Mohon tunggu...
IDRIS APANDI
IDRIS APANDI Mohon Tunggu... Penikmat bacaan dan tulisan

Pemelajar sepanjang hayat.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Pandemi Covid-19 dan Penguatan Pendidikan Keluarga

9 April 2020   22:28 Diperbarui: 11 April 2020   15:01 2624 14 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pandemi Covid-19 dan Penguatan Pendidikan Keluarga
ilustrasi tetap belajar meski di rumah. (sumber: pixabay)

"Di sekolah, para siswa diposisikan sebagai pengguna yang harus dilayani dengan baik oleh guru, sedangkan di rumah, orang tua cenderung merasa memiliki otoritas penuh terhadap anaknya, sehingga yang muncul lebih dominan pendekatan top-down." 

Selama empat minggu kegiatan belajar dari rumah, para orang tua merasakan beratnya menjadi guru bagi anak-anak mereka. Di media sosial beredar curhatan orang tua berkaitan dengan tugas barunya tersebut, sekaligus apresiasi kepada para guru yang selama ini mendidik anaknya dengan penuh kesabaran.

Ada pula anak yang curhat  dalam bentuk pantun bahwa gurunya di rumah (orang tuanya) lebih galak daripada gurunya di sekolah. Ada pula anak yang nangis-nangis ingin segera kembali belajar di sekolah.

Pola pendidikan sekolah memang berbeda dengan pola pendidikan di rumah. Di sekolah, para siswa diposisikan sebagai pengguna yang harus dilayani dengan baik oleh guru, sedangkan di rumah, orang tua cenderung merasa memiliki otoritas penuh terhadap anaknya, sehingga yang muncul lebih dominan pendekatan top-down.

Orang tua merasa lebih kuat dibandingkan dengan anak. Oleh karena itu, suara yang keras kadang sering dijadikan sarana untuk menekan anak agar dia mau belajar.

Di sekolah, para guru merasa para siswa adalah anak orang lain yang diamanatkan ke sekolah untuk dididik oleh mereka. Oleh karena itu, para guru begitu hati-hati dalam melakukannya.

Para siswa pun cenderung lebih takut kepada gurunya (sebagai dampak takut tidak diberikan nilai) dibandingkan kepada orang tuanya, sehingga mereka lebih taat saat belajar di sekolah.

Di rumah, para siswa ada yang cenderung kurang takut kepada orang tuanya, bahkan ada yang sulit disuruh belajar karena merasa "gurunya" juga adalah orang tuanya sendiri, dan tidak khawatir mendapatkan nilai jelek, karena memang orang tua tidak diberikan ruang untuk menilai secara administratif.

Oleh karena itu, sering terjadi perang urat syaraf antara orang tua dengan anak karena anaknya sulit disuruh belajar, dan orang tua kurang sabar saat membimbing anaknya. 

Biasanya anak seusia SD yang sulit disuruh belajar di rumah, sedangkan anak usia SMP atau SMA/SMK relatif lebih mandiri dan sudah memiliki tanggung jawab terhadap diri dan tugas-tugasnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN