Mh Firdaus
Mh Firdaus karyawan swasta

Penulis dan Traveller amatir. klick: www.nyambi-traveller.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Kuliner Artikel Utama

Kuliner Adelaide, Cerminkan Keanekaragaman Budaya

27 Juli 2018   17:29 Diperbarui: 3 Agustus 2018   15:00 821 5 2
Kuliner Adelaide, Cerminkan Keanekaragaman Budaya
Adelaide Central Market| adelaidecentralmarket.com.au

Keanekaragaman kuliner cermin pluralitas budayanya. Itulah yang tergambar di deretan kuliner kota Adelaide, Australia Selatan. Negeri yang belakangan favorit tujuan pengungsi berbagai negara menjadi miniaturnya. Deretan aneka kuliner berbagai negara berjejer di pojok, pinggir, dan diantara lapak sayuran "central market", kota Adelaide. 

Pasar bersih nan nyaman menjadi daya tarik pengunjung. Sambil berbelanja buah dan berbagai sayuran segar, pengunjung bisa menikmati restoran, dan cafe yang dipadu makanan dari berbagai negara. Hampir semua negara hadir melalui cafe dan restoran. Meski Inggris merupakan bahasa utama, namun dialek penjaja dan pemilik restoran tak bisa terpungkiri, kalau si empunya adalah pemilik kedai. Simak safari kulinerku, dan silahkan mencoba bila pembaca mampir ke sana...

Wisata kulinerku tak terlaksana bila tidak ditemani Dr. Priyambudi Sulistiyanto. Saya biasa menyapanya Mas Budi. Ia asli Yogyakarta, hampir 28 tahun tinggal di Adelaide, dan berprofesi pengajar senior Flinders University. Melalui dialah saya memahami keranekaragam kuliner; sejarah, pemilik, bahan dan rempahnya, dinamika serta gejolak kota ini yang berisi bermacam budaya dan suku bangsa.

Uyghur Restaurant. Itulah nama restoran pertama yang saya cicipi saat menginjakan kaki di kota Adelaide, senja 21 April 2018. Restoran beraroma daratan China Muslim mempersembahkan ragam makanan bercitarasa pedas. Meski kategori restoran China, namun karyawannya beraksen Timur Tengah. 

Restoran ini berlokasi di seberang central market dan berhadapan dengan China Town. Persisnya, ia berdiri disamping terminal bus antar kota, Adelade. Menunya terdiri dari makanan berbahan daging sapi, mie kwetiau goreng, sate daging sapi, oseng-oseng dengan sayuran, dsb. Rasa masakanannya lezat nan pedas. Cocok untuk lidah Asia, terutama Indonesia. 

Aneka bumbu asia terasa menghiasi cita rasa makanannya dan porsinya jumbo. Makanya saat makan malam berlima, kami memesan porsi untuk berjamaah. Alasannya, biar kita merasakan semua rasa makanan. Personally, saya terkesan dengan sate berbahan daging sapi. Saat kukunyah suapan pertama, "Nyesss..., lembut sekali. Aroma daging sapinya kuat namun tidak berbau binatang. Wuih..., Asli, enaknya menusuk lidah...". Hingga kini, saya masih mengenang kenikmatan satenya...ha..ha....    

Restoran ini laris. Setiap hari, pengunjung dari berbagai bangsa hadir tanpa henti. Saat pertama hadir di restoran, kami harus bergantian mengisi kursi kosong yang baru saja ditinggal pengunjung sebelumnya. Kemudian, kala saya hadir kembali 4 minggu berikutnya untuk bukber, eh, malah harus mengantre di luar restoran. Karena kuatnya hasrat, kami harus duduk di kursi depan restoran dalam penantian. 

Bangunannya tidak besar dan kursinya juga terbatas. Namun, karena rasanya yang menghadirkan berbagai rempah sehingga cita rasanya "nendang" di lidah pengunjung, membuat masyarakat Adelaide dari berbagai kalangan rela mengantre. Karena ngantrenya restoran ini mendapat komentar negatif di google. Meski begitu, konon, mahasiswa Indonesia di sana mengidolakannya...

Pirozhki Cafe. Kedai kopi ini berada persis di dalam central market. Ia menyediakan makanan utama bernama Pirozhki dan cemilan lain. Pirozhki merupakan roti adonan ragi yang berisi aneka campuran daging atau ayam di tengahnya. 

Bentuk dan ukuran rotinya bervariasi, serta rada mirip pai Amerika. Pirozhki sering dipasangkan dengan salad atau sup ringan. Menu pengiringnya, aneka minuman seperti; kopi, teh hijau, cappuccino, dsb. 

Pemilik dan pelayannya adalah  seorang lelaki paruh baya dan anak perempuan yang merupakan imigran negara pecahan Uni Sofyet (kini Russia). Mereka hengkang dari negaranya gegara konflik perang yang tak berkesudahan. Menurut Mas Budi yang acapkali "nongkrong" di cafe ini tiap akhir pekan, cafe Pirozhki di Central Market telah beriusia lebih dari 4 tahun. 

Sabtu, 28 April 2018, Mas Budi mengundangku untuk bincang pagi dan sarapan sebelum pergi ke sebuah event. Saya bersama teman memesan sepiring Pirozhki dengan salad, seharga 5 dolar ausi. Ga mahalkan...

Jumlat malam menjadi favorit pengunjung central market Adelaide
Jumlat malam menjadi favorit pengunjung central market Adelaide
Karena harganya terjangkau, terkadang saya sering berpikir untuk membelinya sebagai "lunch box" buat bekal kuliah karena terkadang bosen juga membawa makanan yang dimasak sendiri. Sebagai selingan, sesekali membeli makanan dengan komposisi gizi lengkap dan berharga terjangkau kantung, diperlukan. Biar ada variasi menu. Mahasiswa dan dosen sekalipun di Adelaide pada umumnya terbiasa membawa makanan sendiri (bring our own food).

Pemilik cafe Pirozhki lumayan lama hidup di Adelaide. Seperti cafe berciri negaranya, mereka menawarkan originalitas makanan bangsanya. Sebagaimana pengusaha sukses umumnya, ia berjuang keras guna eksis di kota kaya budaya ini. Kegigihan bapak dan anak terlihat dari kesigapan penyajian makanan dan minuman yang diracik sendiri tanpa karyawan. 

Meski tidak penuh, pengunjung cafe selalu hadir silih berganti. Pernah, saya berkunjung saat siang menjelang Sabtu sore hari untuk belanja mingguan -- dimana banyak barang yang dijual dengan harga satu dolar di akhir pekan, salah satunya adalah salad pelengkap Pirozhki yang selalu ludes. Artinya, penggemar makanan ini lumayan ngantre. Karena setahuku, sajian Piroszki lebih nikmat disantap di pagi hari lengkap dengan sayuran segar (salad). 

Cafe Pirozhki adalah cerminan lain dari imigran yang menolak tumbang di negeri orang. Ia juga miniatur keragaman budaya yang turut membangun Adelaide.

Sementara itu di tengah central market ada The Latvian Lunchroom. Jum'at malam, 18 Mei 2018 merupakan malam indah bagi warga Adelaide. Awal musim dingin bersahabat, cerah tanpa hujan jadi idaman warga. 

Keramaian pecah saat senja petang menjelang di sentral market. Semua bangku cafe dan restorant terisi. Riuh tawa membahana di semua sudutnya. Selepas mengajar, Mas Budi mengajakku ngobrol di restorant Latvia bernama The Latvian Lunchroom.

Restoran menyediakan masakan negeri Republik Latvia. Sebuah negara di kawasan Baltik, Eropa Utara. Republik ini berbatasan di utara dengan Estonia, di Selatan dengan Lithuania, di timur dengan Rusia dan di Tenggara dengan Belarus. Pemilik sekaligus penyajinya, imigran Latvia, seperti cafe dan kedai lain berciri negaranya. Letaknya di tengah pasar.

Petang itu, bangku restoran terisi penuh. Kala saya hadir di sana, Mas Budi sedang menikamti sup. Sup Latvia menjadi menu andalan restauran. Sambil menengok kiri dan kanan, saya menyaksikan hampir semua pengunjung "menyeruput" sup. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2