IDRIS APANDI
IDRIS APANDI PNS

Widyaiswara Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Barat, Penulis Artikel dan Buku, Trainer Menulis, Pembicara Seminar-seminar Pendidikan. No. HP 0878-2163-7667

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Apakah Kita Sudah Menjadi Tetangga yang Baik?

14 September 2018   09:04 Diperbarui: 14 September 2018   14:47 1570 7 3
Apakah Kita Sudah Menjadi Tetangga yang Baik?
(moneysense.com)

"Masuk Pak Eko, eh pak Ekonya tidak bisa masuk karena tak punya jalan masuk ke rumahnya."

Itulah sebuah status yang saya baca di wall FB seorang teman. Kalimat "masuk pak Eko" populer bersamaan dengan viralnya video seorang polisi yang bernama Eko yang piawai dalam melempar berbagai perkakas seperti pisau, gunting, dan gergaji tepat ke sasaran.

Kalimat kedua merupakan sebuah bentuk keprihatinan yang ditujukan kepada seorang warga di Bandung yang bernama Eko juga karena rumahnya terkepung oleh rumah-rumah di sekelilingnya sehingga tidak memiliki jalan masuk dan keluar rumah.

Hidup bertetangga perlu memahami dan menaati norma dan etika yang berlaku supaya hidup bisa rukun, aman, tertib, dan damai. Ajaran Islam sangat menekankan pentingnya menjaga hubungan baik antartetangga.

Rasulullah Muhammad Saw bersabda "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya" (HR Bukhari dan Muslim). 

Lalu dalam hadits yang lain Rasulullah Saw bersabda "Demi Allah, tidak beriman, tidak beriman, tidak beriman. Ada yang bertanya: 'Siapa itu wahai Rasulullah?'.

Beliau menjawab: 'Orang yang tetangganya tidak aman dari bawa'iq-nya (kejahatannya)" (HR. Bukhari dan Muslim). Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan: "Bawa'iq maksudnya culas, khianat, zhalim dan jahat. Barangsiapa yang tetangganya tidak aman dari sifat itu, maka ia bukanlah seorang mukmin.

Dua hadits di atas mengajarkan kepada setiap muslim menghomati dan menaati etika hidup bertetangga. Tetangga adalah orang yang tempat tinggalnya paling dekat dengan rumah kita.

Manusia bukan hanya sebagai individu, tetapi juga makhluk sosial. Dia tidak bisa hidup sendiri, tetapi perlu hidup berdampingan dan saling membantu dengan orang lain.

Tetangga adalah orang yang membantu ketika kita mendapatkan kesulitan, yang pertama kali menengok ketika kita sakit, dan yang melayat ketika meninggal. Oleh karenanya, perkataan, sikap, dan perilaku harus dijaga. Jangan sampai menyinggung perasaannya. Masalah-masalah yang terjadi di lingkungan tetangga lebih banyak disebabkan oleh miskomunikasi dan penyakit hati seperti iri dan dengki terhadap kesuksesan tetangga.

Ajaran Islam mengajarkan kita untuk saling berbagi dengan tetangga. Rasulullah Saw mengajarkan agar kita mau berbagi dengan tetangga. Beliau bersabda "Jika engkau memasak sayur, perbanyaklah kuahnya. Lalu lihatlah keluarga tetanggamu, berikanlah sebagiannya kepada mereka dengan cara yang baik" (HR. Muslim).

Termasuk berdosa jika ada tetangga yang hidupnya berkecukupan membiarkan tetangganya kelaparan. Rasulullah Saw bersabda "Bukan mukmin, orang yang kenyang perutnya sedang tetangga sebelahnya kelaparan" (HR. Al Baihaqi).

Realitas menunjukkan bahwa seiring dengan kesibukan, sifat individualistis dan egois masyarakat, hubungan antartetangga kurang terjalin dengan baik. Bahkan diantara mereka pun tidak saling mengenal.

Di komplek-komplek perumahan, rumah rumah tertutup pagar yang tinggi. Rumah sepi, hanya ditunggu penjaga, pembantu, atau anjing galak, karena sang pemilik rumah lebih banyak berada di luar kota daripada menempati rumahnya sendiri atau memiliki beberapa rumah.

Di apartemen-apartemen dan kontrakan-kontrakan, para penghuni tidak saling mengenal karena mereka datang dan pergi. Hanya berada di tempat itu setelah pulang beraktivitas, lalu masing-masing diam di kamarnya masing-masing. Relasi sosial lemah, kurang peduli antara yang satu dengan lainnya.

Di kampung-kampung atau pemukiman padat di kota-kota yang banyak terdapat oleh gang-gang sempit sangat riskan muncul konflik jika tidak saling menghargai dan menghormati. Ketika masuk gang, lewat dari jam 21.00, suara motor harus dimatikan, apalagi yang knalpotnya bising, memutar musik volume suaranya jangan sampai mengganggu tetangga.

Selain itu juga dalam berbicara jangan sambil berteriak-teriak, kalau tertawa jangan sampai terbahak-bahak. Itulah beberapa etika atau aturan yang diterapkan untuk menjaga ketertiban dan keamanan dalam masyarakat, khususnya di lingkungan tetangga.

Menurut saya, kasus di Bandung yang menimpa seorang warga yang menimpa Eko menurut saya adalah sebuah gambaran hubungan komunikasi yang kurang baik antartetangga. Tidak mampu menunjukkan sikap saling menghargai dan saling menghormati, dan enggan untuk berbagi untuk kepentingan umum.

Kasus-kasus seperti itu sebenarnya banyak terjadi, hanya tidak seviral kisah pak Eko tersebut. Ada warga yang memarkirkan mobil di jalan pemukiman sehingga mengganggu atau menghalangi pengguna jalan lain, bahkan ada yang mengambil sebagian jalan untuk garasi kendaraan. Hal tersebut, selain melanggar hukum, juga mengganggu hubungan bertetangga.

Bahkan ada kasus penganiayaan, perampokan, bahkan pembunuhan yang justru pelakunya adalah tetangganya sendiri. Hal ini banyak dilatarbelakangi oleh buruknya komunikasi, salah paham, ketersinggungan, sikap arogan yang ditunjukkan salah satu atau kedua belah pihak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2