Energi

Pemanasan Global dan Dampaknya

8 Februari 2018   20:09 Diperbarui: 8 Februari 2018   20:22 694 0 0
Pemanasan Global dan Dampaknya
Suhu permukaan tahunan sejak 1900 dibandingkan dengan rata-rata 1981-2010. Pada tahun 2016, suhu permukaan global adalah 0,45 -0,56 °C (0,8 -1,0 °F) di atas rata-rata tahun 1981-2010 - rekor baru, menurut beberapa dataset independen. Grafis NOAA Climate.gov

Semakin maraknya eksplorasi, eksploitasi, dan pengembangan teknologi di era globalisasi ini, mempengaruhi keadaan atmosfer di seluruh wilayah bumi. Emisi gas yang setiap hari semakin parah dari buangan asap kendaraan, pabrik, pertambangan dan lain-lain mengakibatkan suhu udara di lapisan atmosfer ini semakin tinggi karena adanya efek rumah kaca dari gas-gas tersebut. 

Penebangan hutan secara liar, deforestasi hutan, pembangunan infrastruktur yang begitu intens mengakibatkan daerah resapan air dan panas matahari semakin langka serta pola hidup masyarakat di era modern ini semakin memperburuk keadaan atmosfer di bumi kita tercinta.

                      Hal tersebut tidak bisa dibiarkan begitu saja. Sebab permasalahan pemanasan global akan terus berlanjut yang akibatnya akan berdampak langsung terhadap eksistensi manusia dan makhluk hidup lainnya di bumi ini.

                     Tidak ada kaitannya dengan matahari yang mempunyai siklus pendinginan sehingga bumi diramalkan akan mengalami kejadian pendinginan global atau Global Cooling yaitu penurunan suhu udara di muka bumi yang cukup signifikan yaitu sekitar beberapa derajat dikarenakan oleh "cahaya matahari minimum". Pemanasan global akan terus terjadi walaupun matahari mengalami siklus pendinginan hal ini karena perkembangan dan kemajuan manusia dalam menguasai bumi ini.

                      Hasil studi yang telah dilakukan oleh ilmuan dari National Oceanic and Atmospheric Administration(NOAA) menegaskan bahwa tidak ada perlambatan laju pemanasan global selama 15 tahun terakhir ini. Alhasil banyak kejadian bencana yang terjadi di bumi ini seperti kebakaran hutan di berbagai daerah dimuka bumi dan mencairnya es di kutub bumi yang mengakibatkan permukaan air laut meningkat seiring dengan waktu.

Rekam suhu tinggi di permukaan laut pada tahun 2015 dan lagi pada tahun 2016 mengindikasikan pemanasan terus lautan global sejak setidaknya 1950, dengan peningkatan yang lebih cepat antara tahun 2000-2016 daripada selama periode 1950-2016 menurut beberapa dataset independen. Grafis NOAA Climate.gov
Rekam suhu tinggi di permukaan laut pada tahun 2015 dan lagi pada tahun 2016 mengindikasikan pemanasan terus lautan global sejak setidaknya 1950, dengan peningkatan yang lebih cepat antara tahun 2000-2016 daripada selama periode 1950-2016 menurut beberapa dataset independen. Grafis NOAA Climate.gov

   

               Pemanasan global yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas rumah kaca menimbulkan efek pemantulan dan penyerapan terhadap gelombang panjang yang bersifat panas (inframerah) yang dikeluarkan dari permukaan bumi kemudian dipantulkan kembali. Riset yang telah dikaji oleh IPCC membuktikan bahwa akibat dari pada efek rumah kaca, pemanasan global memiliki laju peningkatan suhu permukaan bumi yang diproyekskan berkisar 1 - 6 °C.

               Perubahan temperatur ini menyebabkan kondisi fisis atmosfer yang kian hari semakin tidak stabil menimbulkan gejala-gejala yang tidak biasanya terhadap parameter-parameter cuaca sehingga akan terjadi perubahan iklim yang ekstrim. Dampak yang sangat terasa dari perubahan iklim  adalah kenaikan temperature dan pergeseran musim. Kenaikan temperature ini mengakibatkan kenaikan permukaan air laut.

                Kenaikan permukaan air laut adalah fenomena naiknya permukaan air laut disebabkan oleh berbagai faktor yang kompleks. Permukaan air lau telah naik setinggi 120 meter sejak zaman es 18.000 ribu tahun yang lalu. Hingga abad ke-19, satelit TOPEX/Poseidon mengindikasikan bahwa muka air laut naik hingga 1-3 mm setiap tahunnya. Ini mengindikasikan bahwa pemanasan global memberikan pengaruh yang signifikan pada kenaikan muka air laut dari waktu ke waktu.

Laju peningkatan tinggi muka laut mencapai rekor tertinggi di tahun 2016. Estimasi independen menunjukkan bahwa air meningkat karena air meleleh dari gletser dan lapisan es (garis biru) ditambah ekspansi panas (garis merah) dari air laut saat menghangat (garis merah). Grafis NOAA Climate.gov
Laju peningkatan tinggi muka laut mencapai rekor tertinggi di tahun 2016. Estimasi independen menunjukkan bahwa air meningkat karena air meleleh dari gletser dan lapisan es (garis biru) ditambah ekspansi panas (garis merah) dari air laut saat menghangat (garis merah). Grafis NOAA Climate.gov

Kenaikan permukaan air laut akan mengakibatkan kebanjiran di rawa-rawa dan dataran rendah, mempercepat erosi dan abrasi, mengancam bangunan-bangunan di daerah pesisir, kehilangan tempat tinggal dan masih banyak lagi.

Dampak yang paling serius dari naiknya tinggi muka air laut ialah hilangnya pulau-pulau kecil yang mana pulau-pulau tersebut memiliki eksistensi kehidupan makhluk hidup terutama manusia. Indonesia yang dikenal sebagai Negara kepulauan memiliki penduduk yang menetap dan bertempat tinggal di pulau-pulau tersebut dan tentunya hal tersebut sangat mengancam keberlangsungan hidup manusia. 

Riset memperkirakan, potensi kehilangan pulau pada tahun 2030 mencapai angka 2000 bila tidak ada program mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dan bila pemanasan global terus berlanjut dan meningkat pesat. Hal yang tidak bisa dianggap remeh karena mengaitkan keberlangsungan hidup manusia.

Dampak selanjutnya yang sangat membahayakan adalah kebakaran hutan. Fenomena el-nino yang mana membuat suhu udara permukaan semakin meningkat ditambah lagi dengan pemanasan global yang semakin parah, memperburuk keadaan dan temperatur permukaan bumi  akan semakin tinggi sehingga tingkat potensi kebakaran hutan semakin tinggi.

Ada sekitar 4 miliar hektar hutan di dunia, yang menutupi hampir 30 persen dari wilayah daratan bumi. Sekitar 56 persen dari hutan itu berlokasi di wilayah tropis dan subtropis. Indonesia memiliki hutan tropis ketiga terluas di dunia -- hanya Brazil dan Kongo yang mempunyai hutan tropis yang lebih besar.

Seiring dengan meningkatnya suhu rata-rata global, jumlah hari sangat panas yang terjadi setiap tahunnya semakin meningkat. Grafik ini melacak frekuensi perubahan hari dimana suhu berada di persentil ke 90 dari catatan sejarah sejak 1950. Grafik oleh NOAA Climate.gov
Seiring dengan meningkatnya suhu rata-rata global, jumlah hari sangat panas yang terjadi setiap tahunnya semakin meningkat. Grafik ini melacak frekuensi perubahan hari dimana suhu berada di persentil ke 90 dari catatan sejarah sejak 1950. Grafik oleh NOAA Climate.gov

Manusia sejak dulu telah memanfaatkan hutan dan berbagai jasa ekosistem yang ditawarkannya, seperti perlindungan tanah dan penyimpanan air. Sejumlah 1,2 miliar penduduk dunia diperkirakan menggantungkan penghidupan kepada hutan dan sekitar sepertiga total populasi dunia menggunakan bahan bakar biomasa, terutama kayu bakar untuk keperluan memasak dan menghangatkan rumah mereka

Tidak hanya bermanfaat untuk manusia, hutan pun menjadi rumah bagi berbagai spesies lainnya. Menurut catatan Bank Dunia, hutan Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang begitu tinggi, yaitu 17 persen dari spesies burung, 16 persen reptil dan hewan amfibi, 12 persen mamalia dan 10 persen tumbuhan di dunia.

Tidak dapat dibayangkan apabila miliyaran hektar hutan tersebut musnah karena akibat dari pemanasan global. Tidak ada penyerapan panas maupun gas CO2akan memperkeruh keadaan dan laju kenaikan suhu permukaan akan semakin tajam menjadikan planet bumi yang kita huni ini hancur dan tidak layak huni.