Den Ciput
Den Ciput Karyawan swasta

Just Ordinary man, with the Xtra ordinary reason to life. And i'm noone without God..

Selanjutnya

Tutup

Humor

Ajis Banci!

12 Mei 2019   18:22 Diperbarui: 12 Mei 2019   18:53 69 2 2
Ajis Banci!
Foto: Ilustrasi (Property :Achyar89.wordpress.com)

Seperti layaknya pemuda kampung, Ajis hidup biasa. Biasa kayak apa? Ya kayak pemuda kampung lain. Kesehariannya kerja, pulang, mandi, lalu nongkrong di warung kopi. Apa kerjanya? Buruh. Buruh di sebuah peternakan ayam dikampungnya. Gak ada yang aneh.
Secara fisik, Ajis nih terlalu 'halus' untuk ukuran pemuda kampung.  Kulitnya yang kuning langsat tampak 'glowing' dan terawat.
Mungkin kalau jalan ke kota nggak ada yang menyangka kalau Ajis hanya tukang bersih-bersih tai ayam milik juragan Karto.

Kalau yang jeli sih pasti bisa membedakan lah. Bagaimanapun nggak mungkin Ajis memakai pakaian Branded macam Mango, DKNY, atau semurah-murahnya H&M lah.

Belum lagi aroma tubuh Ajis yang tanpa semprotan Escada atau Hugo Boss, atau semurah-murahnya Polo.

Walau tidak beraroma tai ayam, tapi ketemu Deodoran macam Rexona pun udah syukur.
Ini yang membedakan Ajis dengan kaum menengah di kota. Ajis bukan golongan menengah keatas. Bukan pula golongan menengah kebawah. Tapi golongan bawah ke bawahnya lagi, sampai nyungsep.

Toh itu tak mengurangi pesona Ajis, setidaknya di mata kembang desa macam Maimunah. Maimunah ya anak Juragan karto itu.
Bak di sinetron, Ajis yang hanya buruh mampu meluluhkan hati anak majikan.

Hal ini membuat Mul, pemuda desa lainnya, ngerasa kesal. Pasalnya Mul naksir habis. Bukan naksir Ajis, tapi naksir Maimunah. Mul sering kali cemburu melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika Maimunah mengirim makanan ke lokasi kandang ayam tempat Ajis bekerja.
Makanan jatah Ajis.

Otak licik dan hati sirik membuat Mul selalu membully Ajis.
" Ajis tuh banci! Lihat kalau ngomong kemayu gitu!" Ucap Mul pedas.

Ajis hanya diam. Entah apa yang ada dalam otaknya.

Tapi saat kayak gini lebih baik diam.  Ajis tahu kalau Mul naksir maimunah. Ajis tahu kalau Mul menyimpan cemburu.

Tapi Ajis tak pernah merasa bersalah.
Lha wong dia tidak naksir Maimunah!
Tapi namanya cemburu, udah pasti buta. Kayak babi.

Serangan demi serangan dilontarkan Mul. Ajis masih diam.

Sampai satu saat Ajis kesal.

Waktu itu sepulang dari kandang Ayam, Mul menghadang Ajis dijalanan tepi sawah.

" Hey banci, sini kamu!"
" Ya, ada apa?" Ucap Ajis kalem.
" Saya peringatkan ya, jangan pernah kamu mendekati Maimunah, kalau masih ingin hidup!" Gertak Mul.

Tiba-tiba Ajis menyerang Mul dengan Sabit yang dibawanya tepat mengenai perut Mul. Usus Mul terburai. Ajis belum puas. Disabet kan sekali sabit tajam itu.

Kali ini mengenai leher Mul.
Mul tersungkur bersimbah darah. Masih belum puas, Ajis mencabik-cabik seluruh tubuh Mul dengan sabit hingga tak berbentuk.

Setelah puas, Ajis menyerahkan diri ke Polisi.

" Saya di tuduh naksir Maimunah, pak," Ujar Ajis menyawab pertanyaan Polisi.
" Masak hanya dituduh naksir saja kamu kalap dan membunuh si Mul?" Cecar polisi lagi.
" Dia juga membully saya pak, katanya saya banci!"
" Masak hanya dikatain gitu saja kamu tega menghilangkan nyawa orang lain?" Desak Polisi.
" Tapi hati saya terbakar cemburu, pak!"
" Kenapa cemburu?"
" Karena Mul naksir Maimunah,Pak!"
" Ohh..jadi kamu naksir Maimunah juga? Hingga cemburu melihat Mul naksir anak juraganmu?"
" Nggak pak!"
" Lha terus?" Polisi penasaran.
" Saya naksir Mul, pak! "

-Tamat-