Mohon tunggu...
Hulwatun Niswah
Hulwatun Niswah Mohon Tunggu... Penulis - Mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Jangan pernah lelah untuk belajar

Selanjutnya

Tutup

Ruang Kelas

Seperti Apa Peran Orangtua yang Bisa Mengemembangkan Regulasi Emosi pada Anak?

4 Desember 2022   21:20 Diperbarui: 4 Desember 2022   21:49 53
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ruang Kelas. Sumber Ilustrasi: PAXELS

Sebuah peristiwa penting yang mempengaruhi daya ingatnya dan penyebabnya karena perubahan perilaku merupakan sebuah emosi, emosi bisa membantu di kehidupa setiap individu, namun apabila terjadi sesuatu yang tidak tepat maka dapat melukai individu lainnya. Ada sebuah contoh tentang tidaktepatnya respon dari emosional seperti ketika ada seorang anak yang mbolos sekolah yang disebabkan karena tdia tidak suka dengan mata pelajaran yang seharusnya mata pelajaran tersebut diikuti di kelas, adapun contoh lain misalnya ada seorang anak yang membu uh dirinya karena tidak lulus ujian sekolahnya, nah dari contoh kasus tersebut tidak akan pernah terjadi apabila seorang anak bisa mengelola atau meregulasi emoi dia secara tepat.

Regulasi yang tepat akan mendorong kemampuan seorang anak untuk mengembangkan kemampuannya atau kompetisinya yang mereka miliki baik dalam bidang akademik maupun relasi sosial, Maka dalam hal ini kita perlu tahu dulu apa sih konsep dasar dari regulasi emosi menurut Einsenberg dan spinard 2004 bahwa regulai emosi merupakan suatu proses untuk mengenali, menghindari, menghambat dan mempertahankan atau mengelola kemunculan, bentuk, insentitas maupun masa berlangsungnya perasaan internal, emosi psikologis, proses perhatian, status motivasional dan perilaku yang berhunungan dengan emosi dalam rangka memenuhi efek biologis atsupun adaptasisosial dalam meraih tujuan individual.

Kemampuan mengatur emosi tidak hanya ditentukan oleh kondisi internal individu, tetapi juga oleh lingkungan sosial sekitarnya. Lingkungan pertama dan yang terpenting seseorang adalah keluarga. Keluarga termasuk ibu dan ayah dan saudara kandung, adapun menurut Bossen, Pontier & Treur (2007), situasi saat ini terkadang mengharuskan seseorang untuk tidak secara bebas mengungkapkan perasaannya, tetapi secara tidak sadar menekannya atau mengungkapkannya dengan cara yang bertentangan dengan keadaan emosional yang sedang dialaminya. Menurut kalat dan Shiota (2007) regulasi emosi juga dapat di maknai regulasi emosi juga dapat di maknai sebagai strategi yang tlah dilakukan oleh seseorang  ketika sedang menghadapi sitiuasi yang penuh dengan tekanan.

Ada beberapa strategi pengaturan emosi. Menurut Gross & Thompson (2006), strategi regulasi emosi adalah proses berpikir yang dilakukan seseorang ketika menghadapi situasi emosional. Strategi pengaturan emosi dapat dilakukan dengan menilai keadaan emosi secara lebih positif atau dengan menekan keadaan emosi dan mengungkapkannya secara berbeda dari yang dirasakan. Langkah-langkah dalam proses berpikir meliputi:  memilih situasi dengan risiko emosi yang rendah, perubahan keadaan, pilih situasi yang lebih menarik, mengevaluasi atau menimbang aspek positif dari situasi emosional dsn mampu mengekspresi emosional situasional.strategi regulasi ini bila tepat maka berdampak positif begitu sebaliknya apabila tidak tepat maka akan berdampak negatif.

Regulasi emosi juga dipengaruhi oleh beberapa. Menurut Goodman & Gotlib (1999), kemampuan mengatur emosi merupakan keterampilan yang diturunkan dari orang tua kepada anaknya. mekanisme penularan melalui pewarisan, fungsi sistem saraf;  frekuensi paparan, dan  konteks situasi. Sementara itu, Morris et al (2007) menemukan bahwa peran orang tua dalam mengatur emosi anaknya dalam konteks keluarga dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu sebagai panutan, sebagai pendidik regulasi emosi; dan sebagai pencipta iklim emosional keluarga. Berdasarkan dari landasan teoritis menurut Bandura dalam Santrock (2009) bahwa  kemampuan regulasi emosi bukan kemampuan yang datang secara tiba tiba melainkan dari sebuah proses yang melibatkan interaksi antara individu dan lingkungannya.

Dengan demikian, faktor internal dan eksternal mempengaruhi kemampuan untuk mengatur. Elemen internal meliputi temperamen; sedangkan unsur luarnya adalah lingkungan. Lingkungan pergaulan yang paling dekat bagi remaja adalah keluarga. Menurut Morris et al. (2007), peran keluarga dalam kemampuan mengatur emosi anak dapat ditelusuri melalui tiga jalur yaitu sebagai model, sebagai pendidik, dan sebagai pencipta iklim emosi keluarga. Maka dengan demikian penting bagi orang tua dalam dalam mengembangkan kemampuan mengatur emosi anak yang dapat diwujudkan dalam tiga bentuk, yaitu sebagai panutan, sebagai pendidik, dan sebagai pencipta suasana emosional keluarga.

Keluarga merupakan wahana pertama dan terpenting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Tokoh utama keluarga adalah orang tua dan anak. Peran orang tua dalam tumbuh kembang anak dapat ditelusuri melalui peran pasif dan aktif. Peran pasif sebagai model; sekaligus berperan aktif sebagai pendidik dan pencipta suasana emosional dalam keluarga. Sementara kemampuan untuk mengatur emosi secara tepat berkontribusi pada kesejahteraan subjektif, kemampuan untuk mengatur emosi negatif memengaruhi perilaku negatif atau kecenderungan terhadap kecemasan atau depresi. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk menyadari perannya dalam mengembangkan kemampuan anak dalam mengatur emosi.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Ruang Kelas Selengkapnya
Lihat Ruang Kelas Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun