Mohon tunggu...
Hyasint Asalang
Hyasint Asalang Mohon Tunggu... Pergo et Perago

Mahasiswa Magister Manajemen

Selanjutnya

Tutup

Politik

Andai Aku Jadi Jokowi

27 Juni 2019   17:56 Diperbarui: 27 Juni 2019   18:03 74 0 0 Mohon Tunggu...

Perjalanan bangsa ini masih tertatih, meski telah berganti-ganti pemimpin. Berbagai kebijakan pun diambil, mulai dari yang terkecil agar perut selalu terisi setiap hari, hingga yang tersulit: menjadikan Indonesia sebagai salah satu bangsa elit. Namun, sampai sekarang semuanya belum berhasil. Sebagai warga Negara, jangan dulu salahkan orang lain. Kita harus terlebih dahulu bercermin: mengapa Indonesia masih merangkak seperti bayi?

Sekarang, Indonesia sedang dipimpin Jokowi. Kiprahnya dalam pemerintahan tidak bisa dipandang sebelah mata. Meski demikian, kesederhananlah yang membuatnya terkenal. Inilah bukti bahwa kesederhanan unggul di antara warna politik yang selalu menampilkan sifat ambisius. Terobosan baru revolusi mental semakin membuatnya disanjung tinggi sekaligus dipercaya mampu membawa Indonesia ke pentas dunia papan atas. Mengambil ungkapan Nietzsche, aku menilai Jokowi sebagai manusia unggul. Inilah satu alasan mengapa aku ingin menjadi Jokowi. 

Setelah terpilih menjadi presiden, gaya kepemimpinan Jokowi pun masih tetap sama. Ia selalu blusukan untuk melihat, mengawasi dan mengontrol jalannya pemerintahan agar Indonesia berani berlari dalam keseimbangan tanpa perlu takut akan terjatuh. Gaya pemerintahan ini berkenaan dengan cara pandang masyarakat yang tengah berganti dari cara berpikir ideologis ke pragmatis. Sekarang bukan lagi saatnya mengagungkan keindahan berpidato atau mendewakan hikmatnya kata-kata. Jokowi menunjukkan bahwa pemimpin bukanlah sebagai penyair melainkan petani yang menabur dan menuai keberhasilan dengan kerja nyata yang dapat dibuktikan.

Namun, setelah lebih dari setahun menjadi presiden, ada banyak sorotan yang muncul di media mengenai cara kerjanya dalam memimpin republik ini. Lantas, apakah ini mengubah keinginanku untuk menjadi Jokowi? Tidak! Di satu sisi, kepemimpinan dan kepribadian Jokowi yang demikian hanya membutuhkan cara baru yang lebih efektif. Sedangkan di sisi lain, aku bisa melengkapi kesempurnaan Jokowi tersebut jika aku menjadi presiden sama seperti Jokowi meskipun hanya sehari.

Jika aku menjadi Jokowi ada tiga hal yang akan aku lakukan mengingat sempitnya waktu yang diberikan menjadi presiden. Hal pertama yang kubuat ialah membuat daftar kegiatan pribadi setiap hari, terlepas dari kegiatan pemerintahan. Di dalamnya, aku akan meluangkan waktu untuk bermeditasi. Meditasi menciptakan ketenangan diri dari tugas berat yang dipikul karena tingginya kesibukan presiden saat ini, serta membantu dalam menimba kekayaan cara pandang dari peristiwa atau masalah yang sedang dihadapi.

Kedua, berkaitan dengan blusukan, aku akan menata ulang kepentingan dan kemendesakan tugas yang harus diprioritaskan, mengingat kunjungan presiden selama ini bagi banyak pihak terindikasi "tanpa perencanaan". Alhasil, kunjungan presiden pada setiap daerah akan benar-benar proporsional. Selanjutnya, untuk melancarkan proses pengontrolan dan juga tidak terkesan "bolak-balik" dari daerah yang dikunjungi, komunikasi melalui internet khususnya jejaring sosial menjadi hal yang penting. 

Penggunaan jejaring sosial dimaksudkan agar pengontrolan bukan hanya dilakukan presiden melainkan seluruh rakyat Indonesia. Apalagi Indonesia dikenal sebagai salah satu negara pengguna jejaring sosial terbanyak di dunia. Pengontrolan ini tidak semata-mata membuat presiden hanya duduk dan berpangku tangan menatap layar, melainkan sebagai jalan pertama untuk mengetahui secara gamblang kondisi yang terjadi di berbagai belahan Nusantara. Dengan demikian, presiden leluasa mengontrol dari jauh tanpa harus takut adanya informasi yang dimanipulasi.

Ketiga, pemerintahan yang sehat dan bahagia bukan hanya ditentukan semata-mata satu orang saja melainkan adanya kerja sama dengan orang lain. Maka aku akan mengadakan rapat dengan semua menteri dan jajarannya untuk membahas jalannya pemerintahan yang lebih efektif dan juga hasil yang terealisir tanpa harus menunggu waktu yang lama. 

Salah satu hal yang dibahas yakni keharusan bagi para menteri untuk menyelesaikan minimal satu program jangka pendek atau masalah dari menteri yang bersangkutan dalam jangka waktu satu  bulan, dengan tetap melaksanakan program jangka panjang yang telah dicanangkan. Hal ini bukan hanya sekadar memperbaiki rapor para menteri melainkan juga untuk menunjukkan bahwa kerja mereka dapat dilihat secara nyata dan dirasakan manfaatnya.

Andai saja aku jadi Jokowi...

 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x