Mohon tunggu...
Idrus Ali
Idrus Ali Mohon Tunggu... Mahasiswa

Lahir di desa terpencil, Nagasari, kec. Palengaan, kab. Pamekasan, Madura.

Selanjutnya

Tutup

Keamanan

PMII dan Radikalisme Berkedok Agama

15 Februari 2020   12:30 Diperbarui: 15 Februari 2020   12:29 64 0 0 Mohon Tunggu...

Akhir-akhir ini banyak orang yang berupaya menghalakan segala cara demi mencari kepuasan diri, meski agama harus menjadi barang komersial.

Agama yang semestinya menjadi pedoman hidup  menuju surga, justru malah dijadikan alat untuk menipu sesama. Agama yang semestinya digunakan untuk mengurangi beban masalah, tapi malah digunakan untuk menambah beban masalah.

Seyogianya, agama datang untuk menjawab berbagai macam kegelisahan, bukan membuat kegelisahan dengan mengatas namakan agama. Tentu, ini adalah kegelisahan yang nyata!

Bukan tidak mungkin sakralitas agama (the sacredness of religion) di manfaatkan menjadi alat pemuas nafsu belaka oleh orang yang seringkali mencari kepuasan diri atau kelompok dengan berkedok agama.

Di era yang serba praksis seperti saat ini, tidak sedikit orang mencari kepuasan diri dengan berkedok agama. Mulai dari cara-cara politik, binis, teroris, aliran sesat, hingga pada persoalan cinta pun masih menggunakan kedok agama. Agama seperti boneka saja!.

Saat ini yang paling parah adalah radikalisme yang berkedok agama. Radikalisme ini perlahan mulai menggerogoti nilai-nilai religius dan Nasionalis.

Diakui atau tidak, sesuatu ajaran yang paling dekat dengan masyarakat ialah ajaran agama, sehingga tidak heran ketika agama dijadikan kantong ideologis guna mewujudkan misinya.

Tentu, lemahnya pengetahuan di bidang ke-Islaman dan ke-Indonesiaan menjadi salah satu faktor mengendapnya terdoktrinasi paham radikalisme. Dan yang menjadi target kaum eksrimis ini ialah orang yang lemah dan orang yang fanatis.

Namun seperti apapun bentuknya, radikalisme tetap menjadi musuh bersama, baik bagi Negara maupun masyarakat, begitu juga musuh bagi Ormas Islam (Organisasi Masyarakat) seperti, NU (Nahdlatul Ulama'), Muhammadiyah dan sebagainya.

Tidak hanya itu, radikalisme juga menjadi musuh Ormek (Organisasi mahasiswa ekstra kampus) seperti, HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), wabil khusus musuh bagi PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia).

Mengapa radikalisme menjadi musuh bersama terlebih PMII?. Karena radikalisme mengundang konflik sosial, politik, ekonomi, budaya, dll. Kelompok garis keras ini bersikap intoleran terhadap keberagaman sehingga mengancam keutuhan negara.

Dalam menyukseskan misinya, biasanya secara perlahan melakukan doktrinasi halus dengan mengatas namakan agama, yang pada akhirnya akan mengajak berjihad.

Oleh karena itu, jika kelompok revivalis dan fundamentalis ini dibiarkan leluasa melancarkan aksinya, maka semakin hari akan semakin membesar sehingga pada akhirnya akan sulit diredam.

Sudah menjadi barang tentu keberadaannya mengancam persatuan dan kesatuan. Hal ini tentu merupakan hal yang serius yang tidak boleh disepelekan.

Organisasi moderat (berimbang) seperti PMII ini perlu mengetuk diri dan mengutuk keras berbagai macam paham ekstrim kanan maupun ekstrim kiri yang berkedok agama, karena diakui atau tidak, organisasi PMII ini mulai dari awal berdirinya pada17 April 1960 sampai saat ini, tetap dan akan tetap menjadi pionir "pembela bangsa dan penegak agama". Hal ini senada dengan lirik yang ada Mars PMII.

"Inilah kami wahai Indonesia.
Satu barisan dan satu cita.
Pembela bangsa, penegak agama.
Tangan terkepal dan maju kemuka.

Habislah sudah masa yang suram.
Selesai sudah derita yang lama.
Bangsa yang jaya.
Islam yang benar.
Bangun tersentak dari bumiku subur.

Inilah kami wahai Indonesia.
Satu barisan dan satu cita.
Pembela bangsa, penegak agama.
Tangan terkepal dan maju kemuka.

Habislah sudah masa yang suram.
Selesai sudah derita yang lama.
Bangsa yang jaya.
Islam yang benar.
Bangun tersentak dari bumiku subur.

*Reff*
Denganmu PMII.
Pergerakanku.
Ilmu dan bakti, ku berikan.
Adil dan makmur kuperjuangkan.

Untukmu satu tanah airku.
Untukmu satu keyakinanku.
Inilah kami wahai Indonesia.
Satu angkatan dan satu jiwa.
Putera bangsa bebas merdeka.
Tangan terkepal dan maju kemuka.

Denganmu PMII.
Pergerakanku.
Ilmu dan bakti, ku berikan.
Adil dan makmur kuperjuangkan.
Untukmu satu tanah airku.
Untukmu satu keyakinanku".

Sebagai organisasi kaderisasi, sudah menjadi barang tentu bahwa eksistensinya merupakan salah satu tolok ukur keutuhan negeri ini. PMII hadir untuk menjawab kegelisahan, baik kegelisahan politik, budaya, ekonomi, agama, maupun kegelisahan yang terdapat di bangsa dan negara.

Oleh karena itu, sebagai organisasi yang cinta agama dan tanah air, PMII tidak hanya fokus pada kerja-kerja kaderisasi di PMII akan tetapi segala sesuatu yang dianggap mengancam kedaulatan agama dan negara, seperti halnya bersikap intoleran dan radikal maka hingga yaumil qiyamah PMII akan menjadi musuhnya.

VIDEO PILIHAN