Politik highlight

Fadli Zon Tulis Puisi (Lagi), Berapa Banyak yang Ngantuk?

13 Oktober 2017   20:07 Diperbarui: 14 Oktober 2017   04:44 2998 9 8
Fadli Zon Tulis Puisi (Lagi), Berapa Banyak yang Ngantuk?
Detikcom

Wakil Ketua DPR RI dan juga Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon tulis puisi…lagi. Boleh tepuk tangan? Silakan.

Dikatakan lagi karena bukan pertama kali ini Fadli Zon tulis puisi. Puisi yang ditulis oleh Fadli Zon kali ini pun tidak jelas, atau ditujukan kepada siapa tidak disebut secara jelas, tapi diperkirakan arahnya menuju sosok orang nomor satu di negeri ini, siapa lagi kalau bukan Presiden Jokowi.

Adakah larangan bagi Fadli Zon tulis puisi? Tentu saja tidak ada. Jangankan seorang Wakil Ketua DPR RI atau wakil ketua umum sebuah partai politik, gembel pun boleh menulis puisi. Tapi puisinya bagus atau tidak, itu soal lain.

Perihal sebuah puisi itu bagus atau tidak, ada sebagian pihak yang mengatakan sulit menilainya, karena puisi itu bukan saja curahan pikiran, tapi juga curahan hati, bahkan jiwa. Makanya entah dia seorang gembel, wakil rakyat, menteri, orang kaya, orang miskin, atau siapa saja yang menulis puisi sebaiknya jangan terlalu cepat dinilai puisinya tidak bagus atau jelek (hueeek…).

Fadli Zon tulis puisi lagi, kali ini judulnya ‘Tiga Tahun Kau Bertahta’.

tiga tahun kau bertahta
semakin banyak tanda tanya
mau dibawa kemana Indonesia
hidup rakyat makin susah

Selengkapnya bisa dibaca di sini.

Mudah-mudahan selesai semuanya dibaca, kata demi kata, atau tidak mendadak ngantuk di tengah jalan. Seandainya pun ada yang menguap atau ngantuk boleh saja. Tidak ada yang melarang, seperti halnya siapa saja boleh menulis puisi (tapi sekali lagi puisinya bagus atau tidak, itu soal lain).

Fadli Zon tulis puisi yang cenderung merupakan kritik sosial atau berbau politik? Bukan sesuatu yang aneh dan baru. Sejak dulu pun sudah ada, bahkan sebelum Fadli Zon lahir ke dunia yang fana ini. Tidak usah jauh-jauh mengambil contoh dari luar negeri, Wiji Thukul pun pernah menulis puisi seperti itu.

Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!

Dalam keyakinan kami
Di manapun – tirani harus tumbang!

Orde Baru yang menjadi sasaran kritiknya, namun sekitar sebulan sebelum Orde Baru tumbang, Thukul lenyap tak berbekas. Sahabat dan kerabatnya tak tahu di mana ia berada sejak Mei 1998. Konon Wiji Thukul dibunuh.

Tahukah Fadli Zon mengapa Wiji Thukul lenyap tak berbekas seperti hilang ditelan bumi? Benarkah ia dibunuh, dan siapa pembunuhnya? Pertanyaan ini mungkin tidak terlalu penting bagi seorang Fadli Zon. Entah karena ia malas menjawab, tidak tahu jawabannya, atau hal lainnya.

Mungkin saja ada pertanyaan tidak penting lainnya yang dilontarkan oleh sebagian pihak, entah iseng atau sekadar lucu-lucuan.

Misalnya pertanyaannya seperti ini:

Fadli Zon tulis puisi lagi, berapa banyak yang ngantuk?

Jangan-jangan tak seorang pun yang menguap dan ngantuk begitu saja.

Jika memang benar seperti itu, selamat, anda layak dapat bintang (yeaaah…).

* artikel ini sebelumnya pernah ditayangkan di adahati.com.