Den Ciput
Den Ciput Karyawan swasta

Just Ordinary man, with the Xtra ordinary reason to life. And i'm noone without God..

Selanjutnya

Tutup

Musik Pilihan

Legenda Hidup Itu Bernama Virgiawan Listianto

12 Februari 2019   16:42 Diperbarui: 12 Februari 2019   17:00 83 2 2
Legenda Hidup Itu Bernama Virgiawan Listianto
Foto: Iwan Fals (Properti: Joox)

Menjadi politisi bukan hal gampang. Tidak sekedar pintar, maksudnya kepintaran intelektual. Justru kepintaran emosional lebih penting.

Kenapa?
Karena segala apa yang dilakukan harus melalui pertimbangan yang matang, harus dengan tenang dan kepala dingin. Sehingga ketika berucap dihadapan publik bisa terkontrol. Tidak grusa-grusu. Tidak asal nJeplak, gitu kalau orang Jawa ngomong.

Mungkin kepintaran mengontrol emosi ini yang tidak atau belum dimiliki seorang Ahmad Dhani. Dalam beberapa statementnya terlihat sangat emosional. Bukan hanya sekarang, sebelum terjun di dunia politik terlihat Ahmad Dhani juga sangat emosional.

Satu saat, saya menyaksikan Ahmad Dhani di acara Infotainment. Entah dalam kasus apa waktu itu, tapi Dhani berucap, " Siapa yang ngomong, biar tak tunjek sini," Ucapnya dengan logat jawa Suroboyoan.
'Tak tunjek' adalah mengacu frasa 'saya tonjok '.

Pada satu kesempatan lain, Ahmad Dhani pernah menuliskan cuitan yang menghujat Pilot Garuda gegara ketinggalan penerbangan ke Malang pas mau konser.

Okelah, kalau Dhani stay tune di musik, sebagai seniman, kalimat itu mungkin, bisa jadi, menambah ke-eksentrikan seorang seniman. Bisa dimaafkan...

Tapi ketika beliau terjun didunia politik, tentu saja nggak bisa semudah itu berucap ya. Karena kedepannya bisa jadi tugas Dhani adalah melayani masyarakat. Mengayomi rakyat, dan mendengar segala keluh kesah masyarakat.
Bagaimana kalau dia emosional?

Bagaimana nanti rakyat kalau dipimpin orang yang tidak pintar mengendalikan emosi?

Mungkin hal-hal seperti itu yang mendasari seorang Virgiawan Listianto untuk tidak terjun di dunia politik. Padahal, kalau ngomong jumlah pendukung, Iwan Fals, nama tenar Virgiawan, tentu jauh diatas Ahmad Dhani. Soal Legend, Iwan Fals jauh lebih legend.

Bahkan Iwan Fals pernah membintangi sejumlah Film. Tapi satu yang paling berkesan dihati saya, yaitu yang berjudul ' Damai kami sepanjang hari'.

Kenapa Iwan Fals bisa se-legend itu?

Karena kemampuan Iwan mendengar aspirasi rakyat untuk digubah jadi sebuah lagu yang nantinya dijadikan kritik kepada para penguasa.
Hal ini pulalah yang pernah mengantar Iwan ke gerbang hotel prodeo gratisan dengan menu sarapan yang bernama nasi cadong atau nasi penjara dengan lauk ikan asin. Walau hanya dua minggu.

Tak terhitung berapa banyak lagu-lagu Iwan Fals dicekal oleh pemerintah ORDE BARU. Alasannya, lagu-lagu Iwan berbau provokasi yang bisa memicu kerusuhan dan mengancam stabilitas pemerintahan yang ada.
Salah satu contoh yang paling telak adalah lagu ' Wakil Rakyat'.

Menjadi anak perwira Polisi tidak lantas membuat Iwan jadi 'anak negara' asuhan ORDE BARU yang 'Sendiko Dawuh' pada pemerintahan.

Bahkan pada satu lagu 'Kereta tiba pukul berapa?' Iwan Fals mengkritisi perilaku buruk oknum kepolisian pada lirik, " ..di depan ada polantas, wajahnya begitu buas tangkap aku. Tawar menawar harga pas tancap gas,"

Selain itu, Iwan juga banyak mengkritisi pemerintahan dan mengangkat isu tentang nasib wong cilik. Khas seniman jalanan. Tak lupa Iwan juga mengkritisi keadaan sosial masyarakat kelas tertentu. Contohnya pada lagu Tante Lisa.
Lagu-lagu Iwan sarat dengan kemanusiaan, kritik sosial, serta persahabatan.

Apakah Iwan tak bisa mencipta lagu Romantis?

Gampang buat Iwan. Seabrek lagu romantis yang nge-hits di eranya bahkan masih enak di dengar sampai sekarang. Ada beberapa lagu yang saya suka, dua diantaranya adalah ' Nyanyianmu' dan 22 Januari. Khusus lagu 22 Januari, menjadi lagu saya sepanjang masa. Karena itu tanggal lahir pasangan saya.

Selain bersolo karir, Iwan pernah terlibat beberapa Grup, diantarnya SWAMI pada tahun 1989 yang melejitkan dua hits, yaitu Bento dan Bongkar.

Sukses dengan SWAMI, lanjut ke SWAMI II.
Setelah itu bersama Setiawan Djodi, Iwan turut memprakarsai Proyek Kantata Takwa, sebuah kolaborasi besar beberapa musisi tenar.

Itulah sederet sepak terjang Iwan Fals dengan segala kontroversinya.
Masih menurut penilaian pribadi saya, sosok Iwan Fals sangat pintar membina hubungan rumah tangganya. Terbukti pernikahannya dengan Rosana pada tahun 1980 dan dikaruniai tiga anak, ( Galang Rambu Anarki meninggal pada tahun 1997) langgeng sampai sekarang.

Kehidupan pribadi harmonis ini yang membuat saya salut dan ngefans mas Iwan sampai detik ini.
Hampir tidak pernah pula ada berita negatif menyangkut kehidupan pribadi Iwan Fals maupun kiprahnya di dunia musik.

Pada tahun 1999 Iwan mendirikan Yayasan Orang Indonesia yang selanjutnya disebut OI.
Kesederhanaan, mental yang bagus, serta kreatifitas bermusik yang ciamik membuat setiap konser Iwan Flas selalu dibanjiri Fans berat dari berbagai usia.

Bahkan anak muda sekarang banyak banget yang ngefans lho!
Lha masa Jaya Iwan Fals kan jaman saya masih SD!
Ini kharisma Iwan Fals yang tidak dimiliki orang lain.
Apakah dengan fans seabrek membuat Iwan Fals ingin terjun ke dunia politik seperti beberapa musisi atau pesohor lainnya?

Karena kalau misalnya, Iwan mencalonkan diri sebagai calon legislatif, toh sudah punya modal dasar, jumlah fans yang banyak.

Saya yakin, peluang menang Iwan Fals untuk menang 99,9% , yang satu persen itu barangkali kesialan aja.
Tapi kenapa Iwan bergeming? Kenapa Iwan terus berada dijalurnya dibidang musik?
Jawabnya, " Jadi politisi tak semudah itu, Son!"
Tidak sekedar dapat duit. Jadi politisi bebannya begitu besar. Bukan soal elektabilitas semata. Ini urusan nama baik dan moral.