Noe Ichwanusshofa
Noe Ichwanusshofa Lecturer

biasa aja, dan bersyukur masih bisa merasa biasa...

Selanjutnya

Tutup

Puisi Artikel Utama

Puisi | Kasus 1773

8 Maret 2018   11:20 Diperbarui: 8 Maret 2018   23:35 1238 5 0
Puisi | Kasus 1773
Ilustrasi: Liputan6.com

Delapan Mei dua puluh lima tahun lalu,
mayat Marsinah tergeletak tragis ditemukan
namanya terukir dalam pahatan kemanusiaan  
menjadi bibit nurani perjuangan
nasib dan kemerdekaan 

Tumbal perjalanan kelam negeri mahsyur ini
Dipasung perselingkuhan kuasa dan uang  
Saat itu, kata-kata dibungkam sejak
dalam pikiran, Marsinah tidak diam!
Ia melawan dan paripurna dalam derita.

Delapan Mei dua puluh lima tahun lalu,
Marsinah dibunuh! Tangan-tangan hina
merampas kebebasannya. Raga Marsinah dikoyak
saat matahari belum tiba

Ketika kata-katanya terhenti
oleh tangan kekar laki-laki,
Ketika tulang panggulnya hancur dipapar besi
oleh iblis menderap bumi,
Ketika ajal membebaskan dia dari neraka,
Sedang apa kira-kira diri kita?

Delapan Mei dua puluh lima tahun lalu,
Buruh arloji itu menunaikan tugasnya
Tugas yang sekali-kali tak dapat
diselesaikan priyayi berpendidikan sarjana
Tugas kemanusiaan yang tak usai
dengan meliburkan Satu Mei saja
Pekerjaan rumah dalam
janji-janji lima tahunan. Hanya pijakan
untuk singgasana dari bau anyir penindasan

Delapan Mei dua puluh lima tahun lalu,
tangan kekuasaan menghabisi Marsinah
Jemarinya juga masih bekerja
dalam wujud baru yang sama bengisnya
Nyatanya, hari ini yang kerap bicara
akan berurusan dengan pemegang kuasa
Tetap bergeming sekedar mendengar
keluh suara. Suara teluk Benoa, Kendeng,
Kulonprogo, pun suara di tiap kamis seberang istana
Alasan mah bisa saja diada-ada...
PKIlah, terorislah, penyebar hoaks
atau apa saja yang mereka suka
Lihatlah di lapangan, apa yang disuarakan?
Siapa yang dibelanya?
Kamu tak pernah mau tahu bukan?
Duh Gustiii...

Membaca hidup Marsinah hari ini,
membakar jiwa kami kembali
Kami hanya mengingat, agar lekat
dalam benak negeri
waktu itu ada Marsinah, buruh yang dilindas
saat membela kemanusiaan dan harga diri
Jika karena surat-menyurat kepada bangsa penjajah
putri priyayi kita sebut pahlawan
Lantas apa yang pantas buat Marsinah?
 

Sekali ini, sempatkan sebuah jawaban tadi di hatimu saja


(Marsinah, 1993-2018)
*Kasus Marsinah menjadi catatan Organisasi Buruh Internasional (ILO), dikenal sebagai kasus 1773.