Keamanan

Persatuan Indonesia Adalah Mutlak, Jangan Sampai Retak

6 Desember 2018   10:33 Diperbarui: 6 Desember 2018   10:43 139 0 0

"Bhineka Tunggal Ika." Kalimat ini begitu familiar ditelinga kita semua. Bagaimana tidak, karna tiga kata itu sudah kita lihat dan pelajari sejak di pendidikan sekolah dasar bahkan saat masih di taman kanak-kanak. Kalimat yang berbahasa Sansekerta itu juga terpampang pada lambang Negara kita. Petikan semboyan ini dicengkeram erat oleh kaki burung Garuda selaku lambang Negara Indonesia.

Kata Bhineka Tunggal Ika berasal dari bahasa Sansekerta, yang jika diterjemahkan secara harfiah bisa diartikan sebagai "Beraneka satu itu," atau yang secara luas bermakna "walaupun berbeda-beda, tetap satu," maknanya, kebersatuan rakyat Indonesia yang notabenenya terdiri dari ras dan suku yang majemuk. Dengan semboyan ini jelas bahwa 'Satu' nya Indonesia disamping keragaman yang ada adalah mutlak, seperti yang dicanangkan oleh para tokoh pendiri Bangsa ini sejak dahulunya.

Soal persatuan ini pun diperkuat kembali dengan sumpah pemuda yang dicetuskan oleh sejumlah tokoh pemuda Indonesia pada Kongres Pemuda kedua pada 27-28 Oktober 1928 silam, yang mana hingga kini pada tanggal 28 Oktober tersebut tetap diperingati sebagai hari sumpah pemuda.

"kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia." Begitu bunyi bait kedua dari tiga poin yang tertuang dalam sumpah pemuda.

Tak dinyana, rentetan kata-kata dalam sumpah pemuda ini mampu membangkitkan gairah persatuan dan nasionalisme rakyat Indonesia secara keseluruhan.

Begitu susahnya merajut persatuan itu sejak dulu, yang seiring perjalanan masa bisa terjalin berkat kondisi goergrafis, perasaan senasib sepenanggungan dan pada akhirnya berkat satu tujuan bersama.

Kita semua merasakan begitu indahnya hidup berdampingan dalam kebhinekaan. Kendati tak dipungkiri beberapa peristiwa silam juga pernah menjadi sejarah catatan kelam tentang ternodanya  persatuan ini, seperti misalnya peristiwa Mei 98, tragedi Sampit, peristiwa Ambon, GAM, dan sebagainya. Namun berbagai peristiwa yang menjadi momok menakutkan itu telah bisa diatasi.

Dibalik berbagai gesekan itu sejatinya dari dulu kita selalu bisa bertoleransi dan hidup berdampingan meski Negara ini terdiri dari banyak agama dan banyak suku.

Namun sayang, peristiwa yang terjadi belakangan ini dan fakta yang kita lihat belum lama ini, cukup menunjukan terjadinya pergeseran daripada nilai-nilai persatuan itu. Baik yang mengatasnamakan golongan tertentu, agama tertentu, aliran tertentu, Daerah tertentu dan segala macamnya yang diantaranya diperuncing lagi oleh situasi politik.

Peristiwa persekusi  sejumlah da'i di beberapa daerah yang seakan menonjolkan Intoleransi, Peristiwa demo besar-besaran yang menuai pro-kontra, peristiwa Pemberontakan atau Separatis di Papua yang ditenggarai oleh kelompok kriminal bersenjata(KKB) OPM, yang tengah santer diperbincangkan saat ini terkait penembakan terhadap masyarakat sipil dan petugas. Tentunya soal ini, kita semua berharap pemerintah bisa mengatasi Konflik ini. Seperti kata pepatah: "Menghela rambut dalam tepung, rambut jangan putus, tepung jangan tumpah," demikian hendaknya.

Selain Konflik di dunia nyata. Kondisi sosial di alam Maya tak kalah mengkhawatirkan. Pantauan penulis, saling hina, dan caci-maki  di media sosial sekarang sudah menjadi santapan sehari-hari. Menghina Pemimpin Negara, Aparat, dan segala macam tetek bengeknya yang sudah melenceng dari adab ketimuran. Bahkan tak jarang berujung bui, dijerat oleh UU ITE.  Secara masiv para pengguna media sosial khususnya Facebook membentuk kubu-kubu, saling cela, dan menghina. Selain itu, berita atau Informasi Hoax turut pula mengambil peran, terlebih menyangkut ISU Pilpres yang akan datang. Tak jarang, pihak-pihak tertentu menghina dan memojokkan pihak lain yang berbeda pilihan dengannya. Aktor nya bahkan bukan hanya masyarakat biasa, tetapi juga oknum yang sudah pula ditinggikan seranting dan didulukan selangkah, miris.!

Disinilah hendaknya peran KESBANGPOL Organisasi Pemuda, ataupun komunitas Organisasi Lintas Agama dan semacamnya di Daerah, untuk kembali merangkul dan menyamakan persepsi demi keutuhan, kenyamanan, dan kedamaian Negara.