Politik Pilihan

Sandi dan Segala Usahanya

9 Oktober 2018   14:04 Diperbarui: 9 Oktober 2018   14:23 694 0 0

Oleh: Hugo

Masih teringat di benak kita program-program yang Anies -- Sandi janjikan selama masa kampanye, mulai dari program perumahan dengan DP 0 rupiah sampai program oke oce sebagai solusi perkonomian Jakarta. Memang butuh waktu untuk mewujudkan janji -- janji tersebut, tetapi bukannya fokus tehadap janji tersebut, Sandi meninggalkan bangku Wakil Gubernur DKI Jakarta. Apakah ia bisa disebut amanah?

Jika Jokowi dahulu maju dari kursi DKI 1 ke kursi RI 1 adalah permintaan rakyat, sepertinya majunya Sandi kali ini bukan karena permintaan rakyat, terlihat ada jiwa "Pengusaha" dalam langkah yang Sandi buat kali ini, dan itu bukanlah jiwa "Pemimpin".

Belum genap satu tahun, Sandi sudah melenggang meninggalkan kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta untuk maju menjadi Calon Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2019 -- 2024 bersama Calon Presiden Prabowo Subianto, Sandi meninggalkan Anies seorang diri memimpin Jakarta, belum ada Pelaksana Tugas (PLT) yang ditunjuk menggantikan Sandi.

Malam sebelum Prabowo memilih wakil yang akan di ajukan ke KPU, didapati kabar Sandi memberikan dana sebesar Rp 500 miliar ke PAN dan PKS untuk posisi Calon Wakil Presiden, PAN dan PKS termasuk kedalam partai yang berkoalisi dengan Gerindra.

Hal ini lantas membuat Prabowo mengurungkan niatnya untuk memilih wakilnya dari kelompok Ulama. Rp 500 miliar bukan jumlah yang sedikit, siapa yang tidak tergiur dengan uang sebanyak itu, mengingat untuk kampanye juga membutuhkan dana yang besar.

Digambarkan seperti kucing melihat ikan yang lebih besar, tentunya seorang pengusaha akan menaikkan jumlah investasinya apabila melihat pasar sedang baik, yang tentunya akan lebih cepat balik modal dan memberikan keuntungan. Hal ini berbanding terbalik dengan kinerja dan pencapaian. 

Lihat saja program OKE OCE yang ditawarkan oleh Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta ini, program ini tidak terdengar suaranya keberhasilannya, justru suara kegagalan yang terdengar nyaring, mulai dari bukti di lapangan dengan tutupnya beberapa gerai OKE OCE Mart, kemudian tidak efisiennya OKE OCE Trip sehingga tahap uji cobanya mengalami pengulangan.

Program yang awalnya bertujuan untuk mengurangi jumlah pengangguran dan memperbaiki perekonomian DKI, tetapi sepertinya malah sebaliknya. Ini menunjukkan tidak ada fokus dalam menjalankan progra, seolah-olah program dibuat hanya sebagai syarat pewujud janji -- janji pada masa kampanye.

Perlahan tapi pasti publik mulai disadarkan siapa Sandi sesungguhnya. Banyak kasus-kasus yang terungkap ke publik, memberi pemahaman ke publik akan sosok siapa Sandi sebenarnya. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga pernah memanggil Sandiaga dalam kasus Korupsi pembangunan Rumah Sakit Universitas Udayana. Sandi dipanggil karena salah satu perusahaan di bawahnya terlibat kasus korupsi dalam proyek pembanganan Rumah Sakit tersebut.

Pada 2016 silam nama Sandiaga Uno juga pernah masuk dalam daftar Panama Papers atau sebuah data milik firma hukum Mossack Fonseca yang berisi data penggelapan banyak pengusaha hingga pengusaha dunia. 

Nama Sandi saat itu tercantum sebagai klien Fonseca yang berasal dari dunia. Kemudian di 2017 nama Sandiaga Uno kembali masuk dalam Paradise Paper, yaitu sebuah dokumen yang dirilis oleh International Consortium of Investigative Journalist (IJIC). 

Dalam dokumen tersebut Sandi disebut sebagai salah satu petinggi NTI Resources yang terdaftar di negara surga pajak, yakni Bermuda. Data-data tersebut terungkap dari data yang dimiliki oleh forma hukum offshore Appleby. Nama Sandi cukup sering muncul dalam kasus yang tidak jauh dari pencucian uang internasional.

Sandi juga pernah tersandung kasus penggelapan tanah milik Erward Suyadjaja di Jalan Curug, Tangerang pada tahun 2012. Ia sudah enam kali dilaporkan ke Polda terkait kasus penggelapan tanah dan selama masa itu dai sampai delapan kali memberikan keterangan terkait kasus penggelapan tanah.

Fransiska Kumalawati Susilo yang melaporkan Sandiaga dan Andreas ke polisi atas tuduhan telah melakukan penggelapan penjualan sebidang tanah di Jalan Raya Curug, Tangerang Selatan. Fransiskan mengatakan, pihaknya berupaya menyelesaikan masalah itu secara kekeluargaan bersama Andreas dan Sandiaga sejak Januari 2016. Namun, Andreas dan Sandiaga tak menanggapi baik upaya penyelesaian tersebut.

Setelah dilaporkan kasus penggelapan tanah, selanjutnya dilaporkan pemalsuan kwitansi, gerilyawan mencium jejak Sandiaga dalam kasus mangkraknya penjualan Bank Pundi ke Pemda Banten 2015 -- 2016 lalu yang berujung dicokoknya petinggi Pemda Banten oleh KPK. 

Berdasarkan penelusuran gerilyawan, terdapat fakta bahwa Bank Pundi adalah Bank Perkreditan yang sahamnya dimiliki oleh Recapital Securities sebesar 67.85%, Recapital adalah milik Sandiaga Uno, Roslan Rosani dan Elvin Ramli.

Bank Pundi dijual setahun sebelum Sandiaga Uno yang saat itu ingin sekali menjadi Gubernur DKI, namun apa daya hanya mampu untuk jadi Calon Wakil Gubernur saat itu. Bank Pundi dijual dalam keadaan kurang sehat dan beberapa kerugian.

Sebagai masyarakat yang cerdas, ada baiknya kita mempelajari sejarah dan latar belakang para calon pemimpin kita nanti. Agar kita tidak menyesal setelah memilihnya, jangan termakan janji -- janji masa kampanye, dan isu hoax yang beredar. Pelajari langsung fakta dan data yang ada, baru kemudian sebarkan dengan baik dan benar.

*Pemerhati Politik