Mohon tunggu...
IDRIS APANDI
IDRIS APANDI Mohon Tunggu... Penikmat bacaan dan tulisan

Pemelajar sepanjang hayat.

Selanjutnya

Tutup

Wisata Pilihan

Catatan Perjalanan Wisata Sejarah ke Karawang

19 Mei 2017   18:49 Diperbarui: 19 Mei 2017   18:55 958 3 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Catatan Perjalanan Wisata Sejarah ke Karawang
Penulis sedang berada di Candi Blandongan Karawang. (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh:

IDRIS APANDI

(Widyaiswara LPMP Jawa Barat, Ketua Komunitas Pegiat Literasi Jabar/KPLJ)

Pertengahan Mei 2017 Saya berkesempatan mengunjungi empat tempat wisata sejarah di daerah Karawang, yaitu Candi Jiwa dan Candi Blandongan Batujaya, Monumen Kebulatan Tekad,  dan Rumah Sejarah di daerah Rengasdengklok. Untuk bisa masuk ke Candi Jiwa dan Candi Blandongan pengunjung harus membayar tiket masuk seharga Rp 5.000. Kedua candi ini merupakan candi agama Budha. Komplek candi ini dikelola oleh Balai Pengembangan Kepurbakalaan Sejarah dan Nilai Tradisional Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat dan juga Balai Pelestarian Cagar Budaya Serang.

Setelah melewati pos tiket masuk, pengunjung perlu jalan beberapa puluh meter melewati areal pesawahan untuk bisa melihat kedua Candi tersebut. Di depan Candi Jiwa ada plang candi. Setelah itu, tidak ada informasi yang Saya dapatkan. Tidak ada poster dan tidak ada penjaga yang bisa dimintai keterangan. Saya hanya melihat-lihat dan mengelilingi bangunan candi dan tentunya mendokumentasikannya melalui ponsel Saya.

Setelah puas melihat-lihat candi jiwa, Saya pun menuju ke candi Blandongan yang lokasinya tidak terlalu jauh, masih satu komplek dengan Candi Jiwa. Di dekat candi jiwa, ada sebuah pos yang kondisinya sangat sederhana. Pada dinding pos menempel beberapa poster yang berisi informasi tentang candi Blandongan.

Berdasarkan informasi yang Saya dapatkan, candi Blandongan ditemukan pertama kali pada tahun 1984, berbentuk gunung kecil di areal sawah, lalu diteliti oleh Tim Jurusan Arkeologi dari Universitas Indonesia. Candi ini telah beberapa kali mengalami pemugaran, yaitu tahun 1999, 2002, 2004, 2005, 2010, 2013,  dan 2014.

Setelah Saya membaca informasi yang ada pada poster yang menempel pada pos, Saya pun menuju bangunan candi Blandongan. Di sekitar candi dikeilingi tali, ada rumput, dan pengumuman dilarang masuk bangunan candi, karena candi ini masih dalam proses pemugaran, sehingga peserta dikhawatirkan akan merusak bangunan candi. Saya pun mengitari bangunan candi dan mendokumentasikan menggunakan kamera ponsel Saya. Selain Saya, cukup banyak juga pengunjung yang sekedar selfie-selfie di areal candi.

Candi Jiwa dan candi Blandongan masih dalam tahap penataan atau pemugaran, jadi sarana informasi masih terbatas. Selain bangunan candi, ada juga museum yang berada di pinggir jalan masuk menju candi.  Di museum tersebut, para pengunjung dapat mencari berbagai informasi tentang kedua candi tersebut.

Pada hari berikutnya, Saya berkunjung ke Monumen Tugu Kebulatan Tekad di daerah Rengas Dengklok  dan Rumah Sejarah Proklamasi. Ketika Saya sampai ke lokasi monumen, pintu terbuka, didalam kompleks monumen ada beberapa orang yang sedang bercengkrama.  Saya mengira mereka adalah pengunjung juga. Pada bagian tengah, terdapat tugu berwarna emas yang dikelilingi tiang-tiang bercat merah dan rantai. Ada juga tembok ornamen-ornamen sejarah perjuangan kemerdekaan RI yang ada pada dinding tembok. Monumen kelilingi oleh pagar yang diberi cat merah dan pada bagian dalam ada beberapa pohon yang membuat suasana terasa sejuk.

Ketika sedang asik-asiknya melihat, saya dipanggil oleh seorang pria menggunakan bertopi dan berkameja lengan panjang. Namanya Idris. Dia mengaku sebagai penjaga monumen tersebut yang juga sebagai cucu pejuang kemerdekaan yang berasal dari Rengasdengklok. Lalu kami pun ngobrol-ngobrol tentang sejarah asal-usul monumen Kebulatan Tekad.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x