Mohon tunggu...
Humaniora Aesthetic
Humaniora Aesthetic Mohon Tunggu... Mengikat ilmu dengan menulis

pegiat literasi pemula, menuliskan segala hal tentang pernak-pernik kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Sehidup Sesurga

29 Desember 2019   17:19 Diperbarui: 29 Desember 2019   17:24 40 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sehidup Sesurga
pinterest.com

Hari Ahad, seperti biasanya ku kerjakan aktivitas selayaknya orang-orang yang berlibur pada hari itu. Pagi hari aku bergegas menghadiri undangan dari teman mengajar yang akan menapaki episode kehidupannya, yaitu menikah. Sengaja ku hadir agar pas dengan moment ijab dan qabul. Sebagaimana lazimnya alasan kebanyakan orang, aku ingin memanjatkan  doa  bertepatan momen akad itu.

Pernah ku melihat di Youtube, Ustadz Yusuf Mansur yang ngetren dengan Paytren, bilang bahwa malaikat itu hadir dalam moment mengikat janji suci nan sakral itu dan mengaminkan doa-doa yang hadir di dalamnya. Begitulah kiranya aku berdoa juga agar lekas dipertemukan dengan belahan tulang rusukku yang keberadaannya entah dimana. Maklum aku pun jomblo yang sedang mendamba pendamping sehidup sesurga.

Soal temanku itu, ia ku pikir orang yang sabar menanti ketentuan Allah akan takdirnya berupa 'jodoh' terlihat jelas semburat memerah di mukanya pertanda ia bahagia seolah ia memuji "Allah sungguh indah merancang episode kehidupan ini, segala penantian akan terjawab di waktu yang tepat". Indahnya sekali, aku yang jomblo inipun baper menyimaknya. Tak ada lagi kata yang bisa kugunakan untuk melukiskan rona bahagia teman ku itu  kecuali,  "barakallahulaka wa barakallahu 'alaika wa jama'a baina kuma fii khoir,semoga bahagia sehidup sesurga."

Pada penghujung akad  dan resepsi nikah tibalah saat mendengarkan khutbah nikah. Khutbah nikah sebagaimana pernah kudengar adalah berisi wejangan-wejangan untuk kedua pengantin bagaimana seharusnya mengarungi bahtera rumah tangga, tanggung jawab suami-istri, hak-kewajiban suami istri, ya nasehat yang sering kali ku dengar. Namun, tak pernah ku realisasikan karena tak ada partner, lha iya wong jomblo ambyar hahahahh.."

Sang Kyai berkata, "orang yang menyepelekan shalatnya ia juga akan meremehkan bahkan tidak peduli pada urusan lainnya yang menyangkut dirinya. Salah satu menyepelekan shalat adalah ia dapat segera menyegerakannya saat adzan sudah berkumandang, laki-laki bergegas ke masjid, yang perempuan juga lekas mengerjakan shalat meskipun di rumah. Bersegera shalat, tinggalkan jual-beli, nonton bola, atau senam jari dengan Hp android."

Lho ini apa kok khutbah nikah malah shalat yang dibahas, bukan maksud meremehkan, tapi shalat itu sudah mafhum bagi jamaah. Demi ta'dzim pada Kyai maka, kudengarkan saja khutbah sampai tuntas. Pak Kyai terus menyampaikan wejangan-wejangan tentang shalat. Hingga pada akhir perkataannya, "Laki-laki yang menyepelekan shalat maka, ia juga akan meremehkan urusan keluarganya. Perempuan yang menyepelekan shalat maka, ia juga akan berkurang ketaatan dan baktinya kepada suami. Kebahagiaan keluarga akan terpancar ketika semua anggota keluarga bersama-sama menjalankan ketaatan kepada Allah, salah satunya shalat berjamaah. Wassalamualaiakum warahmatullahi wabarakatuh."

Baru tersadar aku dengan statementnya Pak Kyai yang terakhir itu. Oh iya, jika mendambakan sehidup sesurga dengan pasangan, maka hal paling terpenting adalah bersama-sama menjaga ketaatan kepada Allah, salah satunya adalah menghidupkan shalat berjamaah dalam mahligai rumah tangga. Aduh...sungguh picik diri ini, nasihat yang sebenarnya penting ini pun ku anggap remeh. Maafkan aku Kyai...maafkan aku ya Allah.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x