Mohon tunggu...
Ian Wong
Ian Wong Mohon Tunggu... Dosen, Peneliti

Ian Wong, orang Indonesia biasa, mengharapkan kemajuan bangsanya.

Selanjutnya

Tutup

Keamanan Pilihan

Jangan Beri Kesempatan pada Perusuh Bangsa

23 Mei 2019   09:14 Diperbarui: 23 Mei 2019   12:33 0 2 1 Mohon Tunggu...

Tak ada yang mengejutkan sebenarnya dalam kontestasi politik kali ini. Makin terang-benderang siapa yang benar memihak rakyat, dan siapa yang menghasut dengan narasi-narasi pemecah. 

Narasi kecurangan sudah digelar bahkan sebelum hari pemilu. Ini seperti pemain yang tidak sportif yang dari awal memang sudah punya niat untuk menendang wasit dan penjaga garis. 

Jadi kalau mau mengatakan suatu setting yang sistematis dan terstruktur, kita tahu sebenarnya siapa yang melakukan. Hinaan pada KPU, Bawaslu dan Pemerintah sudah melewati batas kewajaran. Dan ketika bahkan sudah jatuh korban, yang muncul justru tetap ambisi yang besar untuk mengeksploitasi korban demi narasi politik. Tak ada perhatian yang murni terhadap nasib para pengunjuk rasa yang benar jadi korban. 

Dari segi motif, sangat jelas siapa pihak yang diuntungkan kalau terjadi kerusuhan. Sehingga darah rakyat kecil yang tak bersalah itu sebenarnya ada di tangan banyak politisi yang tak punya nurani. 

Begitu mereka berdiri di depan corong atau layar TV, yang dilakukan hanya narasi pemecah demi keuntungan politik. Padahal jelas juga bahwa pengunjuk rasa dan perusuh itu dua kelompok yang berbeda, tapi para politisi ini terang-terangan tidak mau melihat perbedaan itu. Mereka sibuk terus meneriakkan dengan nada tinggi amunisi untuk memecah bangsa.

Kerusuhan semacam ini selalu perlu logistik dan aliran uang. Sehingga tidak heran bahwa polisi menemukan berbagai bukti persiapan, bom molotov, batu, bahkan uang untuk operasi di lapangan. Unjuk rasa yang konstitusional juga ada aturannya. Jam 18.00 harus bubar! Kalau ternyata bandel, sering polisi juga masih mentoleransi. Tapi politisi tanpa nurani sering terlalu sibuk mengeksploitasi rakyat kecil. 

Bukannya menyuruh pengunjuk rasa pulang sesuai aturan, mereka malah menghasut supaya kondisi jadi makin panas. Mereka tak peduli kalau makin banyak korban!

Yang bekerja sangat keras dan perlu kita hargai justru adalah pihak kepolisian. Sampai larut malam mereka bekerja dan berjaga. Kantor mereka dibakar. Mereka dipancing dengan lemparan batu, petasan dan hinaan, justru di tengah bulan Ramadhan ini. 

Mereka juga punya keluarga yang mengharapkan mereka dapat pulang dengan selamat. Mereka bekerja keras menangkap banyak perusuh yang dengan jelas merencanakan kejahatan. Ibadah yang sesungguhnya mereka lakukan dengan emosi yang disiplin di tengah malam di bawah helm dan perisai pelindung.

Kita memang harus percaya pada people power! Rakyat Indonesia sudah menyatakan keinginannya lewat jalur pemilu yang sah. Jangan lagi mau diperalat dengan uang atau hasutan untuk memecah bangsa! 

Politisi bisa saja mengeksplotasi rakyat untuk kepentingan mereka (dan mereka akan terus berusaha melakukan itu). Namun ada kekuatan yang sesungguhnya adalah pilihan kita - rakyat biasa. Jangan lagi mau dihasut untuk memecah belah bangsa. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2