Mohon tunggu...
Ida Mursyidah
Ida Mursyidah Mohon Tunggu... Guru - Pegiat Literasi Anak Usia Dini

Ibu guru yang gemar membaca, bahkan membaca segala kemungkinan terburuk, untuk menyiapkan mental. Senang menulis, walaupun belum pernah menulis buku solo dan tak akan mampu menulis takdir sendiri. Suka menyimak, meskipun suara hati kecil sering terabaikan. Kadang berbicara, jika memang waktunya tiba dan membawa manfaat bagi yang mendengar.

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Buku, Refleksi Kebijaksanaan Bapak

27 Mei 2021   17:29 Diperbarui: 27 Mei 2021   17:46 144
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Diary. Sumber ilustrasi: PEXELS/Markus Winkler

Di stasiun calon penumpang lumayan menumpuk karena memang bertepatan dengan jam pulang kantor. Ada sesosok bapak tua yang terlihat gelisah sambil menenteng dus mi instan yang bapak lihat sambil berjalan menjari tempat duduk sambil menunggu kereta tiba. Saat bapak sadar, semua tempat duduk sudah terisi semua, bapak memilih untuk berdiri di sebuah sudut dan bersandar ke dinding loket penjualan tiket kereta. 

Si bapak tua yang membawa dus kelihatan menghampiri beberapa orang. Berbicara sebentar, membuka dus, memperlihatkan isinya dan mendapatkan gelengan kepala. 

Sayang, bapak saya tidak dapat melihat isi dus. Ia kembali mengatakan sesuatu, namun kembali mendapatkan gelengan kepala. Lesu terlihat di wajah si bapak. Tak butuh waktu lama, giliran bapak saya dihampirinya. Bapak saya yang sejak tadi penasaran dengan apa yang ditawarkan menampilkan wajah yang berbeda dari ekspresi kebanyakan orang di sekitar. 

"Bawa apa, pak?' bapak mulai bertanya.

"Buku komik, pak. Mau saya jual", jawab si bapak tua.

Bapak diperlihatkan isi dus. Bapak mengaku langsung teringat kami, anak-anaknya di rumah.

Bapak tanya mau dijual berapa yang dijawab dengan nominal yang tidak banyak.

Kata bapak tua sejumlah itulah uang yang kiranya cukup untuk membawa cucunya berobat. Anak menantunya sudah meninggal dunia sehingga sang cucu berada dalam tanggungannya. 

Saat itu bapak mengaku tidak peduli apakah si bapak tua telah mengatakan hal yang sebenarnya tentang alasan menjual komik-komik di dalam dus. Yang bapak ingin hanya membawakan kejutan bagi anak-anaknya. 

"Sudah lama bapak tidak naik kereta. Sekalinya naik kereta, bapak bisa bawa pulang kejutan. Keren, kan!", senyum lebar bapak mengakhiri kisahnya.

Saat saya dewasa dan mulai kuliah, setiap saya mengingat kembali kenangan malam itu, saya selalu tersenyum sendiri. Saya ingat cerita-cerita di dalam setumpuk komik itu bukanlah cerita yang ditujukan untuk anak, sebenarnya. Seingat saya cerita-ceritanya berkisar tentang seloroh antar tokoh yang sering tertimpa kemalangan atau nasihat yang disampaikan lewat cerita jenaka. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun