Mohon tunggu...
Iksan Mahar
Iksan Mahar Mohon Tunggu... pelajar/mahasiswa -

Pecinta musik dan bola | Pelancong | Pemimpi | iksanmahar@live.com

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

“Le Bleus” Mencari Penawar Trauma

8 Juli 2016   18:51 Diperbarui: 8 Juli 2016   19:21 103
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bola. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Publik Perancis masih belum bisa melepaskan trauma peristiwa bom Paris, 14 November 2015. Kala itu, malam cerah dilengkapi gugusan bintang musim gugur menjadi pemandangan di langit Paris. Sementara di wilayah pinggiran Paris, tepatnya Saint Denis, tim nasional Perancis tengah bertanding melawan Jerman di Stade de France dalam sebuah laga persahabatan jelang Piala Eropa 2016.

Pertandingan berjalan seru. Jual-beli serangan menjadi tontonan menarik dari dua kandidat jawara Eropa. Tetapi, takdir membawa cerita duka ketika pertandingan itu memasuki menit ke-17. Salah satu dari tiga bom Paris meledak di dekat stadion itu. Penonton bergemuruh. Ada yang terkejut, ada pula yang mengira itu bagian kejutan dari pertandingan yang biasa berbentuk kembang api.

Keterkejutan juga dialami 22 pemain yang berlaga di lapangan. Meski pertandingan sempat terhenti beberapa menit, laga tetap dilanjutkan dengan kemenangan dua gol tanpa balas bagi tim tuan rumah. 

Suasana mencekam justru terasa seusai laga. Sekitar 70 ribu penonton dievakuasi ke lapangan. Setelah hampir satu jam mereka baru dipersilahkan pulang. Seluruh skuad Perancis dan Jerman juga dengan pengawalan super ketat meninggalkan Stade de France.

Hampir delapan bulan berlalu, tepatnya 7 Juli 2016, Perancis kembali bertemu Jerman di laga resmi, semifinal Piala Eropa 2016. Lagi, Paul Pogba dan kolega unggul dari “Der Panser” dengan skor identik, 2-0. Dua gol Antoine Griezmann menjadi pembeda.

Ketika pada akhir 2015, laga melawan Jerman menjadi penanda duka Perancis, kemarin, laga itu menjadi pijakan tangga yang mendekatkan tim “Ayam Jantan” dengan obat penawar luka bagi jutaan masyarakat Perancis. Obatnya cuma satu, yaitu kemenangan melawan Portugal di stadion nasional sekaligus saksi bisu peristiwa bom Paris, yakni Stade de France.

“Kami tidak memiliki kekuatan untuk menyelesaikan masalah rakyat Perancis, tetapi kami bisa meringankan kekhawatiran mereka,” ujar Didier Deschamps, sang pelatih Perancis usai memastikan tiket final pertama Perancis sejak 16 tahun silam.

Deschamps punya pengalaman mengesankan memimpin pasukan “Ayam Jantan” di babak final. Di Stade de France pada Piala Dunia 1998, jiwa kepemimpinannya mampu membakar nationalisme skuad Perancis, sehingga mampu memberi jalan Zinedine Zidane untuk menghadirkan magis guna menghancurkan Brasil, 3-0. Gelar Piala Dunia perdana pun dipersembahkan.

Dua tahun berselang, di Amsterdam, Belanda, Deschamps yang telah menginjak usia 32 tahun juga mampu menyuntikkan semangat juang hingga anak muda bernama David Trezeguet menghadirkan gol emas ke gawang Francesco Toldo. Perancis mengalahkan Italia untuk menyegel gelar kedua di Piala Eropa.

Pada Minggu malam, atau Senin dinihari waktu Indonesia, jiwa kepemimpinan Deschamps kembali diuji. Ia bukanah pelatih yang meledak-ledak dan ekspresif seperti Antonio Conte. Bukan pula pria yang necis macam Joachim Loew yang gemar berganti gaya busana setiap laga. Deschamps adalah sosok yang cukup berbicara dengan hasil di lapangan.

Ia tidak bergeming atau terpikir untuk membalas komentar satir Eric Cantona terkait pemilihan skuad Perancis di Piala Eropa 2016. Cantona menganggap pemilihan pemain yang dilakukannya terasa rasis karena tidak mencantumkan dua pemain berkualitas, yaitu Karim Benzema dan Hatem Ben Arfa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun