Mohon tunggu...
Dhilal Ahmad
Dhilal Ahmad Mohon Tunggu... Bisa santri bisa bukan. Bisa mahasiswa bisa bukan.

Sedang belajar menganalisa, membaca dan menulis.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Ketika Malaikat Menamparku

10 Juni 2019   22:19 Diperbarui: 11 Juni 2019   07:51 0 2 0 Mohon Tunggu...
Ketika Malaikat Menamparku
Photo : by Zoroo (devianart.com)

Semilir angin yang menjamah halus jendela kecil mesjid tua itu nampaknya sudah tak lagi sudi mengelus - elus ketidak-karuanku. Sungguh, ini tidak mudah. Aku benar - benar berantakan. Gelas yang diberikan kakek bersorban hijau itu tak sengaja pecah terhantam tanganku yang tak bisa diam seperti binatang buas yang dikurung saja. Secepatnya, aku bergegas meninggalkan mesjid walau dengan arah yang bias, jalan raya yang pudar, aku berlari sempoyongan menghantam setiap penghalang; Pohon, tiang bahkan jendela rumah orang menyertai setiap goresan luka yang terukir di beberapa bagian tubuhku. Itu adalah perjalanan yang teramat panjang, dan serpihan kaca yang bersemayam di kepala dan tanganku masih menyertai setiap langkahku menelusur jalan yang entahlah, sepertinya buntu. Ingatanku rusak di terjang tekanan yang juga entah dari mana asalnya.

Dan ahh kini aku sedikit siuman. Aku ingat itu adalah malam ke-23 di bulan suci Ramadhan, dan saat itu aku tengah berdiri tepat di depan warung merah tua milik seorang paruh baya, di sampingnya tersedia kursi agak panjang berkaki kayu keropos dan meja yang juga telah berusia senja. Tak jauh dari warung tersebut, ada sekerumunan laki - laki yang sedang duduk - duduk di kursi sofa. Tapi tunggu, "halaman rumah siapa itu?"

Dan mereka yang duduk - duduk itu menggemakan jenis binatang. Anjing misalnya. Sedang, disitu tak kujumpai satu pun anjing. Pun, ketika aku cukup lama menengok kiri dan melirik kanan tak kujumpai seekor pun anjing, dan tak ada seorang pun kawannya yang setidaknya memiliki wajah agak mirip binatang.

"Ini rokoknya de". Ibu pemilik warung itu mengulurkan beberapa batang rokok kretek yang sebelumnya sudah ku bayar. Kau tau? ternyata pemilik warung itu juga seorang perokok. Dan dia menjual beberapa varian air keras. Mulai dari harga 50rban hingga jutaan.

Mataku masih dituntun rasa penasaran dan terpusat tepat pada segelas air yang berada di atas meja yang menghadap ke sekumpulan laki - laki berumur kira - kira 17-19 tahun itu. Di antara mereka ada yang menggunakan sarung dan peci putih. Aura mereka kala itu telah menggigit lututku kencang sampai gemetar, namun langkah kaki ku masih lancang mendekati para remaja itu. Aku yakin dalam gelas itu bukanlah air biasa. Dan aku yakin mereka sedang tidak di jalan yang baik menurut agamaku. Baiklah aku katakan saja, mereka sedang berlaku bejat, melanggar hukum tuhan. Padahal bukankah semua hukum yang tuhan buat itu untuk kebaikannya sendiri? cobalah renungi, mana efek yang lebih dominan timbul ketika kau menerobos hukum tuhan semacam maksiat? atau meminum arak misal? Baik atau buruk? Ahh aku hanya tak mau ini menjadi suatu sudut pandang sepihak. Namun siapa yang akan menjawab pertanyaan ku? Aku hanya sedang berdialog dengan diriku sendiri.

Aku menyalakan rokok seraya masih seolah mengintai mereka, sebetulnya bukan mengintai, aku hanya ingin tahu lebih rinci apa yang sedang mereka kerjakan. Jiwa - jiwa itu seakan tak tenang, dengan gelagat risih, bahkan seperti yang ingin berontak atau berperang. Matanya merah, hatinya marah. Satu persatu mereka bergiliran meneguk gelas itu. Setelah itu dahiku tiba - tiba menyusun keringat dingin bersamaan dengan hembusan angin yang seakan melumpuhkan tubuhku, aku benar - benar merasa lemah, energiku terhempas, rokok di tanganku terlepas, dan setelah itu seluruh tubuhku jatuh tergeletak di atas jalan mungil yang berkerikil.

Astagaa, aku larut dalam ingatan itu, untung saja jalan raya ini sedang sepi. Dan sungguh, aku masih belum menemui akhir dari malam yang bajingan ini. Masih gelap dan menyeramkan, namun aku sudah tidak berlari, kini sepasang kaki yang telanjang ini membimbingku perlahan ke suatu gerombolan orang di persimpangan jalan didepan gedung kusam yang temboknya tampak dipenuhi tulisan, mungkin itu graffity. Tapi jika benar, itu adalah graffity yang paling mengangguku. Manusia mana yang telah mengotori tembok - tembok ini? mereka telah semena - mena mengikis kualitas tempat ini dan apalagi, lihatlah kalimat - kalimat kasar yang mereka tulis di gedung abu itu, bagiku itu telah menunjukan bahwa si pengotor tembok ini tak lebih hanyalah berandal dan cikal bakal penganut premanisme (vrijman dalam bahasa belanda) yang sok jago, sok kuat dan ah sudahlah.. atau mungkinkah mereka ini titisan bangsa vandal di zaman romawi kuno?" Tidak, itu terlalu kejauhan.

Baiklah, lupakan soal tembok itu, karena setidaknya penglihatanku saat ini tidak separah tadi. Walaupun sebetulnya aku lagi - lagi tak mengerti mengenai semua yang telah kulalui tadi dan ingatanku tidak sedang baik - baik saja, bahkan kini aku tak ingat awal terjadinya malam yang tengah ku hadapi ini. dan oh tidak.. kakiku tiba - tiba menghantam lagi sesuatu, botol miras!! Dan semua botol yang tak sengaja aku hantam itu pecah, lantas kepingannya menebas telapak kaki kananku, dan itu membuatnya berdarah - darah cukup deras. Kepalaku pusing, sepertinya ini akibat darah merah pekat yang terus menerus bercucuran ini. Belum lagi di kepala, tangan dan beberapa bagian tubuh lain.

Lagi - lagi aku tenggelam dalam ketidaksadaran, ketakutan dan rasa penasaran yang masih menimbun kepalaku. Aku hanya menghirup pekat dan memandang gelap selama satu minggu, atau mungkin satu jam atau boleh jadi satu hari. Aku tidak benar - benar mengetahuinya.

"Hey hey, ini minum dulu"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
KONTEN MENARIK LAINNYA
x