Djamaluddin Husita
Djamaluddin Husita Blogger Amatiran

Blogger Amatiran: "Ayah 3 Putra dan 1 Putri. Ingin menyekolahkan anak-anak setinggi yang mereka mau. Mendorong mereka suka membaca dan menulis (Generasi muda harus diarahkan untuk jadi diri sendiri yang berkarakter). "

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Catatan dari Aceh World Solidarity Cup, Mulai dari Lapangan Becek Sampai Nasionalisme Suporter

7 Desember 2017   13:05 Diperbarui: 7 Desember 2017   19:58 2223 2 0
Catatan dari Aceh World Solidarity Cup, Mulai dari Lapangan Becek Sampai Nasionalisme Suporter
Laga Indonesia Vs Kirgistan pada Aceh World Solidarity Cup 2017.(BolaSport.com/Segaf Abdullah)

Pelaksanaan turnamen sepak bola berskala internasional di Aceh yang diberi tajuk "Aceh World Solidarity Cup" telah berakhir pada Rabu (6/12/2017). Pada laga penutup berhadapan antara Timnas Indonesia dengan Tim dari Negara Republik Kirgizstan, sementara pertandingan antara Tim Brunei Darussalam dengan Mongolia dibatalkan. Karena apapun hasilnya kedua tim tersebut sudah tidak mungkin lagi memperoleh poin untuk peringkat 1 dan 2. Sayangnya, Timnas U-23 tidak mampu meraih ambisinya setelah kalah 0-1 dari Tim Republik Kirgizstan.

Karena turnamen ini merupakan turnamen berskala internasional yang dilaksanakan pertama kalinya setelah Aceh diguncang musibah Tsunami, maka banyak hal-hal yang perlu menjadi catatan selama turnamen berlangsung.

Dokumen Pribadi
Dokumen Pribadi

  • Kondisi Lapangan
    Barangkali hampir semua warga Indonesia menyaksikan kondisi Stadion Harapan Bangsa Aceh pada saat berlangsungnya turnamen karena disiarkan langsung oleh salah satu stasiun televisi swasta. Kondisi lapangan sangat becek dan berlumpur.

    Terlepas dari cuaca yang tidak mendukung karena selama turnamen berlangsung Aceh diguyur hujan terus menerus dan sangat deras. Sampai-sampai beberapa daerah di Aceh dilanda banjir seperti di Lhoksukon, dll. Tetapi, ini menjadi catatan bagi panitia di Aceh selanjutnya atau di daerah lain bahwa bila ingin mengadakan turnamen berskala internasional (mengundang negara luar) yang notabenenya membawa nama negara. Maka apapun alasanannya, perlu ada pertimbangan yang mantang tentang kondisi lapangan.

    Sebab, semua kita sering menonton pertandingan bola yang dilakukan di Eropa atau benua maju lainnya. Meskipun hujan sederas apapun, lapangan tetap tidak becek dan berlumpur. Memang, pasti ada yang berpikir, tidak boleh dibandingkan dengan negara Eropa dan yang lainnya. Karena memang di sana bola sudah menjadi industri. Namun, yang ingin saya sampaikan adalah bahwa lapangan itu bisa direkayasa sehingga tidak terlalu berlumpur.

    Memang akan membutuhkan dana banyak. Tetapi itu penting dilakukan karena menyangkut nama baik negara di mata Internasional. Apalagi, bila kita melihat tidak seluruhnya bagian lapangan atau ada sisi-sisi yang tidak berlumpur dan becek, ini membuktikan bahwa lapangan tersebut bisa dikondisikan untuk tidak berlumpur dan becek. Bukan berarti karena bagian tersebut tidak sering terjadi "perebutan bola" tetapi saya melihat memang gestur tanah di bagian yang tidak berlumpur dan becek itu memang bagus.

    Bila memang itu tidak bisa diantisipasi, paling kurang panitia jauh-jauh hari berkoordinasi dengan BMKG tentang cuaca. Apa salahnya, bila cuaca buruk, jauh-jauh hari jadwalnya digeser sesuai dengan kondisi cuaca. Namun, kita maklumi, karena turnamen Aceh World Solidatity Cup menggunakan APBA maka harus dilakukan sebelum pertangan bulan Desember. Sebab, paling kurang tanggal 17 Desember harus menyerahkan laporan penggunaan dana.

  • Parkiran
    Masalah parkir di setiap tempat menjadi permasalahan tersendiri. Menurut saya, areal parkir stadion harapan bangsa lumayan luas. Namun selama ini, saat habis pertandingan, semuanya harus tertahan karena macet. Hal ini disebabkan karena pintu keluar tidak mencukupi volume penonton yang keluar.

    Pada saat pertandingan final antara Timnas U-23 dengan Tim Republik Kirgizstan, mobil dan motor tidak diperbolehkan masuk ke lokasi stadion kecuali mereka yang memiliki badge panitia. Jadi, areal parkir dibuat di jalan di depan stadion. Memang, terasa waktu meninggalkan stadion tidak berdesak-desakan di pintu. Sebab, semuanya jalan kaki menuju tempat kenderaan yang diparkir.

    Menurut saya, apa yang dilakukan itu adalah sebuah alternatif. Tetapi hal itu akan menganggu pengguna jalan.

    Solusinya, barangkali harus dibuat beberapa jalur jalan keluar. Sebab, bila kita lihat letak stadion memiliki beberapa akses keluar. Pengelola hanya mengusulkan beberapa pintu lagi yang memang memungkin untuk dibuat dan memiliki akses langsung ke jalan. Sehingga tidak berdesak-desakan seperti dulu lagi.

  • Antusisme masyarakat
    Bila dibandingkan dengan turnamen-turnamen sebelumnya yang digelar di Stadion Harapan Bangsa Lhoong Raya Aceh agaknya antusiasme masyarakat agak menurun. Terbukti stadion tidak penuh. Pernah pada pertandingan piala Gubernur Aceh, yang diikuti beberapa tim terbaik Liga Indonesia, Brunei, dan Malaysia, stadion penuh dan sesak. Bisa jadi karena pada saat itu turun tim kesayangan masyarakat Aceh (Tim Aceh Colection).

    Mungkin ketidak-antusiasme masyarakat karena faktor cuaca yang tidak mendukung alias hujan teruis menerus. Begitu pula, mungkin sosialisasi yang tidak gencar oleh panitia. Meskipun ada penonton yang saya tanya berasal dari beberapa daerah (kabupaten) yang sangat jauh dari Banda Aceh. Tetapi tidak banyak seperti sebelum-sebelumnya. Padahal, skala turnamen adalah skala Internasional. Bisa jadi, meskipun berskala Internasional namun kesebelasan yang diundang tidak sesuai dengan harapan masyarakat.

    Boleh jadi, kurangnya antusiasme penonton menuju ke stadion karena ada siaran langsung dari salah satu TV Nasional. Masyarakat berpikir, lebih baik nonton live melalui TV saja dibandingkan menonton ke stadion. Apalagi cuaca yang tidak mendukung dan lapangan yang becek. Nonton via TV lebih aman dengan teman-teman di warung-warung kopi. Apalagi, dua pertandingan itu berlangsung sampai jam 12 malam.

  • Nasionalisme suporter Aceh dengan lagu "Bungong Seulanga"
    Meskipun antusiasme menonton langsung agak berkurang karena faktor-faktor yang kita sebutkan tadi. Namun, berdasarkan bagi bela-belain datang ke stadion adalah mereka yang benar-benar karena kecintaan mereka kepada Timnas.

    Sebab, banyak nonton yang mengatakan mereka tidak menonton pada partai pertama karena bukan timnas yang main. Sehingga, meskipun hujan deras dan pertandingan mulai berlangsung jam 21.30 mereka yang cinta Timnas tetap hadir langsung ke stadion. Tidak lupa juga para suporter sengaja membeli kaos timnas sebagai gambaran rasa nasionalisme dari rasa bangga kepada timnas. Begitu pula support yang mereka diberikan melalui yel-yel sepanjang pertandingan. Gemuruh penonton ketika gol-gol yang diciptakan.

    Pada pertandingan terakhir antara timnas melawan Tim Republik Kirgizstan, meskipun sudah bobol pada menit-menit awal 1-0 karena kondisi lapangan. Namun, suporter yang terdiri dari anak-anak muda tetap terus memberi dukungan kepada timnas.

    Bahkan yang paling mengharukan adalah di sela-sela yel-yel dengan lagu perjuangan nasional juga mereka secara spontan menyanyikan lagu kesayangan masyarakat Aceh yaitu lagu: "Bungong Jeumpa". Lagu ini mengambarkan atau sinyal nyata bahwa masyarakat Aceh juga cinta kepada Timnas. Hal ini karena Aceh adalah bagian dari NKRI yang siap mendukung keutuhan NKRI.

Pada saat pertandingan berlangsung, juga supporter begitu kecewa karena tim Republik Kirgizstan yang memang sudah di atas angin tidak sportif. Setiap, saat ada saja trik-trik mengulur waktu. Memang itu hak mereka karena mereka mereka sudah di atas sebagai juara. Tetapi suporter fanatik timnas tidak rela tim kesayangannya diperlakukan seperti itu.

Rasa nasionalisme itu begitu terasa ketika akhir pertandingan. Meskipun Timnas U-23 tidak menjuarai pertandingan namun saat timnas mengelilingi lapangan dan menyapa penonton. Semua penonton bangkit berdiri dan berdesak-desakan ke depan hanya untuk melambaikan tangan saja.

Padahal sebelumnya, tim dari Republik Kirgizstan juga mengelilingi lapangan dan memberi hormat kepada penonton, namun reaksi penonton meskipun mereka menang dan juara tetapi penonton tidak bangkit dari tempat duduk. Bisa jadi karena saat bertanding mereka tidak fair dan sering membuang-buang waktu yang merugikan timnas.

Dalam sebuah pertandingan harus ada kalah dan menang. Meskipun kali ini Timnas kalah dan tidak menjadi juara. Semuanya tetap merasa bangga dengan perjuangan yang timnas perlihatkan. Masyarakat Aceh pun masih tetap menantikan kiprah Timnas pada pertandingan lain termasuk saat Asean Games tahun 2018 yang berlangsung di Indonesia. Rakyat Aceh juga masih menunggu Timnas dalam pertandingan lain di Aceh termasuk bila kompetisi Aceh World Solidarity Cup ini berlangsung kembali.

Akhirnya kita berharap agar pelaksanaan turnamen-turnamen lain apalagi berskala Internasional harus benar-benar dipersiapkan secara matang. Apalagi, di sana ada tim kesayangan masyarakat Indonesia yaitu Timnas. Pasti, d mana saja timnas berlaga pasti dukungan seluruh masyarakat begitu besar.

Oleh karena itu juga, PSSI harus memperhatikan antusiasme itu. PSSI bukan hanya mendukung saja tetapi berusaha memanfaatkan stadion yang ada di seluruh daerah untuk dimanfaatkan secara maksimal. Saya kira, dengan pengalaman Aceh mengadakan berbagai turnamen di Stadion Harapan Bangsa, PSSI juga memanfaatkan stadion ini untuk even-even nasional maupun internasional. Semoga @dj.