Mohon tunggu...
Husni Ismail
Husni Ismail Mohon Tunggu... Penulis - Alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prodi Interdisciplinary Islamic Studies, Konsentrasi Bimbingan Konseling Islam

Pegiat literasi dalam kajian Islam, konseling dan psikologi.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Idul Adha: Mengorbankan Egoisme, Menumbuhkan Kesabaran

17 Juli 2022   11:17 Diperbarui: 17 Juli 2022   11:20 221
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
gambar ilustrasi (foto : site-juicymo)

Gelora semangat menyambut hari raya kurban selalu kita warisi secara turun-temurun. Antusiasme ini ditunjukkan lewat kegembiraan umat yang memadati sejumlah masjid dan tanah lapang untuk melaksanakan ibadah shalat id, ibadah kurban hingga silaturahmi antar sesama, suasana ini menghadirkan rasa kebahagiaan masyarakat muslim di tanah air.

Melawan Egoisme 

Secara filosofis Idul Adha bisa dimaknai sebagai momentum untuk memperbaiki diri dari segala bentuk keburukan dan keserakahan manusia menuju ketaatan dan kesalehan individu-sosial. Melalui momen ini umat Islam secara pribadi maupun masyarakat membangun hubungan kemanusiaan universal melalui pengikisan egoisme dan kepentingan pribadi.

Mengorbankan egoisme merupakan salah satu jalan menuju ketakwaan dan kesalehan, membuang sifat-sifat keserakahan, kesombongan, iri hati, tamak, kebencian, dan lain sebagainya yang termasuk dalam komponen psikologis manusia dengan menggantikan rasa keikhlasan, kesabaran, kejujuran, semangat kebangsaan, dan persatuan.

Hari raya kurban menjadi ajang perlombaan untuk berbuat baik pada umat, saling berbagi dan saling mengasihi, tanpa harus membedakan antara si "kaya" dan si "miskin", momentum ini menciptakan solidaritas antara umat muslim khususnya di Indonesia yang sarat dengan nilai teologis-filosofis.

Dengan begitu kegembiraan bukan hanya dirasakan oleh pribadi ataupun sekelompok orang, sekelompok organisasi, ataupun hanya golongan partai, tetapi juga dinikmati oleh mereka yang kurang mampu secara materi-duniawi, semua umat merasakan dampak positif dari ajaran/doktrin agama lewat ibadah kurban.

Pada dasarnya kurban adalah manifestasi ketakwaan seorang hamba kepada Tuhan. Ibrahim menyembelih Ismail adalah perwujudan sekaligus pembuktian kerelaan hati dan ketaatan kepada Allah Yang Maha Kuasa. Kepatuhan Ibrahim mampu melewati segala bentuk ujian walaupun mengorbankan anak sendiri.

Penting dicatat bahwa kasus Ibrahim menyembelih anaknya Ismail bukan dengan maksud pembenaran kematian secara sia-sia, agama tidak membenarkan demikian, namun peristiwa itu bisa diinterpretasikan sebagai bentuk perlawanan diri, mengikis egoisme dan melawan hawa nafsu.

Imam al Ghazali (w.1111 M) pernah menyebut dalam risalahnya, sebuah bait-bait kecil bernama kitab Ayyuhal Walad bahwa seorang pembelajar harus mempersiapkan diri untuk peperangan yang sangat besar di masa depan, dan ketahuilah bahwa perang itu adalah melawan hawa nafsu.

Egoisme secara sederhana adalah kecenderungan untuk mempertahankan dan meningkatkan pandangan yang hanya menguntungkan diri sendiri dan mengabaikan kepentingan orang lain. Kehadiran Idul Adha diharapkan memberi kontribusi positif pada seluruh umat, mengarahkan manusia pada kesalehan sosial.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun