rerumputan hijau, sementara kabut menghadirkan sosok perempuan cantik penyiram bunga. Dingin baru saja mengendap di telapak kaki, dan kehangatan liriknya membuatku terperanjat. Siapakah dia? Apakah dia seorang gadis remaja atau perempuan dewasa.

               Pagi itu adalah pagi ketiga aku duduk di bangku teras rumah sahabatku. Dari depan teras terdengar pintu terkuak. Dengan sedikit rasa penasaran, aku melirik seorang perempuan yang sedang berjalan menunduk, sambil membawa botol penyiram bunga. 

                Perempuan berparas sunda itu, mempunyai kulit seputih salju. Matanya berbinar biru, jika terpantul cahaya mentari. Entah kenapa tiba – tiba hatiku merekah seperti bunga - bunga yang disiraminya. Sungguh pagi yang menggetarkan. Tak pudar senyumku memandang perempuan cantik itu.

“Ri…” teriakku memanggil sahabatku.

“Kenapa Dan?” tanyanya.

“Aku jatuh cinta.” jawabku dengan wajah memerah.

“Ya sudah, nanti dulu ya! Aku berpakaian dulu.”

                  Seiring itu kesenyapan menyergap. Perlahan aku melangkah menuju tirai jendela. Dari balik tirai jendela, kuintip perempuan penyiram bunga. 

“Aduhai, putih sekali kulitnya! Seakan matahari tak pernah menyengatnya! Biru bola matanya pun membuat mataku tak berkedip memandanginya. Sungguh sempurna perempuan itu. Meliriklah padaku! Aku ada di balik jendela ini, sedang memperhatikanmu. Segeralah menengok padaku, atau jadikan saja aku botol yang kau genggam untuk menyirami bunga - bunga layu itu. Akan kusirami bunga-bunga layumu dengan air dari surga cinta. Maka kuatkanlah genggaman jemarimu untukku, wahai perempuan bermata embun.” ujarku dalam hati.

“Ada apa, Sahabat? Hmm, jadi perempuan ini! Ha ha ha.” Ari menepuk bahuku, mengaburkan lamunan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
VIDEO PILIHAN