Mohon tunggu...
Ian Wong
Ian Wong Mohon Tunggu... Dosen, Peneliti

Ian Wong, orang Indonesia biasa, mengharapkan kemajuan bangsanya.

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Ooh Prabowo, Mengapa Tak Legowo

21 April 2019   18:06 Diperbarui: 21 April 2019   18:20 0 0 0 Mohon Tunggu...
Ooh Prabowo, Mengapa Tak Legowo
prabowo-weekend-australian-5cbc3cdc3ba7f728345641d3.jpg

Setelah sesaat tak memberikan banyak komentar pada perilaku membingungkan dari Prabowo, media asing mulai menuliskan opini mereka. ABC Australia (Anne Barker, 18/4), misalnya, mengutip Marcus Mietzner dari Australian National University yang membandingkan Prabowo dengan Trump yang hidup dalam gelembung fantasinya sendiri. 

Sambil menuding kecurangan dan kebohongan berbagai lembaga quick count, Prabowo melempar berbagai angka-angka kemenangan dirinya, seolah-seolah angka-angka itu memang dapat dibengkokkan dengan kekuatan imajinasinya sendiri: 52%, 55%, bahkan 62%. Prabowo dengan enteng melempar angka-angka seolah tak ada artinya apa-apa.

Tak heran South China Morning Post (Resty Woro Yuniar, 20/4) berusaha mencari alasan mengapa Prabowo bersikap demikian. SCMP mengutip Prof psikologi Hamdi Muluk dari UI yang menjelaskan bahwa Prabowo menunjukkan delusi kebesaran diri (delusion of grandeur). Dalam fantasinya, Prabowo membayangkan dirinya sebagai figur yang hebat, sehingga kekalahan merupakan satu shock terlalu besar bagi dirinya. Merasa mendapatkan dukungan dari banyak umat Muslim, Prabowo tak mampu melihat bahwa lebih banyak umat Muslim yang tidak setuju pada visi yang dia tawarkan.

Tulisan yang paling keras sejauh ini mungkin dari The Australian (Amanda Hodge & Nivell Rayda, 20/4), yang dengan jelas menyebut Prabowo sebagai pecundang (loser) yang mengklaim kemenangan. Reuters (Maikel Jefriando & Cindy Silviana, 18/4) mengatakan bahwa perbedaan 10% yang diperlihatkan merata oleh semua lembaga resmi quick count sebenarnya menunjukkan Prabowo sama sekali tak punya bukti kuat bahwa kemenangannya telah dicurangi. Hasil quick count di tahun sebelumnya selalu menunjukkan hasil yang akurat.

Mungkin saja media asing terlalu berlebihan menilai bahwa Prabowo delusi. Sehingga, yang kita saksikan adalah seorang capres yang waras dan rasional. Namun pertanyaannya adalah, apakah secara sadar Prabowo akan memilih mendahulukan bangsa daripada kepentingan golongan dan kelompoknya saja? Kita sudah melihat banyak di barisan pendukungnya yang sering menunjukkan ambisi tanpa akal sehat. Namun Prabowo bukanlah pemimpin yang mentolerir anak buah yang ABS (Asal Bapak Senang). Akankah kita menyaksikan tindakan kenegarawan dari Prabowo? Ataukah untuk itu semua sudah terlalu terlambat?

KONTEN MENARIK LAINNYA
x