Mohon tunggu...
Idad S Haq
Idad S Haq Mohon Tunggu...

Staf pengajar PTS dengan hobi membagi & memberi. Didalam membagi dipastikan ada pekerjaan memberi, tetapi didalam memberi belum tentu kita membagi.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Membangun Peran Serta Warga Kompasianer dalam Pengusahaan Migas

15 Maret 2015   20:16 Diperbarui: 17 Juni 2015   09:36 0 6 4 Mohon Tunggu...
Membangun Peran Serta Warga Kompasianer dalam Pengusahaan Migas
1426424873385222269



(Sumber gambar: http://www.skkmigas.go.id/)





Hal yang melatarbelakangi penulisan judul tulisan di atas, terbersit muncul ketika penulis pertama kali membaca UU 22/2001 tentang minyak dan gas bumi (migas). Pada bagian awal UU tersebut dinyatakan dengan jelas bahwa salah satu asas penyelenggaraan kegiatan usaha migas adalah ekonomi kerakyatan. Dimana ekonomi kerakyatan sendiri didefinisikan sebagai ekonomi yang mengacu pada peningkatan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.


Berdasarkan rasa kepenasaran dan dugaan penulis, bahwa jika terdapat kata indah berupa “ekonomi kerakyatan”, maka dipastikan akan ada kata elok (padanan kata indah) selanjutnya, yaitu “Koperasi”. Kemudian penelusuran penulis terhadap UU tsb berlanjut, nah ternyata Kompasianer dugaan penulis tepat, ketika sampai pada Pasal 9 butir (1) dalam UU 22/2001 tsb disebutkan bahwa kegiatan usaha hulu dan kegiatan usaha hilir migas dapat dilaksanakan salahsatunya adalah oleh Koperasi.

Langkah selanjutnya adalah mencari pengertian apakah yang dimaksud dengan Koperasi itu sendiri? Agar pemahaman kita tidak salah, penulis mengacu kepada UU tentang Perkoperasian, yaitu UU Nomor 17 tahun 2012. Di dalam UU tersebut Koperasi didefinisikan sebagai badan hukum yang didirikan oleh orang perseorangan atau badan hukum Koperasi, dengan pemisahan kekayaan para anggotanya sebagai modal untuk menjalankan usaha, yang memenuhi aspirasi dan kebutuhan bersama di bidang ekonomi, sosial, dan budaya sesuai dengan nilai dan prinsip Koperasi.

Dimana dalam UU tersebut dinyatakan bahwa Koperasi didirikan atas asas kekeluargaan, dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, sekaligus sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari tatanan perekonomian nasional yang demokratis dan berkeadilan.


Kata yang bernama Koperasi sudah kita peroleh perwujudannya (definisinya), langkah selanjutnya adalah tindakan/usaha apa yang dapat kita lakukan agar pengetahuan kita tentang Koperasi ini dapat dijadikan sebagai salah satu model solusi agar kita dapat berperan serta dalam mengatasi persoalan di dalam obyek yang bernama migas ini.

Agar dapat diperoleh gambaran mengenai peluang usaha apa saja yang dapat kita ambil dari migas ini, mari kita telaah dahulu paparan dari SKK Migas. Dimana SKK Migas ini merupakan lembaga yang diberi kewenangan untuk melakukan pengawasan dan pengendalian kegiatan usaha pada sektor hulu. Gambar berikut menampilkan kegiatan usaha migas yang mencakup sektor hulu dan hilir.

Gambar 1. Kegiatan Usaha Hulu dan Hilir Migas (Sumber: SKK Migas)




Dimana kegiatan usaha hulu (upstream) mencakup eksplorasi dan eksploitasi (kotak bagian atas dengan warna biru tua), sedangan kegiatan usaha hilir (downstream) yang mencakup pengolahan, pengangkutan, penyimpanan dan niaga. Dilihat dari tujuan kedua kegiatan usaha pada bagian hulu ini, eksplorasi dilakukan untuk memperoleh informasi yang digunakan dalam menemukan dan memperoleh perkiraan cadangan migas, sedangkan eksploitasi telah masuk pada kegiatan produksi (kegiatan menghasilkan migas).

Gambaran usaha baik pada bagian hulu dan hilir migas telah diperoleh dari gambar di atas. Peran Koperasi (sebagai badan usaha) dalam usaha kegiatan migas ini, menurut UU Migas hanya bisa menjalankan usaha pada salah satu bagian saja, bisa pada bagian hulu ataukah bagian hilir migas (UU membatasi tidak bisa untuk kedua-duanya).

Agar pembahasan tulisan ini tidak melebar, mari kita konsentrasikan usaha migas pada bagian hulu saja. Dimana sesuai paparan di atas usaha pada bagian hulu migas ini mencakup usaha kegiatan eksplorasi dan eksploitasi. Penjelasan tahapan kegiatan hulu migas yang mencakup kedua usaha kegiatan ini (eksplorasi & eksploitasi) terdapat pada paparan berikut.

Gambar 2. Tahapan Kegiatan Hulu Migas (Sumber: SKK Migas)






Berdasarkan paparan di atas, diperolah gambaran bahwa jangka waktu pelaksanaan kegiatan fase eksplorasi s.d. fase eksploitasi (tahap pengembangan/POD) secara teoritik adalah 15 tahun. Dimana jangka waktu kontrak sendiri telah ditetapkan paling lama selama 30 tahun dan boleh mengajukan perpanjangan paling lama 20 tahun untuk setiap kali perpanjangan (PP 35/2004 tentang Kegiatan Usaha Hulu Migas). Jadi berdasarkan urutan fase tersebut, fase eksploitasi (tahap produksi) migas sendiri diperkirakan baru dimulai pada tahun ke-16.


Fase eksplorasi s.d. fase eksploitasi (tahap pengembangan/POD) selama 15 tahun tsb, inisemua kegiatannya berkaitan dengan pengolahan data (untuk dijadikan informasi yang digunakan dalam menemukan & memperoleh perkiraan cadangan migas) dan selama jangka waktu tsb Kontraktor KKS (KKKS) membiayai seluruh pengeluaran yang diperlukan. Pengembalian seluruh pengeluaran (cost recovery) dimulai ketika memasuki tahap produksi migas.

Membaca Gambar 2. di atas, menurut penulis sangatlah tidak menguntungkan jika Koperasi memasuki usaha kegiatan pada bagian hulu (eksplorasi & eksploitasi) migas ini, karena jangka waktu yang demikian lama untuk mengelola dan dipastikan kegiatan usaha ini diperlukan penggunaan teknologi yang demikian tinggi.

Dari paparan ini setidaknya kita menjadi paham, bahwa untuk masuk ke dalam usaha pada bagian hulu ini diperlukan modal besar dan daya dukung penguasaan teknologi yang relatif tinggi. Asas pendirian Koperasi yaitu kekeluargaan dengan tujuan kesejahteraan bagi anggota dan masyarakat dipastikan sulit (bahkan tidak bisa) masuk pada usaha ini.

Atas dasar hal ini, kemudian timbul pertanyaan dalam benak pikiran kita. Pada bagian mana Koperasi dapat mengambil peran pada sektor migas ini? Penulis meyakini pasti ada bagian dari migas ini yang dapat dikelola oleh Koperasi, karena hal ini merupakan amanat UU yang harus dijalankan.

Pada paparan selanjutnya dari SKK Migas, yang menjelaskan bahwa pengelolaan migas sasaran akhirnya (ultimate goal) adalah sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Dari paparan ini penulis mendapatkan kata kunci, yaitu sumur tua (lingkaran merah).

Gambar 3. Ultimate Goal pengelolaan Migas (Sumber: SKK Migas)




Definisi sumur tua sendiri menurut Permen ESDM 01/2008 adalah sumur-sumur Minyak Bumi yang dibor sebelum tahun 1970 dan pernah diproduksikan, serta terletak pada lapangan yang tidak diusahakan pada suatu Wilayah Kerja yang terikat Kontrak Kerja Sama (KKS) dan tidak diusahakan lagi oleh Kontraktor.

Di dalam Permen ESDM 01/2008 tsb, diamanatkan bahwa pengusahaan dan pemroduksian minyak bumi dari Sumur Tua tersebutdilaksanakan oleh Koperasi Unit Desa (KUD) atau Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang didasarkan kepada perjanjian memproduksi minyak bumi dengan Kontraktor. Dan potensi migas yang terdapat dalam sumur tua ini menurut Kepala Dinas Produksi SKK Migas tercatat hingga terdapat 13.824 sumur tua di seluruh Indonesia terdiri dari 745 sumur tua yang aktif dan 13.079 sumur tua yang tidak aktif.

Sampai di sini paparan menjadi jelas, bahwa unsur-unsur pembentuk yang diperlukan untuk melakukan suatu tindakan yang diinginkan seperti dijelaskan pada bagian awal artikel ini telah diperoleh. Baiklah penulis akan himpun kembali unsur-unsur tersebut, yaitu asas penyelenggaraan kegiatan usaha migas adalah ekonomi kerakyatan, dan hal ini bisa dijalankan melalui wadah (instrumentasi) yang bernama Koperasi. Adapun kegiatan usaha migas yang dapat dijalankan oleh Koperasi adalah pengusahaan dan pemroduksian migas pada sumur tua, dan terdapat potensi yang besar dalam pengelolaan dan pengusahaan sumur tua di Indonesia.

Langkah selanjutnya adalah bagaimana agar kita dapat mengambil peran serta dalam hal ini. Salah satu peran serta warga Kompasianer yang dapat direalisasikan adalah mendirikan Koperasi yang bergerak dalam usaha migas yang bersumber dari sumur tua ini. UU Perkoperasian sendiri mensyaratkan bahwa Koperasi dapat didirikan oleh paling sedikit 20 (duapuluh) orang untuk Koperasi Primer dan sekurangnya 3 (tiga) orang anggota untuk mendidirkan Koperasi Sekunder.

Karena penulis sendiri adalah salah satu warga Kompasianer, maka penulis tidak akan jauh-jauh mengajak warga lainnya (di luar Kompasiana) dan akan lebih baik jika mengajak dahulu sesama warga Kompasianer lainnya untuk menjadi anggota Koperasi ini.

Jumlah keanggotaan media Kompasiana (yang disebut sebagai Kompasianer) diperkirakan mendekati angka 300 ribu anggota. Kita asumsikan hanya setengah anggota media Kompasiana saja yang bersedia menjadi anggota Koperasi Warga Kompasianer yang akan didirikan ini, yaitu menjadi sekitar 150 ribu orang. Jika semua anggota memberikan setoran pokok (iuran wajib sebagai anggota) yang telah disepakati besarnya, misalnya Rp 100.000 (Kompasianer sepakat bahwa anggaran bulanan pulsa ponsel akan dialihkan dahulu untuk tujuan mulia ini). Dapat dibayangkan kita sudah mendapat modal awal Koperasi sebesar Rp 15 milyar (angka 15 dengan jumlah nol di belakangnya sebanyak sembilan buah).

Taruhlah bahwa untuk pengelolaan dan pengusahaan satu sumur tua diperlukan dana 0,5 milyar dan dengan asumsi ini setidaknya Koperasi Warga Kompasianer sudah dapat mengelola sebanyak 30 sumur untuk dapat memproduksi minyak mentah darisumur tua yang nantinya minyak mentah ini akan ditampung oleh Kontraktor.

Jika usaha ini menguntungkan, jangan lupa Kompasianer bahwa keuntungan yang diperoleh Koperasi ini dipastikan akan dikembalikan lagi bagi anggotanya. Selain keuntungan dari aspek finansial bagi anggotanya, akan diperoleh juga dampak positif lainnya yang berkaitan dengan paparan SKK Migas selanjutnya.

Gambar 4. Diagram Produksi vs Konsumsi Migas (Sumber: SKK Migas)




Dengan berpartisipasi aktif dalam Koperasi yang mengelola dan mengusahakan migas yang bersumber dari sumur tua, secara tidak langsung kegiatan (Koperasi) ini akan memiliki kontribusi dalam menaikkan produksi migas secara nasional (garis biru pada Gambar 4 akan naik). Uraian panjang lebar di atas adalah salah satu usaha kita, yaitu mendirikan Koperasi pada sektor usaha migas yang akan berdampak pada naiknya garis biru (menaikan produksi).

Kompasianer pasti setuju bahwa Gambar 4 di atas pada bagian sebelah kanan menampilkan gambar pria yang kelihatan sedang pusing dan stres (diindikasikan oleh tangan kiri mengaruk-garukan kepala yang penulis pastikan bahwa kepala dia sebenarnya tidak gatal). Simbol gambar pria ini setidaknya menunjukkan bahwa dia stres melihat fenomena semakin melebarnya kesenjangan (gap) antara garis merah (konsumsi) yang semakin menaik dan garis biru (produksi) yang semakin menurun. Dan penulis sendiri melihat gambar pria di atas adalah representasi dari kita sendiri, yaitu warga negara Indonesia yang melihat bahwa fenomena ini nyata terjadi dalam negara yang dinamakan Republik Indonesia ini.

Agar Kompasianer dikatakan memiliki empati yang bagus untuk menolong gambar pria (yaitu diri kita sendiri) tersebut menjadi tersenyum, sebenarnya tidaklah sulit kita membantunya untuk menurunkan garis merah pada diagram di atas. Kemudian usaha/tindakan apa yang dapat kita lakukan agar setidaknya laju konsumsi (garis merah) menurun atau berkurang?

Tiada lain usaha ini adalah dengan cara kita melakukan penghematan atas penggunaan energi yang bersumber dari migas ini.Jangan lupa pembaca, bahwa migas dihasilkan dari sumber daya energi yang suatu saat waktu akan habis persediaannya (deplesi) dan dipastikan anak cucu kita tidak akan kebagian lagi energi yang bersumber dari migas ini. Dengan melakukan penghematan pemakaian migas, serta pencarian dan penggunaan alternatif sumber energi lainnya (terbarukan) dipastikan akan mengurangi laju konsumsi energi migas ini.

Asa untuk menjadikan sesuatu hal menjadi lebih baik lagi dalam hidup ini, dipastikan akan ada pada setiap diri sanubari manusia, karena itulah esensi kita hidup sebagai manusia di muka bumi ini. Mari kita yakini bahwa suatu saat Koperasi Warga Kompasianer ini akan lahir dan keberadaannya untuk mensejahterakan rakyat Indonesia pada umumnya dari sektor migas ini semakin terwujud, amin.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x