Deddy Huang
Deddy Huang Blogger. Traveller. Freelancer.

I am a traveller, storyteller and blogger who loves different cultures and heritage. I love to share about all the magnificent and beautiful destinations in the world. Visit my travel blog at https://www.deddyhuang.com

Selanjutnya

Tutup

Ceritaramlan

Selamat Tinggal Ramadan, Kita Akan Berjumpa Lagi?

14 Juni 2018   20:00 Diperbarui: 14 Juni 2018   20:08 785 1 0

Malam sekitar pukul 11, sebuah mobil sedan berhenti di depan panti asuhan. Seorang pengurus yang sedang berbicara dengan saya harus berhenti sejenak menyambut seorang ibu yang ingin memberikan zakat.

Saya melemparkan senyum padanya, "Bayar zakat ya bu?" tanya saya membuka obrolan. Dia mengangguk pelan.

"Iya nanti takut anak panti kehabisan beras pula," jawabnya. Satu karung beras diangkut oleh anaknya. Saya tidak tahu apakah saat ini penyerahan zakat masih harus melakukan ijab qabul sebagai tanda zakat fitrah.

Persiapan Ramadan

Hari kemenangan telah tiba. Teman-teman muslim bilang kepada saya kalau makna menang artinya seseorang telah berhasil menahan diri selama satu bulan. Apa saja yang ditahan? Selain menahan lapar, haus, dan hawa nafsu ada juga menahan emosi selama 30 hari. Hingga akhirnya sampailah di hari yang fitri.

Menahan aroma masakan lebaran tentu saja menjadi tantangan berat. Sebut saja rebusan ketupat, opor ayam, sambal buncis, rendang dan lainnya. Hidangan khas lebaran sudah pasti ada apalagi bagi orang Palembang juga harus tersedia pempek dan turunannya.

Kebanyakan orang sudah mulai sibuk membersihkan rumah, membeli baju baru, mengisi toples dengan kue kering hingga amplop 'salam tempel'. Hari Raya Idul Fitri seringkali diisi dengan suka cita dan saling memaafkan.

Kembali ke Fitrah

Menjadi satu kebiasaan umat muslim di Indonesia saat lebaran yang saya simak. Momen yang sakral dan dinantikan seperti :

  1. Sholad Ied. Di Palembang ada tradisi sholat ied yang dilakukan di Masjid Agung Palembang. Nantinya seluruh umat akan memenuhi hingga ruas jalan ke Jembatan Ampera. Pemandangan seperti ini jarang sekali dilihat di kota-kota lain. Ada hikmah tersendiri saat mendengarkan khotbah imam besar di masjid mengenai makna idul fitri.
  2. Saling memaafkan di rumah keluarga yang dituakan. Tradisi ini masih ada sampai sekarang, bahkan di hari lebaran agama lain pun juga sama yaitu kita menghormati orang yang lebih tua.
  3. Open house atau sanjo. Dalam bahasa Palembang, sanjo menjadi kegiatan yang paling dinantikan. Biasanya akan beramai-ramai ke rumah kerabat untuk silahturahmi. Istilah sanjo ini sangat populer di segala lapis kalangan. Biasanya di tiap rumah akan menyuguhkan makanan enak untuk tamu. Jika kalian bertamu ke rumah orang Palembang, sudah pasti pempek adalah makanan yang paling dicari.
  4. Mengirim kartu lebaran. Dulu waktu masih di bangku SD saya senang sekali membeli kartu lebaran kemudian sebelum masuk liburan sekolah, kartu-kartu tersebut sudah saya berikan ke beberapa teman terdekat termasuk guru. Nantinya kartu ini akan dipajang di rumah masing-masing. Hanya saja sekarang saya sudah tidak tahu apakah tradisi ini masih dilakukan lagi. Zaman berubah makan orang pun mengirimkan ucapan lebaran menggunakan template dari tahun ke tahun.
  5. Pertanyaan kapan. Nah, entah kenapa lebaran juga menjadi momok yang menakutkan bagi para pejuang cinta. Belum punya pasangan, nanti akan ditanya kapan kawin? Setelah kawin ditanya lagi kapan punya anak. Please, hidup kita tidak ada yang tahu. Berhentilah menanyakan hal tersebut di hari raya sebelum seluruh isi makanan di rumahmu di makan habis.

Bulan Ramadan tinggal beberapa jam lagi akan pergi. Syawal sudah menanti kalian. Banyak orang berharap Ramadan tinggal lebih lama karena masih banyak yang harus diperbaikin. 

Namun, hemat saya bilang seharusnya sikap dan perilaku bukan berpatokan hanya karena Ramadan melainkan setiap saatpun juga harus intropeksi diri.

Baiklah, rasanya saya sudah tidak sabar ingin menulis ini.

Air tak selalu jernih

begitu juga ucapanku

Kapas tak selalu putih

begitu juga hatiku

Langit tak selalu biru

begitu juga hidupku

Jalan tak selalu lurus

begitu juga langkahku

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2