Mohon tunggu...
IDRIS APANDI
IDRIS APANDI Mohon Tunggu... Penikmat bacaan dan tulisan

Pemelajar sepanjang hayat.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Guru, Murid, dan Rasa dalam Interaksi Edukatif

31 Juli 2016   08:43 Diperbarui: 31 Juli 2016   09:00 339 3 1 Mohon Tunggu...

 

Oleh : IDRIS APANDI

Guru adalah sosok penting dalam pembelajaran. Guru adalah pemimpin sekaligus pelayan siswa. Oleh karena itu, guru perlu menguasai didaktik metodik dalam pembelajaran. Guru pun perlu memiliki kecakapan dan kepribadian yang matang.

Murid adalah generasi penerus yang diharapkan dapat melanjutkan tongkat estafet pembangunan. Murid perlu dibekali dengan kompetensi agar dapat berkiprah dalam pembangunan dan dapat bersaing di era global. Kompetensi meliputi sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dikuasai oleh seseorang. Ketika seorang murid lulus dari satuan pendidikan, maka dia harus merepresentasikan standar kompetensi lulusan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Dalam sebuah pembelajaran, harus tercipta interaksi edukatif antara guru dan murid. Interaksi edukatif yang dimaksud adalah suasana yang hangat, bersahabat, mendidik, dan menyenangkan dalam pembelajaran. Guru harus menjadi sosok yang dirindukan kehadirannya di sekolah. Murid-murid semangat ketika pembelajaran dimulai, dan akan merindukan kembali belajar ketika aktivitas belajar berakhir.

Guru dan murid adalah manusia yang sama-sama punya rasa dan punya hati. Guru harus mengajar dengan hati. Guru yang mengajar dengan hati akan melakukan tugasnya dengan penuh dedikasi, sebagai bagian dari ibadah, dan jihad mencerdaskan kehidupan bangsa.

Murid pun anak manusia yang perlu diperlakukan dengan manusiawi. Hatinya perlu disentuh agar dia merasa nyaman dan senang dalam belajar. Guru harus memiliki kedekatan secara emosional dengan murid. Guru adalah orang tua murid di sekolah. Kedekatan emosional akan berdampak terhadap terciptanya suasana yang harmonis.

Saat ini pendekatan pendidikan sudah banyak bergeser dari behavioristik kepada humanistik. Semangat perlindungan HAM dan hak anak juga turut mempengaruhi paradigma pendidikan saat ini. Walau demikian, kadang hal ini disalahgunakan dan disalahartikan oleh sebagian orang sehingga atas nama perlindungan anak, guru-guru banyak yang diadukan melanggar hak-hak anak karena dianggap melakukan tindakan kekerasan dalam pembelajaran. Akibatnya, banyak guru yang gamang, khawatir dikriminalisasi ketika memberikan hukuman kepada muridnya yang melanggar disiplin.

Guru, murid, dan rasa adalah tiga hal yang tidak dapat dipisahkan. Pembelajaran akan berjalan secara humanis jika ada pelibatan rasa dalam interaksi edukatif antara guru dan murid. Rasa di sini adalah dalam konteks saling menyayangi dan menghormati. Murid bukanlah robot yang bisa digerakkan dengan sejumlah perintah yang bersifat mekanistis, tetapi seorang manusia yang sikap dan tindakannya dikendalikan oleh rasa dan hati.

Mengapa anak malas belajar? Penyebabnya disamping faktor intrinsik bisa juga bisa faktor ektrinsik, yaitu faktor guru yang kurang disenangi. Mengapa guru kurang disenangi? Penyebabnya mungkin saja cara mengajarnya membosankan atau juga "galak" walau saya yakin pada dasarnya tidak ada guru yang galak, hanya dipersepsikan galak oleh murid-muridnya.

Seseorang yang perasaannya sedang bahagia tentunya akan melakukan aktivitasnya dengan senang dan gembira, nafsu makan pun meningkat. Jika pelajaran diibaratkan menu makanan, maka siswa yang perasaanya nyaman dalam belajar, mka dia akan "melahap" setiap materi pelajaran dengan nikmat. Kadang karena perasaan senangnya tersebut, tidak terasa jam pelajaran sudah habis. Berbeda jika siswa kurang menyukai pelajaran tersebut, kelas terasa seperti penjara atau sangkar yang mengekang kebebasannya. Oleh karena itu, dia ingin agar pelajaran cepat selesai.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN