Senja Guzel
Senja Guzel learn-to-be writer.

Memperhatikan dan belajar.

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Pilihan

"Quarter-Life Crisis", Catatan Perjalanan yang Belum Usai

7 November 2018   00:56 Diperbarui: 7 November 2018   14:29 439 1 0
"Quarter-Life Crisis", Catatan Perjalanan yang Belum Usai
cr: pixabay

Umur 25, umur dimana peralihan remaja ke dewasa. Dimana tekanan perlahan membesar seiring dengan bertambahnya ekspektasi. Dimana kebebasan tanpa sadar telah menghilang digantikan oleh tanggung jawab. Dimana kami merasa terjebak antara kemampuan diri dan harapan orang lain. 

Dimana teman - teman yang biasa hadir untuk menggila atau sekedar ngobrol sampai pagi memiliki prioritas lain. Dimana nostalgia di kala hari mendung dan perasaan menjadi sendu, adalah kegiatan yang memunculkan senyum kecil. 

Umur dimana pertanyaan - pertanyaan yang ditujukan ke diri sendiri muncul.

"Apakah keputusan yang saya ambil benar?" "Apakah ini memang jalannya?" "Mengapa selalu terasa seperti ada yang salah?" "Apa memang seharusnya seperti ini?"

Quarter-Life Crisis adalah krisis yang melanda umur sekitar 25, ketika mulai muncul kecemasan dan keraguan pada diri sendiri yang tidak jarang berujung pada depresi. 

Wajar, karena pada umur inilah masa depan menjadi taruhan besar saat harus memilih. Keinginan diri sendiri atau tanggung jawab keluarga, kesenangan dunia atau kebanggan orang tua, idealisme atau kehidupan nyata. Wajar sekali untuk merasa ragu dan cemas, merasa akan terjadi suatu kesalahan dalam memilih.

Saya sedang mengalaminya. Betapa takutnya saya saat saya merasa sudah tidak ada lagi yang bisa saya lakukan. Betapa takutnya saya menjadi tulang punggung dengan segala tanggung jawabnya. Passion sudah tidak mungkin saya tekuni, sedangkan keinginan lain belum saya temukan. Semua terasa salah, semua terasa hampa. 

Saya mulai mempertanyakan kebenaran terhadap jalan yang saya ambil dengan seirng berpikir, "seandainya dulu saya...". Rumah yang ramai dengan seluruh kebisingannya membuat saya jenuh. Tidak jarang saya menginginkan sesuatu terjadi pada saya sehingga saya bisa kabur dari situasi ini. Saya merasa sendirian dan kebingungan.

Apa yang saya lakukan? Saya tahu ini akan bertambah buruk dan saya tidak ingin merasakan perasaan yang lebih menyedihkan dari ini. Pertama, saya berhenti membuka media sosial. Saya sadar, membuka media sosial membuat saya membandingkan diri saya dengan orang lain, dengan pencapaian mereka dan apa yang saya miliki. 

Membandingkan standar kebahagiaan mereka dan standar kebahagiaan saya sendiri dan membuat saya semakin merasa putus asa. Kemudian, saya berhenti membaca artikel atau berita dengan konten negatif. 

Melihat dunia bertambah buruk tiap harinya membuat saya enggan berjuang karena muncul pemikiran bahwa saya tidak ingin masa depan yang begitu depresif. Keinginan saya untuk cepat -cepat pergi dari dunia akan menjadi lebih kuat.

Saya melakukan kegiatan - kegiatan yang setidaknya dapat meringankan hati saya. Kegiatan yang dapat mengalihkan pikiran saya dari pikiran depresif seperti menonton film, mencermati lirik lagu yang saya suka, membaca buku - buku lama yang sebelumnya tidak sempat saya baca, dan menulis. Menulis membuat saya menginstropeksi diri dan menyembuhkan pikiran saya. 

Menulis kejadian sehari - hari dan memandangnya dengan perspektif yang berbeda akan membuat saya bersyukur dengan kondisi yang saya miliki. Saya berlatih untuk pura - pura "tuli" terhadap pertanyaan orang - orang yang akan menambah beban saya. Berlatih untuk tersenyum sebagai jawaban pertanyaan - pertanyaan tersebut, kelak senyuman akan menular dan berbalas menjadi do'a yang baik untuk saya.

Apakah semua yang saya lakukan sudah benar? Saya sendiri tidak tahu dan sampai sekarang saya belum menemukan jawabannya. Namun saya mempunyai keyakinan dan sangat percaya bahwa Allah akan menjawab kesabaran saya pada waktu yang tepat. Husnudzaan bahwa Allah tahu apa yang terbaik bagi saya. Karena Allah, sebaik - baiknya penolong dan pelindung kita, tidak pernah mengecewakan hambaNya. Allah punya rencana terbaik untuk saya.

Jadi, selain melakukan apa yang bisa kamu lakukan untuk menghindari energi negatif menguasaimu dan membuatmu tidak bisa iklhas menerima keadaanmu, kamu juga harus berdamai dengan dirimu sendiri, kembalilah pada agamamu, percaya bahwa agama adalah panduan hidup yang tepat dan jawaban atas segala pertanyaanmu. 

Berserah diri dan tersenyum dengan dirimu sendiri. Buatlah perpisahan yang baik dengan masa lalu mu yang bebas dan menyenangkan dan yakinlah bahwa masa depanmu memiliki kebahagiaan yang tidak kalah indahnya bagimu dan orang - orang yang kamu cintai.

Saya sedang menunggu, dan saya percaya semuanya akan indah pada waktunya. Kami para pelancong quarter-life crisis, sedang menapaki jalan menuju kebahagiaan.

Have a nice day! :)